Yohanes Salib dan Jalaluddin Rumi, Menemukan Cahaya dari Kegelapan

News10 Views

Sleman. Biara Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD) St. Theresia Lisieux, Gadingan, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu dari enam lokasi penyelenggaraan Festival Rumi Day 2026 pada Sabtu, 26 September 2026.

Acara Dialog Interspiritualitas bertajuk “Yohanes Salib dan Jalaluddin Rumi: Cinta, Kehilangan dan Transformasi Diri” ini mengadirkan narasumber Rm. Remigius Todang, OCD, Afifah Ahmad (pendiri ngajirumi.com), dan Muh. Nur Jabir (Direktur Rumi Institute) dengan moderator Lisa Kurnia Sari (dosen Universitas Kristen Duta Wacana/UKDW).

Lisa menyebut acara ini unik karena menjadi ruang perjumpaan antara mistisisme Kristiani dan Islam. Ia berharap, acara ini dapat memperkaya pemahaman bersama tentang perjalanan spiritualitas manusia yang menyatukan perbedaan. “Di sini kita bertemu antara dua tradisi yang berbeda, namun kita berasal dari napas yang sama,” tuturnya.

Senada dengan Lisa, Rm. Remi memaparkan acara ini menghadirkan dua orang mistikus hebat, Jalaluddin Rumi dari Persia abad XIII dan St. Yohanes dari Salib dari Spanyol abad XVI.

Meski latar belakang iman keduanya berbeda, tetapi menurut Rm. Remi ada titik temunya, yakni napas. “Napas itu dari bahasa Arab, artinya roh serta udara yang kita hirup dan embuskan. Kita berasal dari rahim ibu yang berbeda, tapi kita semua datang di sini sebagai saudara. Saudara itu satu darah,” paparnya.

Rm. Remi pun menceritakan riwayat St. Yohanes dari Salib yang dalam sejarah hidupnya sebagai biarawan Karmel mengalami satu peristiwa kelam, yakni “dipenjara” dalam biara selama sembilan bulan.

“Di dalam kurungan itu dia justru mendapat banyak hal, ide, inspirasi, dan menghasilkan karya-karya besar, termasuk puisi,” ungkap Rm. Remi.

Empat karya terbesarnya yaitu Pendakian Gunung Karmel (Subida del Monte Carmelo), Malam Gelap (Noche Oscura), Kidung Rohanii (Cántico Espiritual), dan Nyala Cinta yang Hidup (Llama de Amor Viva).

Yohanes dari Salib dan Rumi sama-sama menemukan kegelapan tetapi justru mendapatkan cahaya dari kegelapan itu.

Dari empat karya ini, Yohanes ingin menggambarkan proses perjalanan rohani jiwanya yang juga menjadi proses perjalanan rohani orang-orang beriman.

Menurut Rm. Remi, Rumi dan Yohanes sama-sama penyair mistik yang memiliki pengalaman mistik atau perjumpaan personal dengan Tuhan. “Rumi bicara tentang penghilangan diri, sedangkan Yohanes dari Salib bicara tentang malam gelap. Penggerak keduanya sama, yaitu cinta,” simpul Rm. Remi.

Selanjutnya, Afifah menyatakan ada dua bentuk utama puisi karya Rumi, yaitu  Ghazal dan Masnawi. Ia pun menjelaskan, Rumi melihat cinta bukan hanya pengalaman emosional semata, tetapi sebuah proses menjadi dan menggerakkan.

“Proses yang menggerakkan ini punya daya perubahan. Tidak hanya sebuah perasaan emosional, tapi punya daya perubahan untuk orang lain,” tegas Afifah.

Ia menyebut, puisi-puisi Rumi lahir dari kegelisahan maupun kerinduan yang mendalam sehingga biasa dipakai untuk mengiringi tari-tarian spiritual karena ada ritme khusus. Karya-karya Rumi bukan sekadar kata-kata indari seorang penyair, tetapi berangkat dari pengalamannya mendapati Tuhan dalam dirinya.

Afifah lalu meceritakan motivasinya mendirikan situs ngajirumi.com datang dari orang dari pelosok yang ingin mempelajari Rumi tetapi terkendala jarak yang jauh.

Sementara itu, Nur Jabir meyakini puisi-puisi Yohanes dari Salib dan Rumi tentu melewati perjuangan yang luar biasa. “Kalau dalam tradisi sufi, mungkin disebut sebagai seorang pejalan rohani yang mencoba untuk mencari sesuatu dalam kegelapan batinnya,” lontarnya.

Yohanes dari Salib dan Rumi, sambung Nur, sama-sama menemukan kegelapan tetapi justru mendapatkan cahaya dari kegelapan itu. “Kita hanya menyangka kegelapan itu ada, tapi kegelapan itu tidak mungkin ada kalau tidak ada cahaya. Kegelapan itu hanya ada kalau cahaya itu ada,” ujar Nur seraya menambahkan, “Itulah keunggulan para pejalan, para sufi. Dia akan mendapatkan terang itu justru dari yang gelap ini.”

Meski Yohanes dari Salib dan Rumi berangkat dari dua tradisi dan bahasa yang berbeda, tetapi keduanya berasal dari pengalaman batin yang sama. “Kita belajar dari dua sufi besar ini, mereka punya pesan yang luar biasa,” tandas Nur mantap.

Willy Putranta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *