Yesus Memanggil Umat Kristen untuk Menjadi Satu

Pekan Doa Sedunia (PDS) di GKJ Sumberagung, Jetis, Bantul

News1346 Views

Bantul. Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sumberagung, Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Pekan Doa Sedunia (PDS) dengan tema “Satu Tubuh dan Satu Roh, Sebagaimana Kamu Telah Dipanggil kepada Satu Pengharapan yang Terkandung dalam Panggilanmu” (Ef. 4:4) pada Rabu, 21 Januari 2026.

Kegiatan tahunan ini selalu dikoordinasikan bersama pimpinan Gereja-Gereja yang berada di wilayah cakupan Paroki St. Yakobus Bantul. Tempat penyelenggaraan PDS senantiasa bergantian setiap tahunnya dengan dihadiri perwakilan umat masing-masing Gereja.

Setelah di Gereja Kristen Protestan, selanjutnya di Gereja Paroki St. Yakobus Bantul. Karena tahun 2026 diselenggarakan di Gereja Kristen, maka tahun depan di Gereja St. Yakobus Bantul.

Gereja-Gereja peserta Pekan Doa Sedunia di wilayah Paroki St. Yakobus Bantul yakni GKJ Pundong, GKJ Patalan, GKJ Madukismo, GKJ Jodhog, GKJ Sidomulyo, GKJ Bantul, GKJ Gunturgeni, GPdI Gesikan, dan Gereja St. Yakobus Bantul.

Di tengah-tengah seratusan umat dari masing-masing perwakilan Gereja, hadir Ketua Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK) Rm. Yohanes Iswahyudi, Pr yang ikut memimpin doa bersama.

Pdt. Saryanto, S.Th. selaku pimpinan GKJ Sumberagung sekaligus tuan rumah mengatakan, “Untuk tahun ini, doa dan renungan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen telah disiapkan oleh umat beriman Gereja Apostolik Armenia, bersama saudara-saudari mereka dari Gereja Katolik Armenia dan Gereja Evangelis.”

Mengenai tema yang diambil dari Efesus 4:4, lanjut Pdt. Saryanto, merangkum ajaran Paulus tentang kesatuan. “Ini juga menekankan bahwa para pengikut Kristus mewakili satu tubuh dan satu Roh, yang dipersatukan dalam satu pengharapan.”

Metafora ini menandakan Gereja sebagai entitas yang bersatu, melampaui batasan geografi, kebangsaan, etnis, dan tradisi. Paulus menggunakan metafora Gereja sebagai Tubuh Kristus untuk menggambarkan kesatuannya dengan keberagaman anggotanya.

Paulus menulis kepada jemaat Korintus, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Kor. 12:12).

Kepada jemaat Kolose, Paulus menguraikan peran Kristus sebagai kepala dari tubuh yang bersatu, yang terdiri dari beragam anggota, dengan menyatakan, “Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat” (Kol. 1:18).

“Dengan demikian, Gereja, meskipun terdiri dari banyak bagian, berfungsi sebagai suatu kesatuan yang kohesif. Setiap anggota memiliki peran yang unik dan berkontribusi pada keseluruhan kehidupan dan misi Gereja,” tegas Pdt. Saryanto.

Meski berasal dari Gereja yang berbeda-beda, tetapi memiliki semangat dasar yang sama untuk mengikuti Yesus.

Sementara itu, Pastor Paroki St. Yakobus Bantul Rm. Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr membuka homilinya dengan permainan dengan hitungan angka 1-9 yang dipilih salah satu, dikali 3, ditambah 3, dan dikalikan 3 lagi. Kemudian dua angka hasilnya dijumlahkan, maka semuanya pasti berjumlah 9 (sembilan).

“Ini menggambarkan bahwa kita berasal dari Gereja yang berbeda-beda, tetapi memiliki semangat dasar yang sama untuk mengikuti Yesus. Kita disatukan dalam ibadat PDS. Memang, menyatukan Gereja dari mana-mana kalau untuk PDS lebih susah daripada menyatukan dalam perayaan Natal bersama umat Kristiani” tutur Rm. Merdi.

Ia pun mengilustrasikan, dalam perayaan ibadat ekumene, tim panitia bingung menentukan lagu penutup. Ada yang mengusulkan lagu Taize, lagu pujian yang meriah, mazmur tanpa iringan, dan lain-lain.

“Panitia mewadahi semuanya dan dinyanyikan. Alhasil, waktunya tambah panjang. Dalam hal ini Roh Kudus menyatukan, terutama untuk belajar sabar dan setia, meski lapar atau bosan,” ujar Rm. Merdi.

Namun, Yesus memanggil umat Kristen untuk menjadi satu, seperti tampak dalam sabda-Nya, “Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh. 12:32). Artinya, Yesus tidak pilih kasih.

“Yesus tidak mengatakan, ‘Datanglah orang Katolik, datanglah orang Protestan, datanglah orang yang liturginya rapi, datanglah orang yang lagunya semarak. Tidak. Yesus menarik semua orang datang kepada-Nya,” refleksi Rm. Merdi.

Ia lantas mengajak umat untuk membayangkan anggota tubuh masing-masing. “Jika semua merasa bagianku adalah penting dan yang paling vital, maka hanya akan debat tak berkesudahan. Debat Gereja yang mungkin muncul adalah merasa diri paling benar dan menghakimi Gereja yang lain. Oleh karena itu, Yesus mempersatukan kita bukan atas dasar selera, tetapi menyatukan kita lewat salib,” paparnya.

Rm. Merdi pun berharap semua umat beriman Kristiani dari Gereja mana pun tetap berupaya menjadikan kesempatan PDS sebagai jalan untuk bersatu dalam Roh, bukan paksaan yang menyeragamkan.

PDS sebagai kesempatan membangun dialog kehidupan terarah kepada Yesus dan pada akhirnya PDS sebagai kesempatan bersatu dalam Roh.

Leonardus Sihadi Wasono Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *