Yogyakarta. Yayasan Duabelas Cahaya Kasih menyelenggarakan kegiatan Publikasi dan Promosi Sekolah dalam Digital Community pada Selasa, 11 Maret 2025 di Omaga Donuts ‘n Coffee Sutomo, Yogyakarta yang dihadiri sembilan kepala sekolah serta pengurus dari delapan taman kanak-kanak Katolik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka mendukung transformasi pendidikan melalui digitalisasi, publikasi, dan promosi sekolah melalui komunitas digital sebagai salah satu strategi efektif untuk meningkatkan visibilitas dan daya tarik sekolah bagi calon peserta didik serta masyarakat luas.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan wawasan dan strategi dalam memanfaatkan platform digital dan komunitas online maupun offline, guna memperkenalkan serta mempromosikan sekolah secara lebih luas dan efektif untuk bersama-sama mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.

Robertus Agung Prasetyo, Pembina Yayasan Duabelas Cahaya Kasih, menjelaskan kerja sama yayasan dengan sekolah sebagai mitra dalam kegiatan ini adalah upaya untuk membuka informasi seluas-luasnya untuk promosi sekolah.
“Harapannya sekolah-sekolah mitra tetap eksis menjadi pencetak anak-anak yang baik. Ada kekhawatiran, dalam jangka lima atau sepuluh tahun ke depan, sekolah Katolik tinggal kenangan, meski ada juga yang sustainable,” tutur Agung.
Kerja sama Yayasan Duabelas Cahaya Kasih ini akan melibatkan para mahasiswa yang hadir di sekolah-sekolah untuk memproduksi konten seperti foto, video, dan narasi untuk website dengan landing page sekolah masing-masing.
“Keunggulan sekolah harus disampaikan kepada khalayak dengan bentuk promosi yang smooth, alamiah, dan tidak menjelekkan pihak atau sekolah lain. Misalnya menunjukkan anak-anak bermain dengan baik tanpa berebutan,” sebut Agung.
Sementara itu Antonius Nindito Jati, Bendahara Yayasan Duabelas Cahaya Kasih yang piawai dalam pembuatan website mengatakan pada saat ini para orang tua (calon) siswa tidak perlu lagi datang langsung ke sekolah untuk mendapat informasi. Dengan demikian, setiap sekolah perlu mengembangkan dan mengelola website-nya secara konsisten.
“Membuat website dan mengelola media sosial sekolah itu mudah, yang susah itu maintenance-nya. Oleh karena itu, teman-teman mahasiswa akan membantu sekolah mitra untuk membuat konten,” ungkap pria yang akrab disapa Dito ini.
Selanjutnya, Henricus Yulianto Perdana selaku Ketua Yayasan Duabelas Cahaya Kasih menyebut dari delapan sekolah mitra yang hadir dalam pertemuan ini, ada tiga sekolah yang mempunyai website tetapi tidak aktif.
“Artinya, ada masalah di situ. Maka, kami berikan solusi dengan membuat website yang baru,” ucap Henricus. “Meski demikian, website yang lama tidak akan ditinggalkan. Dengan adanya website ini, sekolah-sekolah akan mudah ditemukan oleh masyarakat, terutama calon siswa.”
Menurutnya, makin banyak website yang dimiliki sekolah akan berdampak bagus, karena akan mendapat peringkat teratas di Google. Selain itu, ketika presentasi saat promosi sekolah, tidak perlu lagi bagi-bagi brosur, tetapi dengan memberikan alamat atau domain website sekolah.
“Misalnya promosi di gereja. Ada berapa umat di situ yang dalam waktu bersamaan bisa langsung membuka website sekolah?” tunjuknya.
Henricus pun berharap, program Yayasan Duabelas Cahaya Kasih ini tidak hanya dilaksanakan dengan mitra di tingkat TK, SD, SMP, atau SMK, tetapi juga SMK.
Yayasan Duabelas Cahaya Kasih adalah organisasi yang berfokus pada pengembangan pendidikan melalui pelatihan, seminar, penggalangan dana, dan pendampingan. Yayasan ini berkomitmen menciptakan generasi yang cakap, kreatif, mandiri, serta berkarakter humanis dan spiritual.
Bermitra dengan institusi pendidikan, UMKM, perusahaan, dan komunitas, Yayasan Duabelas Cahaya Kasih mendukung berbagai inisiatif edukasi, termasuk program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Selain itu, Yayasan Duabelas Cahaya Kasih aktif memanfaatkan platform digital untuk berbagi materi edukatif dan pelatihan bagi kaum muda. Melalui kolaborasi dan inovasi, yayasan ini berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membangun pendidikan yang lebih inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman.














