Sleman. Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman menjadi tuan rumah pelaksanaan acara penguatan dan pembinaan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Katolik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 15 Juli 2026 di Biara Para Suster Puteri-Puteri Yesus Kristus (PPYK) Kalikuning, Plunyon Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DIY.
Tema pembinaan adalah Implementasi Ekoteologi: “Berkebun Merawat Kehidupan” (Bdk. Kejadian 1:31).
Penyuluh agama Katolik Kantor Kemenag Kab. Sleman mengawali kegiatan dengan mengajak para penyuluh Katolik dari Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo untuk menaburkan benih sawi serta menanam bibit kangkung dan wortel di lahan pertanian Susteran PPYK.
Dalam acara pembinaan, Sangaji, S.Ag. (Kasubag Kantor Kemenag Kabupaten Sleman) mewakili Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Terkait kutipan dari Kitab Kejadian 1:31, dalam agama Islam juga terdapat kutipan yang senada, ‘Tak ada ciptaan yang sia-sia.’ Ekoteologi menjadi paham dan praktik yang sangat bermanfaat. Barangkali kita kerap kali memandang kebesaran Allah hanya untuk kepentingan kita. Bisa jadi, hujan bisa menjadi berkat bagi petani, tetapi bagi orang yang sedang mempunyai hajat menjadi tantangan,” tutur Sangaji.
Terkait moderasi beragama, ia mengatakan, “Indikator kehadiran kita diterima oleh masyarakat majemuk ditentukan sikap kita. Pertama, toleransi pasif ketika umat lain menjalankan kewajiban agama atau ibadah tetapi kita merasa luweh (pasrah atau masa bodoh/cuek). Kedua, toleransi aktif, yakni ikut berpartisipasi memberikan jaminan keamanan kepada sesama yang berbeda agama untuk menjalankan ibadah sesuai ajarannya. Tentu saja, sikap toleransi aktif ini menjadi tugas kita bersama. Kita perlu berjuang bersama terkait toleransi yang aktif.”

Sementara itu, Sr. Ellis PPYK menyampaikan rasa syukur bahwa sejak tahun 1995, masyarakat setempat menyambut kehadiran komunutas Suster PPYK. “Masyarakat menerima dan banyak pihak membantu kami,” ungkap Sr. Ellis.
Ia pun memperkenalkan karya para Suster PPYK, antara lain menanam aneka sayuran organik untuk ketahanan pangan, memanfaatkan aneka tanaman untuk pembuatan jamu, aneka minuman kesehatan baik cair maupun bubuk, membuat kompos dan ekoenzim.
Menurut Sr. Ellis, gerakan yang dilakukan tidak lain merupakan cara mewujudkan semangat Laudato Si’.
Kegiatan diakhiri dengan penjelasan para Suster PPYK tentang cara membuat jamu dari hasil tanaman yang dibudidayakan dari kebun sekaligus display produk olahan yang sudah memiliki PIRT dan label halal.
Yoseph Agus Seno, Penyuluh Agama Katolik Sleman, mengucapkan terima kasih karena Sleman dipercaya merancang dan melaksanakan kegiatan ini. “Lebih dari itu, acara ini juga menjadi perwujudan dan pengembangan ekotelogi yang diprogramkan Kementerian Agama RI, sebagaimana juga telah diterapkan dalam program inovasi Kankemenag Kabupaten Sleman melalui program CAPING atau Calon Pengantin Peduli Lingkungan,” pungkasnya.














