Harmoni Lintas Iman di Nangalilis Keuskupan Labuan Bajo

News847 Views

Manggarai Barat. Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr.Maksimus Regus, melaksanakan kunjungan pastoral ke Stasi St. Markus Nangalili  Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Kecamatan Lembor pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Dalam kunjungannya, Mgr Maksimus Regus didampingi sejumlah imam seperti RD. Frans Nala, RD. Carles Suwendi, RD. Yuvens Rugi, RD. Martin William, dan RD. Silvi Mongko.

Kehadiran Uskup bersama rombongan disambut antusias oleh umat di empat titik penerimaan, yakni wilayah Cambir Bendera, Palis, Golo Jong, dan Aula Komunitas Susteran CIJ Nangalili. Setiap titik yang dikunjungi disambut seremoni adat yang sarat makna, mulai dari pengalungan tenun khas Manggarai, perarakan dengan sanda, penampilan marching band, hingga giring-giringan
pasukan berkuda dan berbagai kendaraan hias yang mengiringi rombongan.

Suasana sukacita terasa kental dalam kunjungan ini. Hal yang menarik dalam penyambutan ini tidak hanya dihadiri umat Katolik saja, tetapi juga tak sedikit Umat Muslim setempat. Kehadiran mereka menjadi saksi nyata persaudaraan lintas agama di Lembor terjalin erat dalam semangat gotong royong dan kebersamaan.

Mgr. Regus menerima sambutan kehormatan pemakaian peci khas Manggarai oleh umat Muslim. (Foto: Vinsensius Patno).

Kebersamaan ini menjadi sebuah momentum simbol harmoni sosial yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Di tengah perbedaan keyakinan, warga tetap berdiri bersama dalam semangat saling menghormati dan mendukung. Kebersamaan itu menghadirkan pesan kuat bahwa iman tidak menjadi sekat, melainkan jembatan yang memperkaya kehidupan sosial dan mempererat persaudaraan kemanusiaan.

Rangkaian kunjungan pastoral dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi di Kapela Stasi Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Nangalili. Perayaan berlangsung secara khusyuk dan penuh penghayatan. Ekaristi dihadiri umat yang memadati kapela. Dalam homilinya pada Minggu Prapaskah II, Uskup Maksimus Regus menekankan makna spiritual dan sosial masa tobat tahun ini.

“Kita sekarang sudah masuk Minggu Prapaskah yang kedua, masa puasa. Uniknya, tahun ini waktu puasa kita hampir bersamaan dengan saudara kita umat Muslim. Karena itu, Bulan ini benar-benar menjadi bulan spiritual, bulan rohani, tetapi juga bulan sosial, bulan perjumpaan, dan bulan kemanusiaan,” jelas Mgr. Regus.

Mgr. Maximus Regus berfoto bersama dengan umat sesuai Perayaan Ekaristi di Stasi St. Markus Nangalili, Paroki Santa Familia Wae Nakeng. (Foto: Vinsesiun Patno).

Lebih lanjut Mgr. Regus mengajak umat memaknai Prapaskah bukan sekadar praktik keagamaan. Uskup juga menekankan untuk memperdalam memperdalam solidaritas, memperkuat kepedulian sosial, serta membangun relasi yang harmonis di tengah masyarakat majemuk.

Kunjungan pastoral Mgr. Regus ini sekaligus menjadi jawaban atas kerinduan umat Stasi Nangalili akan kehadiran gembala mereka. Dalam kesempatan tersebut, Uskup juga menegaskan komitmen Keuskupan dalam mempersiapkan rencana pemekaran paroki sebagai bagian dari pengembangan pelayanan pastoral. Menurutnya, pertumbuhan umat dan dinamika pelayanan menuntut langkah strategis agar pelayanan Gereja semakin efektif dan menjangkau seluruh umat secara lebih dekat.

“Persiapan pemekaran paroki bukan sekadar langkah administratif, melainkan bagian dari visi pastoral untuk menghadirkan Gereja yang lebih hidup, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan umat,” jelasMgr. Regus.

Kunjungan pasoral Mgr. Regus di Labuhan Bajo ini mendapat sambutan hangat dari berbagai lapisan masyarakat yang penuh sukacita. Maka hal ini tentu menjadi semangat yang menguatkan iman, persaudaraan lintas agama, dan harapan baru bagi perkembangan Gereja di wilayah Lembor.

Vincentius Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *