Tegakkan Keadilan Melalui Cinta dan Persaudaraan

Pelita484 Views

Dunia saat ini berada di tengah arus globalisasi dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks, sehingga setiap orang, baik diri sendiri mupun bersama keluarga, berusaha keras untuk bertahan dan menata kehidupannya.

Seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti no. 128, “Keadilan dan perdamaian tidak akan tercapai tanpa pengakuan bahwa semua manusia adalah saudara.” Pernyataan tersebut mengingatkan kita bahwa keadilan tidak mungkin dipisahkan dari persaudaraan.

Seruan ini mengajak kita untuk meninjau kembali kebijakan ekonomi dan sosial agar tidak hanya dipandang sebagai angka dan data, tetapi sebagai realitas hidup manusia yang setiap hari merasakan dampak ketidakadilan.

Di Indonesia, ketimpangan sosial masih terjadi persoalan nyata. Data koefisien Gini menunjukan angka antara 0,379–0,388 pada periode 2023–2024, dan pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,375. Angka tersebut menandakan kesenjangan ekonomi belum sepenuhnya teratasi dan perlu diatasi melalui kebijakan yang adil serta berpihak pada kesejahteraan bersama.

Selain itu, tingkat kemiskinan nasional pada tahun 2024 masih tercatat sekitar 9%. Data ini menunjukan pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat kecil. Data ini mengingatkan kita bahwa kemajuan ekonomi harus selalu diukur dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh mereka yang paling lemah dan rentan.

Salah satu tantangan besar dalam kehidupan sosial Indonesia adalah tingginya jumlah pekerja di sektor informal. Banyak dari mereka bekerja tanpa perlindungan sosial yang memadai sehingga rentan kehilangan penghasilan, akses terhadap layanan kesehatan, dan kepastian kerja.

Situasi ini mencerminkan apa yang dikritik oleh Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti (no. 92), bahwa kasih sejati menuntun kita untuk keluar dari kepentingan diri sendiri dan mengenali martabat setiap manusia.

Dalam terang iman Gereja, perjuangan untuk memberikan upah layak dan perlindungan hukum bagi pekerja bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bentuk konkret dari panggilan untuk menegakkan keadilan melalui cinta dan persaudaraan.

Masalah keadilan juga tampak dalam isu lingkungan hidup. Contohnya, kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan memperburuk kemiskinan, terutama bagi komunitas adat yang hidupnya bergantung pada alam.

Gereja menegaskan bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis saling berkaitan; manusia tidak bisa mencintai sesama tanpa menghormati ciptaan Allah. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan harus berorientasi pada kesejahteraan bersama, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.

Fratelli Tutti mengajak umat beriman untuk menghubungkan ajaran sosial Gereja dengan kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya, dalam dialog imajiner antara seorang buruh dan imam paroki, keluhan tentang upah yang tidak adil dijawab dengan semangat persaudaraan bahwa setiap pekerja adalah saudara yang memiliki martabat dan hak yang harus dihormati sebagai manusia.

Iman sejati tidak hanya diucapkan lewat kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata seperti memperjuangkan upah yang layak, saling membantu dalam komunitas, dan mendorong Gereja agar terlibat dalam kebijakan publik yang adil dan manusiawi.

Dalam konteks kebijakan ekonomi nasional, data menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan, melemahnya kelas menengah, serta rendahnya kualitas lapangan kerja menjadi tanda perlunya perubahan sistem yang lebih adil. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa ekonomi tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi harus menjadi sarana untuk memanusiakan setiap orang, membangun solidaritas dan menjamin kesejahteraan bersama.

Gereja melalui pelayanan pastoral dipanggil untuk menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai pihak, seperti buruh, akademisi, dan pemerintah dalam semangat “budaya perjumpaan” yang diajarkan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti no. 8. Melalui program paroki, Gereja dapat mendampingi keluarga pekerja, memperhatikan kebutuhan gizi anak-anak, serta memperjuangkan kebijakan sosial yang adil merupakan wujud nyata cinta kasih yang menegakkan keadilan.

Dengan demikian, menegakkan keadilan melalui cinta dan persaudaraan bukanlah cita-cita yang mustahil. Data sosial menunjukkan penderitaan manusia masih terjadi. Ajaran Sosial Gereja, mulai dari Rerum Novarum karya Paus Leo XIII hingga Fratelli Tutti karya Paus Fransiskus, memberikan arah moral yang menuntun umat beriman dalam bertindak. Tindakan nyata di tengah masyarakat menjadi tanda harapan bagi dunia yang lebih manusiawi.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa cinta yang diwujudkan dalam solidaritas merupakan jembatan menuju dunia yang lebih adil, tempat setiap orang diakui sebagai saudara, dan keadilan lahir dari kasih yang bersumber pada iman.

Maria Ana Liwun 
Mahasiswa STKIP Widya Yuwana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *