Puncta 13 November 2025
Kamis Biasa XXXIII
Lukas 17:20-25
KALAU seorang raja wafat, misalnya yang terjadi dengan Kraton Kasunanan Surakarta, pasti sudah bisa diduga bahwa putera mahkota atau keturunannyalah yang akan meneruskan tahta kerajaan.
Tahta kerajaan akan turun ke putera mahkota sebagai ahli waris kerajaan. Kecuali kalau ada kudeta atau rebutan tahta yang mengakibatkan tahta bisa jatuh ke tangan orang lain.
Namun tidak demikian dengan datangnya Kerajaan Allah. Ketika orang-orang bertanya kepada Yesus kapan dan bagaimana Kerajaan Allah hadir, Yesus menjelaskan bahwa Kerajaan Allah bukan soal tempat, waktu atau bangunan fisik yang nampak.
“Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu,” demikian kata Yesus.
Kerajaan Allah adalah kondisi atau suasana Allah yang meraja di hati setiap manusia. Allah yang meraja atau hadir itu nampak dalam suasana batin seseorang. Jika Roh Allah itu hadir maka disitulah Kerajaan-Nya terwujud secara nyata,
Allah hadir dalam diri manusia yang membawa damai, kasih, pengampunan, kerukunan, kejujuran, sejahtera bagi semua orang. Dengan demikian setiap orang diundang untuk bisa menghadirkan Kerajaan Allah.
Dengan tindakan-tindakan sederhana yang membawa damai dan kerukunan, kasih dan kegembiraan, kita mampu menghadirkan Kerajaan Allah.
Ibu yang mendidik anaknya dengan baik, ayah yang bertanggungjawab, anak yang belajar dengan tekun, bisa menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah.
Seperti Anak Manusia yang menderita demikian juga Allah hadir melalui pengorbanan dan penolakan. Kasih dan pengorbanan sebagaimana yang dilakukan Kristus menjadi tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah.
Mari kita meneladan Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk mengorbankan Diri bagi kebahagiaan dan keselamatan kita.
Kerajaan Allah tidak datang dengan tanda-tanda hebat, tetapi justru nampak dalam kesederhanaan dan kerendahan hati.
Pergi ke Kopeng lewat Salatiga,
Di Rawa Pening ada Bukit Cinta.
Dengan cinta tulus dan sederhana,
KerajaanNya hadir di tengah kita.
Wonogiri, lihat tanda-tandanya Rm. A. Joko Purwanto, Pr








