Sebongkah Curahan Hati Seorang Ayah

Bedah Buku Seri Café Nurani dan Buku “Nak, Ayah Merindukanmu”

News1218 Views

Yogyakarta. Penerbit Percetakan PT Pohon Cahaya mengadakan acara bedah buku Seri Café Nurani dan buku Nak, Ayah Merindukanmu melalui platform Zoom pada Selasa, 12 November 2025. Acara bedah buku ini diselenggarakan untuk merayakan Hari Ayah Nasional.

Acara bedah buku ini menghadirkan Rm. Martinus Joko Lelono, Pr dan Yuvensius Sasongko Iswandaru selaku penulis buku, serta Lucia Indarwati sebagai editor buku.

Dibuka dengan penayangan karya yang akan dibedah, Lucia menyampaikan bahwa penamaan Café Nurani dimaksudkan agar buku ini dapat dinikmati dalam suasana santai.

“Dinamakan Café Nurani agar dapat dinikmati dengan secangkir kopi sambil merenungi hidup,” tutur Lucia.

Ia menekankan kisah dan refleksi yang diangkat dalam seri ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga dapat membuat pembaca merasa dekat dengan setiap pengalaman yang dituturkan.

Lucia melanjutkan, buku Nak, Ayah Merindukanmu membuka mata anak-anak di Indonesia yang terkadang tidak memiliki hubungan keterdekatan dengan ayahnya.

“Buku ini membuka mata anak-anak di seluruh penjuru Indonesia yang sering tidak memiliki keterdekatan dengan ayahnya bahwa sesungguhnya ayah sungguh mencintai anak-anaknya dengan cara yang sering tidak dipahami oleh anak-anak,” ujar Lucia.

Buku Seri Café Nurani adalah sebuah perjalanan untuk semakin bisa mengakses Tuhan dalam konteks tertentu.

Sasongko, yang juga General Manager PT Pohon Cahaya, menjelaskan bahwa Hari Ayah Nasional bukanlah sekadar perayaan, tetapi wujud nyata panggilan untuk melihat kembali cinta seorang ayah yang sering tidak terucapkan. Ia juga menuturkan, buku Nak, Ayah Merindukanmu ditulis dari ruang batin yang tenang dan penuh kerinduan yang jarang diungkapkan seorang ayah.

“Setiap manusia membawa kerinduan dalam dirinya. Ada kerinduan yang sederhana dan ada pula kerinduan yang begitu dalam hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kadang-kadang di balik wajah yang tegar, langkah yang tampak kukuh, seorang ayah menyimpan kerinduan yang besar. Kerinduan untuk dicintai, disayangi, dirangkul oleh anak-anaknya,” ucap Sasongko.

Sasongko menyatakan, buku yang ditulisnya bukan sekadar refleksi atau renungan, tetapi perjalanan emosional seorang ayah kepada anak-anaknya.

“Di dalam buku ini akan ditemukan perjuangan seorang ayah yang tidak kenal lelah, doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, kasih yang terbungkus dalam bentuk teguran, yang akan baru dimengerti di kemudian hari,” ujar Sasongko.

Ia menuturkan, buku ini ditujukan bukan hanya untuk para ayah, tetapi juga bagi anak-anak sebagai bentuk cerminan kasih sayang seorang ayah yang tersembunyi di balik diam.

Sementara itu, Rm. Joko menulis buku Seri Café Nurani yang berjumlah enam buku, di antaranya Menyembuhkan Diri Sendiri, Menjadi yang Pertama Mencinta, Memutus Belenggu Pembelaan Diri, Para Pencipta Surga, Mensyukuri Mukjizat Waktu, dan Ada Tempat untuk Hati.

Rm. Joko menyatakan bahwa manusia dengan Tuhan memiliki relasi karena perjumpaan dalam pengalaman hidup yang jatuh bangun. Ia melanjutkan bahwa renungan atas relasi manusia dengan Tuhan dan perjalanan untuk dapat dekat dengan Tuhan itu ditulis dalam buku-bukunya.

Buku “Nak, Ayah Merindukanmu” membuka mata anak-anak di Indonesia yang terkadang tidak memiliki hubungan keterdekatan dengan ayahnya.

“Buku ini adalah sebuah perjalanan untuk semakin bisa mengakses Tuhan dalam konteks tertentu,” tutur Rm. Joko.

Rm. Joko mengambil cerita Santa Theresia dari Avila yang menggambarkan kehidupan rohani sebagai taman yang perlu dirawat dan hanya dapat hidup, jika disiram air atau lambang rahmat Allah. Lebih lanjut, ia berharap bahwa buku yang ditulisnya mampu memberikan kemudahan akses manusia terhadap Tuhan.

“Ia menjelaskan empat cara menyirami tanaman jiwa yang menggambarkan tahap-tahap doa dan dapat menjadi gambaran dari buku-buku ini agar harapannya kita memiliki kedekatan atau akses yang lebih mudah kepada Bapa,” jelas Rm. Joko.

Empat tahapan yang dimaksud adalah mengambil air di dalam sumur, mengambil air dengan kerekan, air mengalir dari sungai, air turun seperti hujan. Masing-masing tahapan tersebut menggambarkan rahmat Allah yang terkadang masih perlu diusahakan agar mendapatkannya dan terkadang juga tidak perlu usaha untuk mendapatkan rahmat tersebut.

Rm. Joko juga menjelaskan gambaran bukunya secara singkat. Buku pertama, Menyembuhkan Diri Sendiri, berisi ajakan untuk merekonsiliasi diri dan menyadari kesalahan tanpa menyalahkan diri sendiri. Buku kedua, Menjadi yang Pertama Mencinta, berisi ajakan kepada diri untuk memulai mencintai Kristus melalui hati nurani, bukan karena orang lain.

Buku ketiga, Memutus Belenggu Pembelaan Diri, mengajak manusia untuk mengakui kesalahan diri kepada Tuhan dan upaya untuk membebaskan diri dari kesalahan tersebut. Buku keempat, Para Pencipta Surga, berisi pengalaman-pengalaman baik setelah mampu melampaui diri untuk menciptakan surga.

Buku kelima, Mensyukuri Mukjizat Waktu, berisi gambaran bahwa waktu yang dimiliki manusia adalah kesempatan untuk menuai perbuatan baik. Buku keenam, Ada Tempat untuk Hati, menggambarkan kedekatan dengan Tuhan makin dapat dirasakan berkat menyadari kesalahan diri dan bertobat, berbuat baik terhadap sesama, dan menggunakan waktu untuk berbuat baik.

Dionisius Damastya & Henrikus Bima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *