Sleman. Dalam penyerahan siswa baru tahun ajaran 2025/2026, Sabtu, 12 Juli 2025, Rm. Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ selaku Rektor SMA Kolese De Britto Yogyakarta menyampaikan bahwa Yayasan sebagai pengelola ingin sekali semangat Ignasian tetap Ignasian di sekolah ini.
Jesuit sebagai pemilik De Britto, lewat Rm. Pitoyo, menyampaikan di hadapan para orang tua bahwa sebagai sekolah Jesuit harus: pertama, banyak berdoa, karena ini sekolah Katolik yang menghargai seluruh iman dan kepercayaan supaya para siswa bukan hanya diserahkan kepada De Britto tetapi juga dijaga dan dididik oleh Tuhan dan pendidik utama adalah Tuhan sendiri.
Kedua, komunikasi harus lancar dan baik, jika ada isu harus segera diselesaikan dengan baik, jangan sampai menimbulkan luka.
Ketiga, gunakan kesempatan ini baik-baik (bersekolah di De Britto) karena masuk ke De Britto tidak mudah, para alumni De Britto sudah menjadi cermin De Britto, para alumni selalu mengingat apa yang mereka sudah dapatkan di De Britto (nakal itu boleh, tetapi nakal yang teratur, nakal yang ada arahnya, bukan nakal sembarangan, bukan keluar jalur.)
“Saya percaya ruang itu akan membentuk orang. Maka, saya ingin sekolah ini bisa menjadi ruang belajar yang nyaman dan aman untuk pendidikan,” harap Rm. Pitoyo.
Pada tahun ajaran baru 2025/2026 ini, dari sejumlah 322 siswa kelas X SMA Kolese De Brito Yogyakarta, siswa yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berjumlah 169 siswa. Selebihnya siswa berasal dari seluruh Indonesia. Hal ini dikemukakan Kepala SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Robertus Arifin Nugroho, pada saat acara penyerahan secara simbolik, siswa baru dari orang tua siswa kepada pihak sekolah, di aula sekolah.
“SMA Kolese De Brito mencakup seluruh Indonesia, yang bisa dikatakan miniatur Indonesia atau Indonesia mini,” kata Arifin.
Jumlah calon peserta didik yang mendaftar sebanyak 760 dan seleksi penerimaan siswa baru dilaksanakan di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Makassar untuk Indonesia Timur, Palembang untuk Indonesia Barat.

Siswa baru yang mengikuti proses seleksi dan diterima berjumlah 322, yang berasal dari 22 provinsi dan 84 kabupaten, dari 274 SMP negeri dan swasta dari seluruh penjuru Indonesia.
Menurut Arifin, pendidikan yang ditawarkan adalah mendidik siswa menjadi manusia pengabdi yang Pancasilais dengan menyeimbangkan antara olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak. Sekolah memberi siswa kebebasan, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Sebab, kebebasan yang absolut akan mengganggu kebebasan orang lain.
Kebebasan dimaksud untuk mengasah potensi siswa. Oleh karena itu, guru akan melakukan pendampingan secara personal. Saat ini SMA Kolese De Brito mempunyai 916 siswa dengan 61 orang guru dan 29 orang karyawan yang menjadi formator dalam mendidik para siswa tersebut.
Agnes Nur Sukapti, wakil dari orang tua siswa baru yang sekaligus juga Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, saat penyerahan secara simbolik menyatakan percaya bahwa SMA Kolese De Brito Yogyakarta akan mendidik siswa bukan hanya dalam bidang akademis tetapi juga karakter. Para siswa itulah yang kelak akan duduk pada masa generasi emas.
Nur juga mengulang dan mengamini apa yang disampaikan oleh Romo Rektor, terkait bahwa SMA Kolese De Brito Yogyakarta adalah sekolah Jesuit dengan semangat Jesuit yang selalu mendidik para siswa untuk berkembang secara utuh sesuai potensi dan bakat yang dimiliki.
Usai acara penyerahan siswa baru, dilanjutkan talkshow dengan narasumber orang tua kelas XI diwakili Thomas Bambang Pamungkas.
“Jangan khawatir kamu sekolah di Jogja,” ucapnya.
Menurutnya, pamong di SMA Kolese De Brito Yogyakarta sangat komunikatif. “Komunikasi sangat terjalin dengan baik sehingga saya tidak pernah khawatir menyekolahkan anak saya di sini. Para romo sangat care dalam menemani anak-anak, bahkan tidak ada sekat. Orang tua sangat kompak. Dinamika yang ada di De Britto, banyak anak yang berproses. Anak saya aktif di kegiatan, bahkan berani menjadi MC,” ceritanya.

Kemudian, Agnes Dhiany Indria Sari, perwakilan orang tua siswa kelas XII menyampaikan, sempat ada keraguan terhadap kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran di SMA Kolese De Brito Yogyakarta.
“Ternyata setelah berproses dari awalnya pendiam, dia sekarang lebih banyak bercerita dan berdiskusi dengan orang tua, bisa berpikir kritis dan mengkritisi dengan dasar yang jelas. Sekolah bisa menanamkan kedisiplinan, mandiri, dan tanggung jawab terhadap anak kami,” ungkap Agnes.
Selanjutnya, Daniel Oscar Baskoro sebagai perwakilan alumni menyampaikan, alumni De Britto 2010 (masuk 2007). Pertama kali kerja hanya berbekal ijazah SMA De Britto (karena belum lulus kuliah masih skripsi). Menurutnya, pentingnya pendidikan De Britto antara lain keberanian untuk mencoba.
Contoh nyata yang dilakukan dan baru-baru ini sempat trending topic, ada keluarga yang anaknya dibabtis di Vatikan. Dimulai dengan mengirim surat ke Vatikan untuk membaptis anaknya dan ternyata mendapat balasan hingga akhirnya terlaksana. “Ya, saya ini (orangnya),” aku Daniel.
Ia mengaku, nilainya pas-pasan. “Karena kalau cuma pintar itu banyak. Tapi kalau pintar dan banyak pengalaman itu jarang. De Britto bukan hanya nilai rapor, tetapi bagaimana karakter siswa dibentuk, menjadi punya kepercayaan diri, karakter, kemandirian, mudah bergaul bersosialisasi, punya empati yang ingin dibangun. Tidak takut, tidak malu, tidak malas,” katanya.
Pada saat talkshow orang tua, siswa kelas X berkumpul di ruang futsal untuk mendapatkan penjelasan terkait Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dilaksanakan Senin – Jumat, 14 – 18 Juli 2025 yang dibagi dalam dua sesi pagi dan siang.
Sesi pagi berisi informasi tentang persekolahan terkait pengajaran dan pengetahuan, sedangkan siang berisi tentang formasi terkait pembentukan diri, sikap, perilaku, dan akhirnya dari proses yang dilalui pagi dan siang tersebut akan terjadi transformasi pembaharuan hidup, pertobatan, serta perubahan menuju komitmen yang berdasarkan semangat ke-De Britto-an dan Ignatian.
Inilah tujuan dan harapan MPLS siswa baru SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun ajaran 2025/2026 dengan tema “Tangguh dan Kolaboratif”.








