Satu Frekuensi dan Satu Kualitas untuk Hindari Toxic Relationship

Sarasehan Relasi Sehat pada Orang Muda di Pusat Pastoral Mahasiswa Yogyakarta

News1569 Views

Yogyakarta. Hubungan tidak sehat atau yang lebih dikenal dengan toxic relationship menjadi permasalahan yang sering kali ditemui oleh anak zaman sekarang. Banyak anak muda saat ini yang mengenal toxic relationship sebagai hubungan yang tidak sehat antara sepasang kekasih.

Padahal kenyataannya, hubungan tidak sehat tidak hanya terbatas pada hubungan percintaan, melainkan dapat terjadi juga pada hubungan individu dengan individu, hubungan dengan saudara, hubungan dengan teman, bahkan hubungan dengan orang tua.

Sarasehan Relasi Sehat pada Orang Muda dilaksanakan Sabtu pagi, 16 November 2024. Kegiatan ini mengundang dua narasumber yang merupakan dosen dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta dan berlangsung di Pusat Pastoral Mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta (PPMDIY), Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 54, Klitren, Gondokusuman, Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi dengan USD dalam rangkaian dies natalis ke-69 yang mengusung tema “Usaha Bersama Merawat Semesta”.

Caecilia Tutyandari, Ketua Pelaksana Dies Natalis USD, mengatakan, “Ketika berbicara mengenai semesta itu tidak hanya berbicara mengenai tumbuhan dan lingkungan hidup, tetapi berbicara mengenai makhluk hidup yang dikasihi oleh Tuhan karena manusia merupakan salah satu anggota semesta tersebut.” Ia beranggapan, tema dari kegiatan sarasehan ini selaras dengan kegiatan dies natalis USD.

Sementara sarasehan ini mengangkat tema “Membangun dan Merawat Relasi Sehat dengan Sesama dan Ciptaan di Kalangan Kaum Muda Katolik”

Dalam kelompok, hadirin diminta menggambarkan aksi yang akan dilakukan di paroki masing-masing.

Bernadeta Wiska Pramestia, ketua pelaksana sarasehan menyambut kaum muda yang hadir, “Selamat datang dan semoga ilmu yang didapat berguna untuk teman-teman semua.”

Lebih lanjut, Rm. Agustinus Daryanto, SJ sebagai Ketua dan Penanggung Jawab PPMDIY mengatakan kegiatan sarasehan ini dilakukan rutin setiap bulan. Tak lupa, ia juga menyambut anak muda yang hadir dalam kegiatan sarasehan. “Selamat menikmati serangkaian acara ini. Apa yang kita lakukan terhadap sesama memengaruhi juga antara kita dan sesama. Semoga teman-teman mendapatkan sesuatu juga untuk dibawa pulang,” ujarnya.

Sarasehan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan kesehatan mental serta membangun kesadaran agar mendapatkan pemahaman tentang diri sendiri, orang lain dan tentang pengalaman hidup. Secara umum kegiatan ini ditujukan kepada mahasiswa dan juga terbuka untuk pelajar SMA, SMK, dan Orang Muda Katolik (OMK).

Narasumber pertama, Cornelius Siswa Widyatmoko, dosen Psikologi USD, banyak berbicara mengenai toxic relationship. “Ibarat pemilik bisnis pinjol, ia meminjamkan sesuatu agar mendapatkan keuntungan lebih banyak dari barang yang ia pinjamkan” tuturnya mengibaratkan toxic relationship dalam kehidupan nyata.

Ia juga memberikan tip kepada anak muda agar terhindar dari hubungan yang tidak sehat. “Meningkatkan kualitas diri. Kalau kita jelek tapi dapat pasangan bagus, ini nggak akan bertahan lama. Tapi harus satu frekuensi atau satu kualitas,” sebutnya.

Lebih lanjut ia juga menuturkan, “Hubungan dalam relasi antardua belah pihak harus setara atau win-win solution. Kita harus punya standar ibarat anak muda green flag atau red flag. Dengan ini, kita akan terhindar dari toxic relationship.”

Setelahnya, narasumber kedua Hendra Michael Aquan, dosen Pendidikan Biologi USD, menghubungkan toxic relationship dengan kerusakan lingkungan. “Toxic relationship menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kehidupan ciptaan (manusia). Setujukah Anda dengan pendapat ini?” ujarnya saat membuka sesi kedua. Setelah mengatakan demikian, banyak kaum muda yang sependapat dengan kalimat tersebut.

Hendra menuturkan bahwa manusia sangat bergantung dengan alam seperti dalam hal mendapatkan makanan. “Ketika kita memiliki relasi yang baik, maka kebutuhan kita akan tercukupi jika kita tahu cara berelasi dengan alam,” paparnya saat mengajak kaum muda untuk tetap berelasi baik dengan alam.

Setelah sesi pemaparan narasumber selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Kelompok dibagi berdasarkan asal paroki masing-masing. Dalam kelompok, hadirin diminta untuk menggambarkan aksi yang akan dilakukan di paroki masing-masing.

Pada akhir sarasehan, kelompok tidak memaparkan hasil diskusinya secara langsung. Namun, Hendra bertanya mengenai aksi kepada setiap kelompok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *