Bantul. Bertepatan dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus, Raja Alam Semesta, Lingkungan St. Matias Paroki St. Yakobus Bantul, D.I. Yogyakarta menyelenggarakan rekoleksi keluarga di Waroeng Omah Sawah, Miri, Timbulharjo, Sewon, Bantul pada Minggu, 26 November 2023.
Rekoleksi bertema “Menghadirkan Keluarga Kudus Nazaret di Lingkungan Santo Matias dengan Peningkatan Iman dan Takwa” ini diikuti sekitar 150 umat lingkungan, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.
Hadir sebagai narasumber Rm. Augustinus Toto Supriyanto, Pr (Vikaris Paroki St. Yakobus Bantul) dan Rm. Martinus Suharyanto, Pr (Pastor Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Kulon Progo).
Petrus Lanjar Wijiyono, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul, menjelaskan kegiatan ini terselenggara atas kerja sama anggota DPRD Kabupaten Bantul dan Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kesejahteraan Rakyat (Kesra).

“Jadi, biayanya bukan dari saya pribadi, tetapi dari Pemerintah Kabupaten Bantul. Nama acara ini adalah peningkatan iman dan takwa, yang baru bisa ada tahun 2016, dua tahun setelah saya menjabat,” tegas Lanjar.
Lanjar mengatakan umat Katolik di Kabupaten Bantul patut bersyukur karena diperlakukan sama oleh negara. “Meskipun kita minoritas, tapi kita punya hak yang sama,” imbuhnya.
Ia pun mohon doa restu dan dukungan terkait rencana DPRD Kabupaten Bantul yang ingin membahas kegiatan kerohanian umat Katolik pada tahun 2025 sehingga dana yang disediakan pemerintah bisa digunakan untuk ziarah. “Pada tahun 2024, kita akan perjuangkan bagaimana caranya agar ziarah umat kita bisa dibiayai oleh negara,” ujar Lanjar.
Sementara itu, Ketua Lingkungan St. Matias sekaligus ketua panitia rekoleksi, Yulius Sunaryo, berharap setelah mengikuti kegiatan rekoleksi, seluruh umat Lingkungan St. Matias bertambah semangat, guyub, rukun, dan sehat.

Mewakili umat, Naryo mengucapkan terima kasih kepada Lanjar yang telah memfasilitasi kegiatan ini. “Saya punya pesan, nama Lanjar ada makna tersendiri, yaitu ‘lanjutkan karyamu’. Pesan ini mohon dibawa setiap saat Pak Lanjar menjalankan tugas. Semoga Pak Lanjar semakin jaya dan usahanya semakin maju hingga rezeki melimpah,” ucap Naryo.
Selanjutnya, Rm. Toto mengungkapkan kegembiraannya atas terselenggaranya rekoleksi ini. Terlebih dalam kerangka menuju 90 tahun Gereja Paroki St. Yakobus Bantul, Rm. Toto bersama Tim Pelayanan Pendampingan Keluarga merencanakan untuk menyelenggarakan acara-acara serupa.
“Saat ini sudah terjadi di Lingkungan St. Matias. Luar biasa. Lingkungan St. Matias memang menjadi inspirasi untuk lingkungan-lingkungan yang lainnya,” puji Rm. Toto.
Ia kemudian menjabarkan salah satu agenda kegiatan di paroki pada hari Minggu Adven pertama hingga ketiga, yakni pertemuan pasangan suami istri (pasutri). Adven pertama untuk usia pernikahan 0-5 tahun, Adven kedua untuk usia pernikahan 6-15 tahun, dan Adven ketiga untuk usia pernikahan 16-25 tahun.

“Silakan yang masuk dalam kelompok itu mendaftarkan, lalu kita bertemu bersama-sama,” undang Rm. Toto. “Acara tidak muluk-muluk, yang penting berkumpul, berbagi suka dan duka, bercerita dalam upaya untuk menghidupi keluarga kita masing-masing.”
Rm. Toto pun berharap dari Lingkungan St. Matias akan banyak yang hadir. “Karena beberapa tokoh yang merencanakan dan melaksanakan rencana kegiatan itu pun berasal dari lingkungan ini,” bebernya.
Pada sesi materi rekoleksi, Rm. Suharyanto yang akrab disapa Romo Jabrik berharap kegiatan ini dijadikan program berkelanjutan bagi Paroki St. Yakobus Bantul, dengan Lingkungan St. Matias sebagai yang memulai.
“Kalau ini dijadikan program berkelanjutan, berarti sudah mewujudkan cita-cita Keuskupan Agung Semarang (KAS), yaitu pendampingan iman berjenjang mulai dari anak-anak sampai simbah-simbah,” terang Rm. Suharyanto.

Terkait tema, Rm. Suharyanto menjabarkan Keluarga Kudus yang terdiri dari Maria, Yusuf, dan Yesus itu diberikan oleh Allah kepada semua keluarga. “Mengapa urutannya Maria, Yusuf, dan bayi Yesus, bukan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus? Karena Bunda Maria mengandung dari Roh Kudus, bukan dari syahwat laki-laki,” sebutnya.
Menurut imam humoris ini, hidup berkeluarga pun suci dan kudus. “Apa yang mau Anda cari kalau keluarga Anda tidak tenteram dan rukun? Buat apa memikirkan keluarga orang lain kalau mengurus keluarga sendiri tidak keruan? Yang penting itu keluarga Anda. Inilah rahmat kekudusan, seperti Bunda Maria yang berani menyimpan semua persitiwa dalam hidupnya,” tegas Rm. Suharyanto.
Mengenai peran St. Yusuf, Rm. Suharyanto menjabarkan bahwa tukang kayu ini secara optimal merengkuh bayi Yesus demi keselamatan-Nya dengan mengungsi ke Mesir. Ketika bayi Yesus dipersembahkan di Bait Allah, menunjukkan sosok St. Yusuf yang taat beragama.
“Tuhan Yesus itu welas asih. Tuhan Yesus yang lahir di palungan ialah tanda bahwa Allah rela menjadi manusia sampai kemudian tergantung di kayu salib. Maka, rahmat surga hadir dalam keluarga Anda,” ujar Rm. Suharyanto.

Ia lantas mengajak umat untuk mengurangi menggunjingkan keluarga orang lain. “Lebih indah jika Anda menantikan Tuhan dalam diam, kalau perlu berdoa bersama sekeluarga. Rahmatnya penuh, bisa mengolah hidup sendiri, maka kekudusan itu kita terima setiap detik, menit, jam, dan hari,” renungnya.
Gambaran Keluarga Kudus itu suami merengkuh istrinya, memeluk anaknya, dan melindungi. “Kita dipayungi oleh rahmat Keluarga Kudus dari Nazaret, maka jadikan keluarga Anda seperti payung. Bisa memayungi sesama. Sederhana maknanya, nggak usah muluk-muluk. Kalau mau seperti pohon, tentu yang bisa meneduhkan. Intinya, keluarga Anda bisa menyejukkan keluarga Anda sendiri dulu, nanti auranya akan terlihat,” tutur Rm. Suharyanto.








