Surakarta. Perayaan Ekaristi Tahun Yubileum 2025 yang diselenggarakan Kevikepan Surakarta pada Jumat, 21 November 2025 berlangsung meriah dan khidmat di Gereja Santa Regina Purbowardayan, Surakarta, Jawa Tengah. Perayaan Ekaristi ini sekaligus merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah.
Perayaan Ekaristi ini dipimpin Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) sebagai selebran utama. Selain itu, terdapat beberapa pastor sebagai konselebran pendamping, yakni Rm. Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr (Vikep Kevikepan Surakarta) dan Rm. Yoseph Supriyanto, Pr (Pastor Kepala Paroki Santa Regina Purbowardayan Surakarta).
Dalam pengantar Perayaan Ekaristi Yubileum 2025, Rm. Herman menyampaikan sambutan kepada umat yang memenuhi Gereja Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan. Menurutnya, perayaan ini terasa istimewa dengan kehadiran Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Bertepatan dengan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah, Rm. Herman menegaskan makna mendalam momen tersebut. “Perayaan hari ini bertepatan dengan peringatan wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah. Sebuah rahmat besar bagi kita umat di Kevikepan Surakarta ini. Bersama Bunda Maria, kita mempersembahkan hidup, pertobatan, dan pengharapan kita kepada Allah,” ujarnya.
Rm. Herman juga menyampaikan intensi khusus dari Bapa Suci, yakni doa bagi mereka yang sedang bergumul dengan keinginan mengakhiri hidup. “Semoga saudara-saudari kita yang sedang berada dalam kegelapan dan putus asa dapat menemukan dukungan, cinta, dan pengharapan dari komunitas kita,” tambahnya.
Antusiasme umat untuk merayakan Yubileum tampak dari sekitar 3.000 nama yang tercatat dalam buku tamu gereja, baik perorangan, keluarga, maupun rombongan dari berbagai wilayah keuskupan se-Indonesia. Mereka hadir sebagai peziarah untuk memohon rahmat, kedamaian, dan pembaruan hidup.

Rm. Herman berharap perayaan ini meneguhkan umat sebagai “peziarah harapan” yang membuka diri terhadap karya Allah. “Semoga rahmat pengampunan, kedamaian, dan pembaruan yang kita terima menjadikan kita umat yang hidup dalam sukacita, saling menguatkan, dan menyejahterakan,” harapnya.
Ia pun mengajak seluruh umat memasuki Perayaan Ekaristi dengan hati hening dan terbuka. “Marilah kita membiarkan Roh Kudus berkarya dalam hidup kita. Semoga Tuhan menuntun langkah kita menjadi saksi kasih-Nya di dunia,” pesannya.
Pada homili Misa Yubileum , Mgr. Rubi menyapa umat dengan hangat dan menyatakan kekagumannya atas banyaknya umat yang menghadiri Misa Tahun Yubileum . Disebutkan jumlah umat yang hadir saat Misa di Kevikepan Yogyakarta Timur (4.200-an), Kevikepan Yogyakarta Barat (lebih dari 1.600), dan hari itu di Kevikepan Surakarta (lebih dari 3.000).
Mgr. Rubi mengajak umat merenungkan motivasi kehadiran mereka. Ia bertanya kepada umat, “Apa yang sebenarnya mendorong kita hadir beramai-ramai, bahkan rela datang meski hujan?”
Mgr. Rubi menegaskan bahwa motivasi utama umat bukanlah keinginan untuk bertemu uskup, melainkan kerinduan untuk merayakan belas kasih Allah yang dicurahkan selama Tahun Yubileum serta menerima anugerah berlimpah, termasuk berkat apostolik untuk memperoleh indulgensi penuh.

Dalam homilinya, Mgr. Rubi menjelaskan bahwa bacaan hari itu, baik dari Kitab Imamat maupun Injil Lukas menggambarkan tema tahun rahmat Tuhan. Kitab Imamat memaparkan asal-usul Tahun Yubileum , yaitu tahun ke-50 setelah tujuh kali tujuh tahun Sabat, yang disebut sebagai tahun pembebasan, ketika setiap orang kembali ke tanah miliknya dan dibebaskan dari berbagai ikatan.
Mgr. Rubi juga menyinggung konteks masyarakat Israel kuno. Tahun Yubileum , menjadi kesempatan penting bagi mereka yang kehilangan tanah warisan atau menjadi budak karena terlilit utang, sebab pada tahun itu mereka dapat memperoleh kembali kebebasan dan tanah milik mereka secara cuma-cuma.
Sebagai penutup Perayaan Ekaristi, Mgr. Rubi menyampaikan ucapan terima kasih kepada para romo yang telah melayani sakramen tobat dan memberikan pendampingan rohani, serta kepada seluruh umat beriman yang senantiasa mendukung dengan doa. Apresiasi juga diberikan kepada para petugas liturgi dan nonliturgi, anak-anak yang terlibat dalam perayaan, serta umat yang mengikuti Misa melalui live streaming dari rumah.
Mgr. Rubi berharap semangat Tahun Yubileum membuahkan hasil yang berlimpah, termasuk tumbuhnya panggilan imam, biarawan, dan suster di kalangan kaum muda. Ia mengingatkan bahwa kesempatan untuk menikmati berkat, belas kasih Allah, dan indulgensi penuh masih berlangsung hingga akhir Desember. Harapannya, seluruh upaya pertobatan, doa, dan pembaruan hidup yang telah dijalani sepanjang Tahun Yubileum dapat terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari umat.
Agnes Rosemarie Dewi & Dionisius Damas














