Pemuda Katolik Bantul Didorong Menjadi Orang Muda yang Peka dan Terlibat

News385 Views

Bantul. Menjadi orang muda Katolik tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan Gereja. Kepekaan terhadap persoalan sosial, kemampuan memahami perspektif orang lain, serta keberanian untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari panggilan orang muda di tengah perubahan zaman.

Semangat itulah yang mengemuka dalam pelantikan Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Bantul masa bakti 2026–2029 pada Minggu, 30 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Santo Paulus Pringgolayan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertajuk “Empati Sosial dan Perspective Taking”.

Maria Galuh Candra Sri Wara P dipercaya memimpin Pemuda Katolik Komcab Bantul untuk periode 2026–2029. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) DIY, Pancratius Rio Mayrolla.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Pemberkatan bersama umat. Misa tersebut menjadi penanda perjalanan kepengurusan baru tidak hanya berangkat dari aktivitas organisasi, tetapi juga dari spiritualitas dan semangat pelayanan.

Bagi Pancratius, prosesi pelantikan yang diawali dengan Misa memiliki makna tersendiri. Kehadiran unsur pemerintah dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa Pemuda Katolik berada dalam ruang perjumpaan antara Gereja, masyarakat, dan negara.

“Pemuda Katolik harus terus memperkuat perannya sebagai organisasi kader yang membentuk generasi muda berkarakter, memiliki kepedulian sosial, serta aktif dalam pembangunan bangsa,” kata Pancratius.

Ia berharap Pemuda Katolik tidak berhenti pada kegiatan internal organisasi. Proses kaderisasi perlu menghasilkan orang muda yang memiliki kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus mampu mengambil bagian dalam pembangunan.

Maria Galuh Candra Sri Wara P dipercaya memimpin Pemuda Katolik Komcab Bantul untuk periode 2026–2029.
Membangun ruang perjumpaan

Pelantikan pengurus baru tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul, antara lain dari Bagian Kesejahteraan Rakyat, Dinas Pemuda, dan Kesbangpol. Hadir pula unsur Danrem dan Polsek setempat.

Sejumlah organisasi kepemudaan dan organisasi masyarakat juga turut hadir, di antaranya GP Ansor, Fatayat NU, dan Pemuda Muhammadiyah. Dari kalangan organisasi Katolik hadir FMKI, WKRI, ISKA, dan Vox Point Indonesia.

Kehadiran berbagai organisasi tersebut menjadi ruang perjumpaan dan persaudaraan lintas kelompok. Di tengah masyarakat yang beragam, orang muda diajak untuk membangun kerja sama dan menemukan persoalan bersama yang dapat direspons secara konkret.

Perwakilan Bupati Bantul dari Bagian Kesra, Agung Setyawan, S.Hut., menegaskan pentingnya empati dan aksi nyata dalam kehidupan bermasyarakat. “Amanah organisasi adalah tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata,” katanya.

Menurut Agung, Pemerintah Kabupaten Bantul terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan yang memiliki komitmen membangun daerah, terutama dalam menjaga toleransi dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Moderator Pemuda Katolik Komda DIY, Rm. Martinus Dam Febrianto, SJ, mengingatkan orang muda agar memiliki daya kritis yang konstruktif. Orang muda, menurutnya, perlu belajar mendengarkan realitas kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam situasi terpinggirkan.

Daya kritis tersebut diharapkan tidak berhenti pada kritik, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk membaca persoalan dan menawarkan solusi konkret dengan menggunakan nalar.

Belajar melihat dari perspektif orang lain

Gagasan tersebut kemudian diperdalam dalam Seminar Nasional “Empati Sosial dan Perspective Taking”. Tiga narasumber dari latar belakang berbeda hadir untuk mengajak orang muda melihat persoalan sosial dan kehidupan publik dari berbagai perspektif.

Anggota DPRD DIY, D. Radjut Sukasmoro, berbicara mengenai pentingnya keterlibatan orang muda dalam politik kemasyarakatan. Menurutnya, berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari—seperti pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan—tidak dapat dilepaskan dari kebijakan publik.

Karena itu, orang muda perlu memiliki keberanian menyampaikan aspirasi. Namun, aspirasi tersebut perlu disampaikan secara bertanggung jawab, berbasis data, dan disertai kemampuan menyaring informasi yang beredar di media sosial, termasuk hoaks.

Persoalan media sosial juga menjadi perhatian Ranggabumi Nuswantoro, S.Sos., M.A., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Ia menekankan pentingnya pendidikan pemilih sekaligus kemampuan memahami perspektif pihak lain atau perspective taking. Kemampuan tersebut menjadi penting karena seseorang tidak selalu melihat persoalan dari sudut pandang yang sama dengan orang lain.

Ranggabumi juga mengingatkan, media sosial bukan ruang publik yang sepenuhnya netral. Karena itu, persoalan politik dan kemasyarakatan membutuhkan ruang dialog serta deliberasi yang lebih substantif.

Sementara itu, praktisi sekaligus pendamping Orang Muda Katolik (OMK), C. Lilik Krismantoro, mengajak orang muda untuk tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.

Ia memperkenalkan pendekatan See–Judge–Act atau Melihat–Menimbang–Bertindak yang digunakan dalam gerakan Young Catholic Workers (YCW). Melalui pendekatan tersebut, orang muda diajak terlebih dahulu melihat realitas, kemudian menimbangnya secara kritis, dan akhirnya mengambil tindakan.

Keterlibatan itu dapat diwujudkan melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat, antara lain lewat kegiatan live in. Orang muda juga didorong mengambil inisiatif dalam berbagai persoalan sosial, termasuk isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

 

Menjadi garam di tengah masyarakat

Bagi Maria Galuh, kepengurusan baru Pemuda Katolik Komcab Bantul diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi orang muda. Organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan ruang untuk mengasah kapasitas, belajar berproses, sekaligus membangun kepemimpinan.

“Pemuda Katolik Komcab Bantul diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengasah kapasitas, belajar berproses, dan membangun kepemimpinan agar mampu memberi manfaat nyata bagi Gereja dan masyarakat,” ujar Maria Galuh.

Harapan tersebut menempatkan kaderisasi orang muda dalam konteks yang lebih luas. Orang muda Katolik dipanggil untuk hadir bukan hanya di dalam lingkungan Gereja, tetapi juga di tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai kepedulian, persaudaraan, toleransi, dan tanggung jawab sosial.

Pelantikan pengurus baru sekaligus seminar nasional tersebut menjadi titik awal bagi Pemuda Katolik Komcab Bantul untuk menjalankan peran tersebut selama masa bakti 2026–2029.

Tantangannya bukan sekadar menghasilkan program kerja, melainkan bagaimana program dan proses kaderisasi itu melahirkan orang muda yang mampu melihat realitas, memahami sesama, berpikir kritis, dan berani bertindak.

Dengan demikian, keberadaan Pemuda Katolik diharapkan semakin terasa dalam kehidupan Gereja dan masyarakat—bukan sekadar sebagai organisasi orang muda, tetapi sebagai komunitas kader yang belajar menghadirkan kepedulian dan perubahan dalam kehidupan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *