“Pemimpin Penggerak”: Tugas Kepala Sekolah sebagai Panggilan Perutusan

Papan Tulis627 Views

Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia (YKTI) dan Yayasan Insan Sekolah Kasih (YISK) kembali bekerja sama menyelenggarakan School Leadership Camp (SLC). SLC batch 5 tahap 2 bertema “Pemimpin Penggerak” ini berlangsung pada Jumat-Minggu, 3-5 Oktober 2025, di Semarang.

Pelatihan yang sudah dikenal sebagai “sekolah calon kepala sekolah” ini diikuti 33 guru dari enam keuskupan di Indonesia. Tiga fasilitator dari YKTI yang mendampingi pengolahan yakni H.J. Sriyanto, Ignaz Kingkin, dan AA Kunto A. Sementara itu, Rm. Bernadus Singgih Guritno, Pr dan Ferdinand Hindiarto secara khusus melambari aspek spiritualitas pendidikan Katolik dan spiritualitas pemimpin.

SLC memang pelatihan yang spartan dengan durasi panjang, intensitas rapat, dan kualitas mendalam. Setiap batch dibagi dalam 3 tahap pertemuan tatap muka. Setiap tatap muka berlangsung 3 hari.

Sebelum tahap pertama, peserta menerima prawacana sebagai sumber belajar bersama. Mereka juga wajib mengirimkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Kedua tiket itu syarat mereka diperbolehkan hadir.

Pada setiap batch, mereka beroleh pembekalan materi. Pembekalan itu berangkat dari kebutuhan peserta yang ditangkap lewat tugas yang mereka kirimkan. Artinya, pelatihan ini empiris-kuratif, yakni perubahan berangkat dari aksi nyata.

Komunikasi: mendengarkan dengan saksama, menyampaikan dengan jelas, dan mengamati dengan cermat.

Selepas pelatihan tiap tahap, peserta juga mendapatkan penugasan, terutama bagaimana perubahan diimplementasikan di sekolah. Kendala maupun kelancaran implementasi tersebut menjadi umpan balik untuk materi pada tahap tatap muka berikutnya. Begitu sampai tuntas.

Kali ini, pada batch 5 tahap 2, peserta diajak untuk bersama-sama menguasai aspek komunikasi. Sesuatu yang sangat esensial tetapi sialnya sering disepelekan.

Esensial, karena komunikasi ada pada setiap aspek pekerjaan dan pembelajaran. Disepelekan, karena komunikasi kerap dikerdilkan sebagai sebatas omong-omong.

Oleh karena itu, calon kepala sekolah digodok betul di batch 5 tahap 2 ini tentang komunikasi, mulai dari komunikasi personal hingga kolegial. Jabarannya meliputi komunikasi efektif, komunikasi organisasi, supervisi dengan coaching, counseling, dan mentoring, hingga monitoring dan evaluasi. Topik komunikasi ini dihadirkan sebagai paradigma fundamental hingga alat kerja (tools) operasional.

Bauran materi tersebut diolah secara mendalam, terstruktur, dan terukur supaya sebagai “pemimpin penggerak”, peserta keluar dari pemahaman sempit bahwa komunikasi sekadar bagaimana pesan bisa sampai ke penerima pesan. Hal ini tidak cukup. Komunikasi juga tidak sekadar dianggap berhasil ketika penerima pesan memberikan umpan balik kepada pemberi pesan. Itu juga tidak cukup.

Bedah dokumen dan selaraskan dengan paradigma pemimpin penggerak.

Sebagai “pemimpin penggerak”, calon kepala sekolah perlu sampai kepada kedalaman komunikasi, yakni bagaimana penerima pesan mau menjadi bagian dalam keseluruhan dan keutuhan pesan. Ini esensi komunikasi yang berakar dari kata communicare (Latin).

Mengapa harus sampai pada pemahaman dasar ini? Sebab, guru yang lebih-lebih calon kepala sekolah, bukan sekadar agen pengantar pesan, melainkan dirinya sendiri adalah pesan. Sebagai pesan yang hidup, guru diminta betul-betul hadir utuh lewat pikiran, ucapan, dan tindakan. Pada tahap berikutnya, sebagai kepala sekolah, pikiran, ucapan, dan tindakan tersebut terwujudnyatakan dalam konsep (visi, misi, nilai dasar) dan laku organisasi yang dipimpinnya.

Materi-materi tersebut sudah diolah pada tahap pertama, 5-7 September 2025. Peserta sudah dibekali materi pipa kepemimpinan (pipeline leadership) yang menghubungkan visi-misi dan nilai dasar lembaga dengan profil guru dan lulusannya. Materi ini penting supaya guru paham pentingnya menyamakan visi pribadi dengan lembaga dan mampu mengambil keputusan yang tepat pada waktu dan proses yang tepat pula.

Menurut Sriyanto, “Program yang dijalankan lembaga sekolah akan sangat berdampak apabila jabatan struktural didasarkan pada level kompetensi.”

Pernyataan ini berangkat dari temuan bahwa banyak kepala sekolah yang menjabat tanpa kompetensi organisasi. Biasanya, kepala sekolah dipilih oleh yayasan atas dasar performa pribadi sebagai guru yang baik dan berprestasi. Padahal, tugas kepala sekolah dan guru bukan hanya berbeda, melainkan menuntut pemahaman kepemimpinan dan manajerial yang tinggi.

Peserta School Leadership Camp Batch 5.

Untuk itu, Sriyanto mengenalkan apa yang disebut kanvas tanggung jawab kerja. Isinya meliputi nama jabatan, fungsi utama jabatan, kewenangan strategis, hingga penentuan indikator keberhasilan. Sangat detail dengan ukuran-ukuran yang transparan dievaluasi.

Bagi lembaga, pipa kepemimpinan ini bukan hanya menguntungkan karena distribusi wewenang dan alur keputusan jelas, melainkan juga mempermudah memotret jalur suksesi kepemimpinan. Ini yang kerap bolong di lembaga sekolah: siapa yang meneruskan dan bagaimana menyiapkannya.

Dengan pemahaman dan kesadaran ini, tugas sebagai kepala sekolah tak semata dianggap sebagai pekerjaan, tetapi lebih-lebih sebagai panggilan perutusan. Dokumen-dokumen yang disusun rapi dan detail juga kemudian tak dirasa sebagai beban administrasi yang memberatkan, melainkan justru dituntaskan untuk meringankan jalannya lembaga yang hadir untuk murid-muridnya.

AA Kunto A
Tim fasilitator Yayasan Kawan Tumbuh Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *