Pemimpin Mau Bergerak, Tetap Teguh dalam Langkah

Papan Tulis999 Views

Sabtu, 15 Maret 2025, kami, pengurus OSIS SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjalani Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) yang penuh makna. Sebelum pelaksanaan kegiatan ini, tiga mingu sebelumnya kami dikumpulkan untuk dibimbing dan didampingi dalam dinamika Pra-LKTD.

Kami mendapatkan penjelasan tentang arti kepemimpinan menurut Santo Ignatius Loyola dan penjelasan terkait disposisi batin untuk kami juga orang tua serta tugas dan tanggung jawab pribadi maupun kelompok yang harus dipersiapkan dan dikerjakan.

Dalam pelaksanaan LKTD ini kami di bimbing oleh Bapak Chr. Danang Wahyu Prasetio, staf pengajar SMA Kolese De Britto, dan didampingi semua guru SMP Kanisius Kalasan.

Tahun ini, LKTD yang kami laksanakan mengusung tema “Menjadi Pemimpin Peduli” yang mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang melayani, mendengar, dan bertindak untuk kebaikan bersama.

Pagi itu, dinamika LKTD kami laksanakan dengan peregrinasi, berjalan kaki dari sekolah menuju pos-pos yang telah ditentukan. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga refleksi tentang arti kepemimpinan. Kami menyadari, seorang pemimpin harus mau bergerak, menghadapi tantangan, dan tetap teguh dalam langkahnya.

Salah satu siswa melaksanakan orasi.

Setibanya di pos masing-masing, kami melakukan orasi di ruang publik. Kami menyampaikan gagasan tentang pentingnya menjaga lingkungan, terutama dalam hal pengelolaan sampah.

Berbicara di depan umum di tempat terbuka tentu tidak mudah, tetapi kami belajar bahwa pemimpin harus berani menyuarakan perubahan. Dengan penuh semangat, kami mengajak masyarakat sekitar untuk lebih peduli terhadap lingkungan, karena kepedulian bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang aksi nyata.

Setelah seluruh orasi selesai, kami kembali berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke Prambanan bersama-sama. Semangat kami tidak surut, meskipun perjalanan cukup panjang. Di sepanjang jalan, kami berbagi cerita, saling menyemangati, dan semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan perjalanan yang dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama.

Tiba di Prambanan, kami istirahat sejenak, lalu segera melaksanakan kerja bakti. Kami membersihkan area sekitar, menyapu jalanan, serta mengumpulkan sampah. Dari sini, kami belajar bahwa pemimpin yang baik bukan hanya memberikan arahan, tetapi juga turun tangan dan bekerja bersama orang lain. Kerja bakti ini mengajarkan kami tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Setelah kerja bakti selesai, kami melanjutkan ke Pasar Prambanan untuk melakukan aksi sosial. Di sana, kami membantu para pedagang mengangkat barang dagangan, melayani pembeli, hingga membersihkan lapak mereka. Kami melihat sendiri betapa keras perjuangan para pedagang untuk mencari nafkah.

Kerja bakti di sekitar Pasar Prambanan.

Sore harinya, kami kembali ke sekolah dan mengikuti sesi sharing tiga putaran. Di sini, kami menceritakan pengalaman, perasaan, dan pelajaran yang kami dapatkan sepanjang hari. Kami belajar bahwa mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara. Pemimpin yang baik tidak hanya memberi arahan, tetapi juga mampu mendengar dan memahami orang lain.

Sebagai penutup, kami mengikuti pengikat makna dan ibadat penutup. Dinamika ini menjadi momen refleksi mendalam bagi kami untuk merenungkan perjalanan kami sepanjang LKTD. Kami diingatkan kembali bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang memiliki posisi, tetapi juga tentang menjadi teladan, melayani dengan hati, dan membawa perubahan positif bagi sekitar.

Sepanjang kegiatan ini, kami benar-benar merasakan bagaimana lima nilai dasar Kanisius menjadi bagian dari kepemimpinan yang kami pelajari. Semua nilai tersebut telah kami laksanakan, rasakan, dan badankan dalam dinamika dari pagi sampai sore.

Lima dasar nilai Kanisius dari dinamika LKTD ini yang dapat kami maknai sebagai berikut. Keunggulan terlihat dalam cara kami menghadapi setiap tantangan. Saat orasi, kami berusaha berbicara dengan percaya diri dan menyampaikan gagasan dengan baik. Saat kerja bakti dan aksi sosial, kami tidak hanya sekadar melaksanakan tugas, tetapi juga berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap tindakan kami.

Kejujuran menjadi nilai yang kami pegang teguh selama sharing tiga putaran. Kami berbicara dengan jujur tentang pengalaman dan perasaan kami tanpa menutup-nutupi apa pun. Kejujuran juga terlihat dalam interaksi kami dengan para pedagang di pasar. Kami belajar bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang jujur dalam perkataan dan perbuatan.

 Ibadat penutup kegiatan LKTD.

Kepedulian adalah inti dari tema LKTD kali ini. Kami diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan melalui kerja bakti dan terhadap sesama melalui aksi sosial. Kami menyadari bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang memahami kebutuhan orang lain dan bertindak untuk membantu mereka.

Kedisiplinan menjadi kunci keberhasilan kami dalam menjalankan seluruh rangkaian kegiatan. Dari perjalanan panjang saat peregrinasi hingga kerja bakti dan aksi sosial, kami harus tetap tepat waktu, bertanggung jawab, dan menjalankan tugas dengan penuh komitmen.

Kemerdekaan mengajarkan kami bahwa sebagai pemimpin, kami harus berani membuat keputusan yang bertanggung jawab. Dalam setiap aktivitas, kami belajar bahwa kebebasan dalam kepemimpinan bukan tentang melakukan apa saja, tetapi tentang memilih yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.

Akhirnya, kami sebagai pengurus OSIS SMP Kanisius Kalasan yang telah mendapatkan pengalaman dalam dinamika LKTD ini, harapannya semoga dapat melaksanakan praktik baik yang sudah kami dapatkan ini untuk perkembangan diri pribadi kami masing-masing, lingkungan sekitar, dan tentunya sekolah kami tercinta ini. AMDG – Amrih Mulya Dalem Gusti.

Ni Made Laksmi Tiara Kusuma (Peserta LKTD OSIS SMP Kanisius Kalasan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *