Paus Leo: Kaum Muda, Jangan Biarkan Teknologi Memanfaatkan Anda

Yubileum Dunia Pendidikan

News1428 Views

Paus Leo menantang para siswa yang berpartisipasi dalam Yubileum Dunia Pendidikan untuk bekerja demi masyarakat yang lebih baik melalui Pendidikan. Menurut Paus Leo, hal tersebut merupakan salah satu alat terindah dan paling ampuh untuk mengubah dunia. Hal tersebut dilaporkan jurnalis Kielce Gussie dari media resmi kepausan Vatican News

Hal tersebut disampaikan Paus Leo saat bertemu dengan para siswa berlangsung dalam acara Yubileum Dunia Pendidikan di Aula Audiensi Paulus VI pada hari Kamis, 30 Oktober 2025. Dalam pidatonya ia mengungkapkan kegembiraan dan dalam acara ini ia mengingatkannya akan pengalamannya pada masa-masa saat waktunya habiskan untuk mengajar matematika kepada para siswa muda.

Pada kesempatan ini Paus Leo juga mengenang teladan Pier Giorgio Frassati, mahasiswa Italia yang baru saja dikanonisasi. Kata Paus Leo, Pier Giorgio Frassati dengan dua motonya: “Hidup tanpa iman… bukanlah hidup, melainkan sekadar bertahan,” dan “Menuju puncak.” Maka Paus Leo mendorong para mahasiswa muda untuk memiliki keberanian menjalani hidup sepenuhnya.

“Milikilah keberanian untuk menjalani hidup sepenuhnya. Hendaknya Anda tidak puas dengan tren sesaat, penampilan, atau kesenangan sesaat,” kata Paus Leo.

Lebih lanjut, sebaliknya Bapa Suci mengajak mereka untuk merindukan sesuatu yang lebih besar. Untuk itu Paus Leo juga mengatakan itulah hasrat kaum muda yang berharap dan merencanakan masyarakat yang lebih baik. Oleh karena itu, Paus mendorong mereka untuk berjuang menuju puncak sebagai mercusuar harapan.

“Betapa indahnya jika suatu hari nanti generasi kalian dikenang sebagai generasi plus. Akan dikenang atas dorongan ekstra yang kalian bawa bagi Gereja dan dunia. Namun, jangan menyimpan keinginan ini sebagai mimpi. Maka jawaban untuk mencapai hal ini adalah melalui pendidikan. Itulah salah satu alat yang paling indah dan ampuh untuk mengubah dunia,” jelas Paus Leo.”

“Alangkah indahnya jika suatu hari nanti generasi kalian dikenang sebagai ‘generasi plus’, dikenang atas semangat ekstra yang kalian bawa bagi Gereja dan dunia,” kata Paus Leo. (VaticanMedia).

Musim Baru pendidikan

Bapa Suci mengenang bagaimana pendahulunya, Paus Fransiskus, memulai proyek Pakta Global tentang pendidikan pada tahun 2020, yang didedikasikan untuk melibatkan generasi muda dalam persaudaraan global. Paus mengingatkan para siswa yang hadir bahwa mereka bukan sekadar penerima pendidikan melainkan pelaku utamanya.

Karena alasan ini, Paus mendorong mereka untuk bersatu dalam musim pendidikan yang baru di mana setiap orang menjadi saksi kebenaran dan perdamaian. Namun, mereka tidak boleh melakukannya sendirian. Paus mendorong mereka untuk melibatkan sahabat-sahabat mereka dalam pencarian kebenaran dan pembangunan perdamaian. Untuk membantu para siswa dalam tugas ini Paus Leo menyampaikan renungan Santo Yohanes Henry Newman.

“Pengetahuan bertumbuh ketika dibagikan, dan melalui percakapan batin, api kebenaran menyala,” ucap Paus Leo merujuk kata-kata Santo Yohanes Henry Newman. Maka Layaknya bintang, perdamaian sejati terwujud ketika banyak orang bersatu dan menciptakan sebuah rancangan. Dengan bekerja sama, kita dapat membentuk konstelasi pendidikan yang memandu jalan ke depan,” Jelas Paus Leo.

 Lihatlah bintang-bintang

Merenungkan bintang-bintang, Paus menjelaskan bagaimana, sepanjang sejarah, orang-orang telah menggunakannya sebagai pemandu. Mulai pelaut hingga orang Polinesia, dari petani di Andes hingga orang Majus dalam kisah Natal.

“Layaknya para leluhur kita, beliau menunjukkan, kita juga memiliki bintang-bintang yang membimbing kita. Orang tua, dosen, pendeta, dan sahabat. Mereka membantu kita tetap di jalur yang benar dalam menghadapi tantangan hidup. Pada gilirannya, kita semua juga dipanggil untuk menjadi saksi yang bersinar bagi orang-orang di sekitar kita. Kita sendiri adalah bintang-bintang individual, tetapi bersama-sama kita membentuk sebuah konstelasi,” urai Paus Leo.

Menurut Paus Leo, pendidikan adalah jalan yang menyatukan semua orang. Pendidikan mendorong siapapun untuk memandang langit, ke atas, dan lebih tinggi lagi. Pendidikan adalah alat yang membantu untuk melihat lebih jauh dan melihat apa yang sebelumnya tidak akan dilihat.

“Jadi, daripada menunduk melihat ponsel, Bapa Suci menantang kalian untuk melihat ke langit, ke tempat yang tinggi,” ajak Paus kepada para siswa yang hadir.

Kita diciptakan untuk lebih dari itu

Kembali ke Pakta Global tentang Pendidikan, Paus Leo mengenang bagaimana kaum muda sendiri mengusulkan tantangan baru pertama dalam proyek ini.

“Bantulah kami dalam pendidikan kehidupan batiniah kami. Memiliki pengetahuan yang luas tidaklah cukup jika kita tidak tahu siapa diri kita atau apa makna hidup. Tanpa keheningan, tanpa mendengarkan, tanpa doa, bahkan cahaya bintang pun padam,” jelasnya.

Lebih rinci lagi Paus Leo memaparkan, beberapa orang mungkin pernah merasakan kekosongan atau kegelisahan dalam berbagai bentuk, termasuk kekerasan, perundungan, dan penindasan. Namun di balik semua ini, Paus menekankan, terdapat kekosongan yang diciptakan oleh masyarakat yang telah lupa bagaimana membentuk dimensi spiritual pribadi manusia. Mereka hanya berfokus pada aspek teknis, sosial, atau moral kehidupan.

“Autobiografi Santo Agustinus, Pengakuan-Pengakuan, dapat membantu kita memahami cara mendidik diri untuk kehidupan batin. Kita harus mendengarkan kegelisahan kita dan menghindari melarikan diri darinya atau mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang fana,” lanjut Paus Leo menekankan untuk tidak boleh puas karena mereka diciptakan untuk jauh lebih banyak lagi.

Paus juga menyempatkan waktu sebelum memasuki Aula Paulus VI untuk menyapa mereka yang berkumpul di luar (Vatican Media).

Pendidikan di Dunia Digital

Pada kesempatan ini Paus Leo juga menghimbau hati-hati hidup di dunia digital ini. Menurutnya, tantangan pendidikan baru yang kedua adalah komitmen harian di mana para siswa muda ini sesungguhnya adalah gurunya terkait pendidikan digital.

“Kita hidup di dunia digital, tetapi kita tidak boleh membiarkan teknologi menulis kisah kita atau memanfaatkan kita,” tegasnya.

Tak hanya itu, Bapa Suci juga menyampaikan tantangan lain di dunia modern. Ia juga menyinggung Artificial intelligence. Meskipun cerdas, menurutnya siapapun harus tetap menggunakan untuk tindakan yang manusiawi.

“Artificial intelligence  meskipun cerdas, kita tetap harus menggunakannya untuk bertindak secara manusiawi. Kita harus belajar memanusiakan dunia digital, membangunnya sebagai ruang persaudaraan dan kreativitas dan bukan tempat di mana kita mengurung diri. Artificial intelligence, juga bukan pula tempat kecanduan atau pelarian,” jelas Paus Leo mengambil teladan pada kehidupan St. Carlo Acutis sebagai teladan kekudusan di era teknologi.

Perdamaian dan Pendidikan

Pada perjumpaan dengan kaum muda dalam bidang Pendidikan Paus juga mengungkapkan tetang tantangan ketiga dari proyek Paus Fransiskus adalah pendidikan untuk perdamaian yaitu tantangan inti dari Pakta Global Pendidikan yang baru.

“Kita memiliki kekuatan untuk mengubah masa depan yang terancam oleh perang, kebencian, dan perpecahan. Jawabannya pPendidikan untuk perdamaian yang dilucuti dan melucuti. Namun, hal itu lebih dari sekadar membungkam senjata,” jelas Paus.

Paus pun melanjutkan, siapapun harus melucuti hati dan meninggalkan segala kekerasan dan kekasaran. Pendidikan yang dilucuti dan melucuti senjata membantu menciptakan kesetaraan dan pertumbuhan bagi semua orang. Menurutnya ini sekaligus mengakui martabat semua orang dan menghindari perpecahan di antara manusia.

“Untuk itu, marilah kita bersama-sama menjadi pembawa damai dalam kehidupan sehari-hari. Janganlah mencari bintang jatuh. Sebaliknya, pandanglah lebih tinggi lagi, kepada Yesus Kristus, matahari kebenaran. Dia yang akan selalu membimbing kalian di sepanjang jalan kehidupan,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *