Paus Leo Berduka dan Berdoa Timur Tengah dan Para Korban

News1271 Views
Paus Leo XIV menyampaikan duka cita yang mendalam atas para korban pemboman di Timur Tengah, terutama anak-anak dan Pastor Pierre El-Rahi, seorang imam Maronit yang tewas di Lebanon.

Dilansir dari Vatican News Kantor Pers Takhta Suci merilis pernyataan pada hari Senin dan melaporkan bahwa Paus Leo XIV berdoa untuk penghentian perang di Timur Tengah.

Paus menyampaikan rasa duka citanya atas banyaknya orang tak bersalah yang telah meninggal termasuk anak-anak dan mereka yang merawatnya, terutama Pastor Pierre El-Rahi.

“Saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas semua korban pemboman beberapa hari ini di Timur Tengah, atas banyak orang tak bersalah, termasuk banyak anak-anak, dan atas mereka yang membantu mereka, seperti Pastor Pierre El-Rahi, imam Maronit yang terbunuh siang ini di Qlayaa,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Di sampaikan dalam rilis tersebut, seorang pastor Katolik aliran Maronit tewas di Qlayaa, Lebanon, pada hari Senin, 9 Maret 2026 waktu setempat, ketika ia berusaha membantu umat paroki yang rumahnya ditembaki oleh tank Israel. Hal ini seperti dikutip dalam rilis tersebut dari laporan media Lebanon.

Menurut sumber ini, Pastor El-Rahi bergegas ke rumah di daerah pegunungan parokinya bersama beberapa pemuda ketika tank itu kembali menghantam rumah tersebut dan melukai Pastor El-Rahi.

Pastor El-Rahi dibawa ke rumah sakit setempat. Tetapi karena luka-lukanya ia meninggal.

Meskipun banyak perintah evakuasi dari Israel untuk daerah tersebut, Pastor El-Rahi tetap tinggal untuk melayani umat parokinya.

Kepada media Vatikan, Vatican News, Romo Toufic Bou Merhi, pastor paroki ritus Latin di Tyre dan Deirmimas, mengatakan Romo El-Rahi berusia 50 tahun adalah seorang gembala sejati bagi umat Kristen di parokinya.

Pastor El-Rahi. (Vatican News).

Atas terjadinya insiden dan meninggalnya Pastor El-Rahi, menurut Pastor Merhi, paroki berduka atas gugurnya Pastor El-Rahi. Umat pun sangat takut, bahkan ketika rumah pastor lain diserang secara langsung.

“Hingga saat ini, orang-orang di desa-desa Kristiani tidak ingin meninggalkan rumah mereka, tetapi dalam situasi ini, semuanya telah berubah,” kata Pastor Merhi.

“Meninggalkan rumah berarti hidup di jalanan atau mencoba menyewa tempat lain. Tetapi orang-orang tidak mampu melakukannya, terutama mengingat situasi ekonomi negara yang sudah sangat buruk,” terang Pastor Merhi.

Lebih lanjut dikabarkan Vatican News, Pastor Merhi mengatakan para Fransiskan dari Penjaga Tanah Suci saat ini menampung 200 pengungsi dan semuanya Muslim. Sementara itu di biara mereka di Tyre setidaknya tercatat lebih dari 300.000 orang telah meninggalkan Lebanon selatan untuk mencari keselamatan.

“Kami katakan berulang-ulang, bahwa hal terakhir yang tidak boleh mati dalam diri kita adalah harapan kepada Tuhan. Tuhan yang selalu memberi kita kekuatan untuk terus maju. Cukup sudah perang. Cukup sudah kekerasan. Senjata, seperti yang dikatakan Paus Leo, tidak menghasilkan perdamaian. Senjata menghasilkan pembantaian dan kebencian. Yang kami minta hanyalah hidup dengan sedikit martabat,” kata Pastor Merhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *