Jakarta. Puncak kunjungan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dengan Misa Kudus pada Kamis petang, 5 September 2025. Perayaan Ekaristi ini dimulai sekitar seperempat jam lebih awal dari jadwal (17.00 WIB).
Tidak hanya di Stadion Utama, umat juga mengikuti Misa Kudus di Stadion Madya. Walau berlangsung di dua lokasi berbeda tetapi berdekatan, tidak mengurangi antusiasme umat yang juga datang dari luar daerah bahkan pulau. Menurut data, ada sejumlah 1.390 bus yang mengantar umat untuk sampai di GBK.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus memaparkan bahwa dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari serta panggilan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog, yang telah lama dipetakan di Indonesia, kadang-kadang terasa tidak mampu.
“Kita merasakan beratnya komitmen yang begitu besar, yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan. Atau, kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita. Namun, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak tetap menjadi tawanan kegagalan kita, dan alih-alih tetap menatap jala kita yang kosong, untuk memandang Yesus dan percaya kepada-Nya,” ujar Paus Fransiskus mengaitkannya dengan bacaan Injil Lukas 15:1-11.
“Kita selalu dapat mengambil risiko untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala lagi,” lanjutnya. “Bahkan, ketika kita telah melewati malam kegagalan, masa kekecewaan saat kita tidak menangkap apa pun.”
Paus Fransiskus lalu mengutip kata-kata Santa Teresa dari Kalkuta, yang peringatannya sedang dirayakan, “Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur.”
Kemudian, Paus Fransiskus berpesan kepada seluruh umat, bangsa Indonesia, serta Nusantara yang mengagumkan dengan keanekaragamannya. “Janganlah lelah berlayar dan menebarkan jalamu. Janganlah lelah bermimpi dan membangun lagi sebuah peradaban perdamaian! Beranilah selalu untuk memimpikan persaudaraan!” ucapnya.

Dengan dibimbing oleh sabda Tuhan, Paus Fransiskus mendorong semua umat untuk menaburkan kasih, dengan penuh keyakinan menempuh jalan dialog, terus memperlihatkan kebaikan budi dan hati dengan senyum khas untuk menjadi pembangun persatuan dan perdamaian.
“Dengan demikian, Anda akan menyebarkan aroma harapan di sekeliling Anda. Ini adalah keinginan yang diungkapkan baru-baru ini oleh uskup-uskup Indonesia. Saya juga ingin melibatkan seluruh umat Indonesia, berjalanlah bersama untuk kebaikan Gereja dan masyarakat! Jadilah pembangun harapan, pengharapan Injil, yang tidak mengecewakan, melainkan membuka kita menuju sukacita tanpa akhir,” pungkas Paus Fransiskus.
Sebelum Misa Kudus berakhir, Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan sambutan. “Pada akhir kunjungan Anda di Indonesia pada petang ini, kami umat Katolik di Indonesia ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang terdalam kepada Anda. Demi kami, Anda mengunjungi Indonesia, membuktikan kasih Anda. Tidak hanya untuk umat Katolik di sini, tetapi juga untuk bangsa kami, Indonesia,” buka Kardinal Suharyo.
Di mata Kardinal Suharyo, penziarahan Paus Fransiskus ini sungguh panjang dan melelahkan. “Namun, Anda berkenan datang mengunjungi kami, memberkati kami dan negara kami. Tidak hanya yang Katolik, tetapi juga saudara-saudari kami yang berbeda iman sangat gembira dengan kunjungan Anda,” kesannya.
Kardinal Suharyo pun mengungkapkan, “Kami mempersiapkan kunjungan Anda dengan berdoa, serta berusaha untuk memahami dan memperdalam pemahaman kami pada pesan-pesan Anda. Juga untuk melihat anugerah dan menerjemahkannya dalam perbuatan. Kami dapat menyimpulkan pesan ini dalam tiga kata yang Anda pilih sebagai tema kunjungan Anda, yakni iman, persaudaraan, dan belarasa.”
“Dengan semangat sinodal, bersama saudara-saudari dari beragam latar belakang religius, kami sebagai umat Katolik ingin melanjutkan untuk menumbuhkan iman kepada Yesus,” sambung Kardinal Suharyo. “Tandanya ialah buah persaudaraan kepada sesama sebagai saudara dan saudari. Tanda persaudaraan ini benar-benar penuh kasih, yang terwujud dalam keprihatinan khusus kepada saudara-saudari kita yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel, juga tentang penderitaan bumi sebagai rumah kita bersama.”

Mewakili segenap umat Kardinal Suharyo berjanji, setelah Paus Fransiskus meninggalkan Indonesia, umat Katolik di negara ini akan melanjutkan untuk menumbuhkan iman, persaudaraan, dan belarasa yang sesuai dengan ajaran Gereja dan bimbingan Sri Paus, yaitu menjawab panggilan Tuhan untuk menumbuhkan kasih yang sempurna, kudus, dan dalam kepenuhan hidup Kristiani.
“Mohon doakan kami, berkatilah kami dan bangsa kami. Semoga melalui berkat dan doa Anda, kami menjadi lebih setia dalam mengikuti Yesus. Untuk kemuliaan Tuhan, untuk kebaikan bangsa kita, dan untuk kemanusiaan. Kami sebagai umat Katolik di Indonesia juga selalu mendoakan Anda. Selamat jalan, Bapa Suci. Selamat melanjutkan penziarahan untuk mewartakan harapan. Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” ucap Kardinal Suharyo menutup sambutan.
Tidak hanya berhenti mendengarkan, Paus Fransiskus pun menyampaikan tanggapan. Ia berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang turut hadir dan seluruh rakyat Indonesia yang menurut kesannya begitu ramah.














