Pariwisata Labuan Bajo Bukan Arena Kerakusan dan Tontonan Ketamakan

News1308 Views

Manggarai Barat. Festival Golo Koe (FGK) 2025 resmi dimulai dengan ditandai bunyi gong oleh Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus di Waterfront Marina Labuan Bajo Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 10 Agustus 2025.

Dalam pembukaan ini uskup Labuan Bajo didampingi oleh Wakil bupati Manggarai Barat Yulianus Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo, Direktur BOP Flores Labuan Bajo, Kapolres Manggarai Barat, Dandim, Danlanal Labuan Bajo, Kejari Mabar, dan Sekda Mabar

FGK 2025 berlangsung pada 10-15 Agustus 2025. Ajang ini menggabungkan budaya, religiusitas, dan pariwisata berbasis nilai lokal dalam semangat persatuan dan keberlanjutan.

Perhelatan FGK 2025 tahun ini mengangkat tema “Merajut Kebangsaan melalui Pariwisata Berkelanjutan yang Sinodal dan Inklusif”.

Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, menegaskan festival ini bukan hanya agenda budaya, tetapi juga ruang perjumpaan sosial, ekonomi, dan spiritual. “Di tengah suasana pembukaan festival hari ini, kita merayakan HUT ke-24 imamat Bapa Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus,” ungkapnya.

Salah satu bentuk nyata dari pariwisata yang berkelanjutan.

FGK 2025 merupakan agenda tahunan yang sangat penting bukan hanya sebagai ajang kebudayaan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan spiritual sosial dan ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat Manggarai Barat. Tahun ini kita mengangkat tema yang penuh makna merajut kebangsaan dan pariwisata berkelanjutan yang sinodal dan inklusif

Tema ini menjelaskan kembali bahwa FGK bukan hanya milik kelompok tertentu, tetapi milik seluruh masyarakat Manggarai Barat.

Ada tiga hal yang menjadi fondasi pemahaman, yakni kebersamaan dalam kebhinekaan untuk kebangsaan pelestarian, pemanfaatan potensi pariwisata secara bijak berkelanjutan, serta proses pelayanan yang melibatkan semua pihak dan inklusif.

Tiga hal ini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat iman dan budaya masyarakat lokal yang selalu menjadikan Tuhan dan nilai-nilai tradisi sebagai bagian terpisahkan dalam hidup sehari-hari melalui kegiatan religi dan simbol-simbol budaya.

Festival ini juga memperkuat iman masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang makin kompleks sehingga iman yang kukuh harus menjadi dasar dalam setiap tindakan keputusan dan gerak pembangunan ke depan.

Selain itu, festival ini juga menjadi cerminan toleransi seluruh masyarakat di Manggarai Barat ini. Umat dari berbagai agama, suku, dan latar belakang budaya dapat bergandengan tangan, bekerja sama, dan saling menghormati. Inilah nilai-nilai luhur yang harus dijaga dan wariskan kepada generasi muda dan generasi yang akan datang.

Festival harus menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal. Para wisatawan bukan hanya datang untuk melihat keindahan, tetapi juga untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat seperti menyaksikan tarian dan musik tradisional, mencicipi kuliner khas daerah, serta mengenal nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat. Lebih dari itu, festival ini menjadi salah satu bentuk nyata dari pariwisata yang berkelanjutan.

Seluruh masyarakat diajak untuk memanfaatkan momentum ini dengan baik, kreatif, dan tetap menjaga kualitas kejujuran dan keramahan yang telah menjadi ciri khas masyarakat Manggarai Barat. Diharapkan festival akan berlanjut setiap tahun dengan kualitas dan jangkauan yang lebih luas.

Festival harus menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal.

Festival ini digadang-gadang dapat mengangkat nama Manggarai Barat di mata dunia bukan hanya karena alam yang indah, tetapi juga tanah dan budayanya yang kaya serta masyarakatnya yang ramah.

Mgr. Maksi menyampaikan, “Selamat datang kembali di arena FGK 2025 yang kita cintai ini. Ini adalah sebuah perayaan perjumpaan, persaudaraan, persahabatan, yang sudah dimulai sejak sebulan lalu dengan prosesi Patung Bunda Maria Assumpta Nusantara yang menyinggahi setiap sudut Keuskupan Labuan Bajo dan daerah kita Manggarai Barat.”

Ia menjelaskan, dalam nuansa perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, FGK 2025 mengusung tema “Merajut Kebangsaan dan Pariwisata Berkelanjutan yang Sinodal dan Inklusif”. “Sebuah tema yang menggugah kita semua tentang bagaimana memandang dan memperlakukan pariwisata di Labuan Bajo ini. Labuan Bajo, Komodo yang ikonik, adalah potret keindahan tanpa batas, rahmat Tuhan yang berkelanjutan, narasi kemakmuran, sepetak cetakan tangan Tuhan yang telah membuat sekian banyak orang dari segala penjuru dunia, berburu sunset di sini menyerap keindahan, menikmati sukacita, dan sebagiannya mengalami penyembuhan,” jelasnya.

Dengan mengandalkan keindahan dan dukungan aspek kultural yang kuat, maka ikhtiar keberlanjutan dapat dianggap sebagai nilai tertinggi dalam menjaga pariwisata di bumi Labuan Bajo ini. “Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan, maka pariwisata di kawasan Labuan Bajo niscaya berurusan dengan aspek kepedulian lingkungan (ekologis), sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar dalam keseluruhan mindset industri pariwisata di Labuan Bajo,” lanjut Mgr. Maksi.

FGK sejak empat tahun lalu penyelenggaraannya telah mengusung pendekatan multiperspektif atas pariwisata Labuan Bajo. FGK memadukan dimensi-dimensi penting yang bersentuhan dengan kehidupan komunitas lokal, mulai dari aspek religiositas, kerohanian, kultural, ekonomi, dimensi lintas-iman menjadikan FGK sebagai ruang perjumpaan dan persaudaraan sosial.

FGK hendak menekankan makna berkelanjutan yang merujuk pada sebuah ruang tersisa dalam kesadaran bahwa keindahan Labuan Bajo adalah titipan dari generasi masa depan untuk diaga dan dipakai seperlunya saja. Dengan itu, FGK 2025 hadir sebagai sebuah narasi tandingan terhadap bahaya geliat eksploitatif atas keindahan alam dan lingkungan di kawasan ini.

Penegasan ini terasa semakin bermakna karena FGK 2025 ini adalah sebuah potret kerja kolaboratif banyak pihak, baik dari pemerintah level nasional dan lokal serta elemen masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *