Sleman. Acara NGOBRAS OMK yang diselenggarakan tim pelayanan Katekese Persiapan Hidup Berkeluarga (KPHB) dan Pendampingan Iman Orang Muda (PIOM) berlangsung meriah dan hangat di Joglo Antonio, Gereja St. Alfonsus de Liguori Nandan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Jumat, 31 Oktober 2025.
Acara yang dihadiri Pastor Kepala Paroki St. Alfonsus de Liguori Nandan, Rm. A.G. Luhur Prihadi, Pr ini mengundang dua narasumber yang merupakan pegiat media sosial (medsos) dan kerabat muda MSF yang juga merupakan OMK Wilayah Ngentak, Paroki Keluarga Kudus Banteng.
Mereka adalah Albert Benjamin Febrian P. (Beni) dan Zheerlin Larantika Djati K. (Zheerlin). Selain itu, narasumber utama dari acara ini adalah Thomas R.M. Harjawikarta selaku tim pelayanan KPHB.
Acara ini mengangkat isu utama tentang penggunaan media sosial yang dikaitkan dengan kehidupan iman Katolik pada era yang serbadigital ini. Tema “Aku ‘KLIK’, Maka Aku ‘ADA’” terpilih dan terinspirasi oleh dua hal, yakni penggunaan media sosial untuk menunjukkan eksistensi diri dan kehidupan rohani iman Katolik di era digital yang ditandai dengan kanonisasi St. Carlo Acutis.
“Terinspirasi dari dua hal, yang pertama buku yang ditulis oleh seorang dosen dari STF Driyarkara yang merefleksikan situasi zaman sekarang, ktika orang lebih mengandalkan media sosial untuk mengatakan, ‘Ini lho aku,”” buka Thomas.
“Inspirasi kedua, dalam dunia Gereja ada satu tokoh yang namanya Santo Carlo Acutis, remaja yang begitu menginspirasi dunia dengan kemajuan medsosnya dan dia menggunakan itu untuk kehidupan rohani dan mengajak semakin banyak orang dekat dengan Tuhan,” imbuh Thomas.
Dalam kesempatan ini, Beni dan Zheerlin mengajak anak muda untuk aktif mewartakan cinta kasih Allah dengan menggunakan dan memanfaatkan media sosial. Beni secara lebih lanjut mengatakan bahwa teknologi tidak hanya diikuti, tetapi juga harus ditaklukkan.
“Kita tidak boleh hanya mengikuti teknologi, tapi juga harus menaklukannya karena kita manusia, kita lebih dari teknologi. Karena yang menciptakan teknologi manusia, jadi kita harus lebih tinggi dari teknologi itu sendiri,” tutur Beni.
Selain itu, Zheerlin menyatakan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mewartakan dan melayani Tuhan lewat karya digital yang diunggah di media sosial.
“Kita bisa bikin sesi curhat melalui video call melalui grup OMK. Semisal juga kita membuat video ala-ala sinematik tentang kegiatan OMK, diedit, ditambah backsound, dan di-upload ke media sosial. Jadi, media sosial bisa dimanfaatkan dengan baik karena ada kemudahan teknologi,” kata Zheerlin.
Thomas dan timpel KPHB berharap anak muda harus menyadari situasi zaman yang serbadigital dengan hadirnya berbagai media sosial dan media komunikasi.
“Sadari diri dan situasi Anda. Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi apalagi media sosial dan media komunikasi, tapi mengakrabi dan menggunakannya untuk kehidupan yang lebih baik, baik di tengah masyarakat maupun Gereja. Artinya, media sosial dan media komunikasi itu kita gunakan untuk meneguhkan iman kita, meneguhkan keberadaan diri kita karena kebaikan yang boleh dirasakan banyak orang,” tegas Thomas.
Dionisius Damastya














