Yogyakarta. Tidak terasa, sudah genap satu tahun Rm. Karl-Edmund Prier, SJ di panggil Tuhan. Bertempat di Kapel Maria Della Strada-Puskat Yogyakarta, pada Selasa, 7 Januari 2025 diadakan Misa peringatan satu tahun meninggalnya Rm. Prier yang dipimpin Rm. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ dengan dihadiri para kolega Rm. Prier dari semua kalangan.
Rm. Heri bersyukur dan terima kasih kepada Rm. Prier yang merupakan sahabat serumah Komunitas di Bener, Yogyakarta. Keduanya berteman sejak tahun 1989.
“Berkat ketekunan Rm. Prier, kita diberikan sebuah kenangan berupa peninggalan musik Gereja di Indonesia yang sangat indah. Karya tangannya memberikan banyak arti bagi umat Gereja di Indonesia, bahkan sampai keluar negeri. Penggunaan lagu yang bermutu dapat membantu setiap orang untuk berdoa. Sebab, kita tahu, lagu merupakan ekspresi dari hati yang mendalam,” paparnya.
Sesuai dengan kutipan bacaan Injil tentang lima roti dua ikan, Tuhan memberi mujizat melalui peristiwa ini kepada umatnya. Rm. Prier memberikan sepenuh hati dengan melalui karya lagu-lagu inkulturasinya. “Ini adalah mukjizat dari Tuhan, karena sampai hari ini terkumpul beberapa lagu hasil lokakarya dari seluruh Nusantara yang masih dapat kita nikmati, melalui karyanya hingga sekarang,” urai Rm. Heri.
Lebih lanjut ia mengatakan, “Kita bersyukur Rm. Prier pernah berkarya di Indonesia melalui PML (Pusat Musik Liturgi). Berkat jasanya, lagu-lagu inkulturasi dalam Madah Bakti sampai hari ini masih menjadi ciri lagu Indonesia dan masih dapat terdengar di seluruh gereja Indonesia.”
Semua itu adalah buah pengalaman dari hasil 57 lokakarya ke pelosok Nusantara. Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Sumatra pernah disinggahi Rm. Prier guna mencari mutiara berharga berupa lagu-lagu inkulturasi bercorak kedaerahan setempat untuk digarap bersama Paul Widyawan, sahabatnya, dalam mengolah musik Gereja.

Rm Heri menceritakan peristiwa yang paling berkesan dari Rm. Prier. “Dia selalu antusias, penuh semangat bila ingin mengadakan lokakarya ke daerah,” sebutnya.
Demikian pula ketika pulang lokakarya, Rm. Prier selalu membawa cerita dengan penuh semangat tentang pengalaman di daerah. Ia menceritakan segala hal, mulai dari budaya masyarakatnya, lagunya, alat musik dengan segala keunikannya, serta pengalaman dengan kelompok paduan suara daerah dengan segala ragam problem yang sering dihadapi dan ditemukan selama lokakarya.
“Semua diceritakan dengan antusias, bahkan terkesan tidak pernah lelah untuk bercerita dengan sesama teman di Komunitas Bener. Dari cerita ini, kita dapat meneladan semangat beliau yang tak pernah lelah berkarya, juga keuletan, ketelitian, terlebih kebesaran pengabdiannya kepada Gereja,” pungkas Rm. Heri.
Selanjutnya, Pimpinan PML Elisabet Twitien Sezi Colasina memohon doa dari umat yang hadir supaya dapat merawat, meneruskan, dan mengembangkan cita-cita luhur Rm. Prier melalui karya- karya lagu inkulturasi. “Tentunya melalui kursus musik Gereja yang masih terselenggara hingga sekarang dan melalui Paduan Suara Vocalista Sonora,” ucapnya.








