Yogyakarta. Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia (JDBSS) – Indonesia bersama EYM (Eucharistic Youth Movement) menyelenggarakan webinar bertajuk “Tugas Akhir sebagai Latihan Rohani”, Senin, 24 November 2025 melalui Zoom.
Webinar ini diadakan bertepatan dengan ujud doa Gereja Indonesia bulan November yang dikhususkan bagi para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini menghadirkan dua narasumber: Rm. Antonius Sumarwan, SJ dan Fr. Daud Kefas Raditya, SJ. Keduanya mengajak para peserta untuk melihat tugas akhir bukan semata sebagai kewajiban akademik, tetapi juga jalan spiritual untuk menemukan Tuhan dalam proses yang penuh perjuangan.
Dalam pemaparannya, Rm. Sumarwan menekankan konsep contemplativus in scribendo, yakni berkontemplasi dalam proses menulis. Terinspirasi dari spiritualitas Ignatian contemplativus in actione, ia menjelaskan bahwa menulis skripsi atau tesis dapat menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan.
“Menulis tugas akhir itu tidak sederhana. Banyak jatuh bangun, jungkir balik, dan perjuangan panjang,” ujarnya. “Justru di situ ada potensi kerohanian. Sayang kalau makna itu tidak kita ambil.”

Rm. Sumarwan juga menyinggung pergulatan kecil dalam menulis tugas akhir, seperti mood yang turun tiba tiba, target menulis satu paragraf yang berubah jadi satu kalimat lalu dihapus lagi, sampai rasanya tidak ada kemajuan. Membaca referensi pun sering berat, bahkan judulnya saja sudah membuat ciut. Namun ia menegaskan bahwa justru dalam kesulitan seperti itu proses rohani ikut tumbuh.
Ia menegaskan bahwa dalam proses yang berat itu, mahasiswa dapat menemukan energi rohani baru ketika menyadari bahwa mereka tidak bekerja sendirian. “Ketika menemukan makna itu, kita bisa merasakan bahwa ini proses bekerja sama dengan Tuhan. Kita merasa didampingi.”

Pada webinar ini, Rm. Sumarwan menggambarkan kemiripan antara Latihan Rohani Ignatian dan penyusunan tugas akhir.
“Keduanya memerlukan pembimbing, entah pembimbing rohani maupun pembimbing skripsi. Keduanya bersifat personal, menuntut kesendirian dan konsistensi. Aktivitasnya berulang, seperti membaca, menganalisis data, menulis, dan berdiskusi dengan pembimbing. Mengalami dinamika batin berupa konsolasi (kegembiraan, kelancaran) dan desolasi (jenuh, putus asa). Membentuk habitus, yaitu habitus rohani dalam retret dan habitus ilmiah dalam penulisan skripsi. Teman-teman yang menulis skripsi itu sebenarnya sedang menjalani retret 30 hari, bahkan lebih,” jelasnya.
Tak hanya itu, Rm. Sumarwan juga membagikan pengalaman perjalanan intelektual gagasannya. Berawal dari latihan kontemplasi Kitab Suci, ia bereksperimen menggunakan film sebagai sarana kontemplasi. Pengalaman itu kemudian berkembang hingga sampai pada ide bahwa menulis pun dapat menjadi sarana kontemplasi yang sama mendalamnya.

Gagasan ini pernah tulis dan diterbitkan Majalah Rohani sejak 2007, dan sejak 2019 berkembang menjadi kerangka utuh “Menulis Skripsi sebagai Latihan Rohani”. Ia juga mengajak banyak frater untuk mencoba dengan pendekatan ini, termasuk Fr. Daud Kefas yang turut berbagi pengalaman dalam webinar.
“Prosesnya panjang, tapi membahagiakan. Saya melihat banyak yang tertolong dengan kerangka ini,” tuturnya.
Fr. Daud Kefas menambahkan bahwa baik proses menulis skripsi maupun latihan rohani sama sama menempatkan orang pada pilihan dan kenyataan yang tidak mudah. Tetap ada rasa pusing, capek, tidak paham, dan naik turun. Namun bagi dirinya, semua kerumitan itu justru menolong proses penulisan skripsinya. Ia berharap pendekatan ini bisa menjadi tawaran yang bermanfaat bagi para pejuang tugas akhir, setidaknya memberi sudut pandang baru dalam menjalani prosesnya.








