Senandung Doa untuk Dunia, Refleksi Sembilan Langkah Jalan Hati

News1742 Views

Yogyakarta. Mengakhiri kunjungan Rm. Cristóbal Fones, SJ selaku Direktur Internasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia (Pope’s Worldwide Prayer Network/PWPN) di Yogyakarta, PWPN Indonesia beserta Paroki St. Antonius Padua Kotabaru mengadakan Perayaan Ekaristi dan Parade Lagu di Gereja St. Antonius Padua pada Selasa, 25 Februari 2025.

Perayaan Ekaristi dimulai pukul 17.30 dan dihadiri oleh sejumlah umat yang berpartisipasi. Usai Perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan Parade Lagu yang menampilkan pertunjukan musikalisasi oleh sejumlah musisi.

Dari kiri: Rm. John, Rm. Sindhu, Rm. marwan, Rm. Cristóbal, dan Rm. Fajar memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja St. Antonius Kotabaru Yogyakarta. (UTUSAN/SLAMET RIYADI)

Perayaan Ekaristi dipimpin secara konselebrasi oleh beberapa romo, termasuk Rm. Cristóbal bersama Rm. Antonius Sumarwan, SJ (Direktur Nasional Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia-Indonesia/PWPN Indonesia), Rm. G.P. Sindhunata, SJ (Direktur Nasional PWPN Indonesia periode 2010-2023), Rm. Johannes Nugroho, SJ (Koordinator Eucharistic Youth Movement/EYM), serta Rm. Nikolaus Devianto Fajar Trinugroho, SJ (Pastor Kepala Paroki St. Antonius Padua Kotabaru).

Perayaan Ekaristi ini juga menjadi ajang pertemuan kelompok Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia-Indonesia yang dikunjungi Rm. Cristóbal selaku Direktur Internasional PWPN. Dalam kesempatan ini, Rm. Marwan mengingatkan kembali tentang kelompok PWPN yang merupakan Serikat Kepausan yang bermisi untuk menggerakkan umat Katolik melalui doa dan tindakan dalam menanggapi tantangan yang dihadapi umat manusia dan misi Gereja. Selain itu, Rm. Marwan juga mengajak umat ikut andil dalam mendoakan intensi doa Bapa Suci Paus Fransiskus yang dibukukan dalam buklet yang diterbitkan melalui usaha Yayasan BASIS.

Suasana Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia” di Gereja Kotabaru Yogyakarta. (UTUSAN/SLAMET RIYADI)

Sementara itu, Rm. Cristóbal menyampaikan salam dari Bapa Suci serta menyoroti tantangan kesehatan yang tengah dihadapi oleh Paus Fransiskus. “Momen Perayaan Ekaristi ini juga menjadi sarana dalam menyoroti pentingnya doa serta sebagai media pertukaran budaya,” ujarnya.

Usai Perayaan Ekaristi, seluruh umat tetap duduk di tempatnya masing-masing karena acara dilanjutkan ke Parade Lagu. Sebuah tampilan musikalisasi yang menjadi bentuk buah doa dari sembilan langkah formasi Jalan Hati atau The Way of The Heart yang merupakan program pembinaan PWPN. Satu lagu akan merepresentasikan satu dari kesembilan langkah Jalan Hati tersebut.

“Senandung Doa untuk Dunia”dipilih menjadi judul dari Parade Lagu Jalan Hati. Ini merupakan bentuk kolaborasi aktif antara PWPN Indonesia serta musisi lintas generasi.

Lantunan lagu yang apik Paduan Suara SD Kanisius Kadirojo, Kalasan, Sleman. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Lantunan lagu yang dipilih dalam Parade Lagu ini disusun sedemikian rupa oleh tim PWPN Indonesia untuk mengajak umat menapaki Jalan Hati. Sembilan susunan langkah Jalan Hati mengangkat renungan dan dinamika hidup doa yang diwakilkan oleh satu baris syair dan nada.

“Pada Mulanya adalah Kasih”menjadi refleksi pertama dari langkah Jalan Hati. Ini merepresentasikan Allah adalah kasih dan Allah mengasihi umat-Nya.

Kala langkah pertama ini dimulai, terdengar dari gelapnya panggung suara flute lembut beralunan nada khas Jawa. Komposer Imoeng Mulyadi memainkan flute sebelum membuka lagu pertamanya, Tresna Jati atau dalam bahasa Indonesia berarti “Cinta Sejati”.

Dengan suara yang menggelegar, Maria Natania Tya Astuti menyanyikan lagu tersebut diiringi penyanyi latar dari Belle Voix Vocal Group dan iringan musik Leonora Ensemble.

Tresna Jati adalah sebuah lagu yang diaransemen oleh Imoeng Mulyadi, tetapi diangkat warisan lirik dari Rm. Ignatius Kuntara Wiryamartana, SJ (19 Oktober 1946 – 26 Juli 2013). “Lagu ini adalah sebuah amanah atas kepercayaan Rm. Gregorius Budi Subanar, SJ untuk membukukan lirik dan karya tulis Rm. Kuntara sebagai bentuk penghargaan kepada beliau,” ungkap Imoeng.

Penampilan apik Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia” di Gereja Kotabaru Yogyakarta. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Dari sekian banyak lirik yang ditulis Rm. Kuntara, Imoeng terpesona dengan salah satu lirik yang awalnya berjudul Tresna Gusti.Namun dengan ide cemerlangnya, Imoeng meminta izin untuk mengubah judul liriknya menjadi Tresna Jati, yang pada akhirnya menjadi tampilan awal dari langkah pertama Jalan Hati.

“Cinta yang ditulis oleh Rm. Kuntoro ini adalah arti dari cinta yang universal, berupa cinta Tuhan kepada sesama, cinta sesama kepada Tuhan, dan cinta sesama dengan sesama,” lanjut Imoeng.

Setelah langkah pertama, senandung terus berlanjut dengan nuansa ditampilkan dalam kegelisahan. Senandung langkah kedua, “Hati Manusia, Gelisah, Haus, dan Lapar”, pun dimulai.

“Kadang saya bingung untuk mebedakan apakah saya sudah betul dalam memilih sebuah jalan? Apakah saya mampu diberikan kekuatan untuk mengubahnya? Apa ini kehendak Tuhan atau bukan?” begitu ungkapan pertanyaan yang diucap dari Damian Alma Linggar Jonarta, pencipta lagu The Serenity Prayer yang menjadi senandung langkah kedua.

Ia menceritakan awal kegelisahaannya kala menciptakan lagu yang menceritakan bentuk kegelisahan manusia akan kebebasannya dalam memilih. Ia menegaskan, “Manusia adalah makhluk yang bebas dalam menentukan mana yang baik dan tidak bagi dirinya sendiri.”

Fr. Arnold Lintang Yanviero, SJ saat tampil pada Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia”. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Senandung itu dinyanyikan oleh Fr. Arnold Lintang Yanviero, SJ. Dalam lagunya terukir lirik, “Tuhan berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah. Keberanian untuk mengubah hal- hal yang aku bisa. Dan kebijaksanaan untuk mengetahui segala yang berbeda.”

Kegelisahan manusia dalam hidup mendoa mengantarkan kita pada refleksi langkah ketiga, ketika hidup “Di Dunia yang Terluka”.Prayer for Generosity menjadi senandung yang menemani langkah Jalan Hati ini.

Damian Alma masih menjadi pencipta dari senandung lagu ketiga. “Apakah kemampuan untuk mengubah, adalah semata kekuatan untuk membangun atau sebaliknya?” katanya melanjutkan kisah senandung kedua tadi.

Pembukaan Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia” di Gereja Kotabaru Yogyakarta. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Prayer for Generosity dinyanyikan oleh grup vokal Belle Voix. Dalam liriknya tertulis demikian, “Tuhan ajar aku bermurah hati. Ajar aku melayanimu s’penuh hati. Memberi tak menghitung rugi. Berjuang tak takut terlukai. Bekerja tak mencari jeda. Berkorban tanpa mengharap balas jasa. Demi menjalankan kehendak-Mu.”

Kala refleksi ketiga telah usai, tampak beberapa anak kecil berpakaian putih berdiri sejajar di atas panggung. Mereka adalah paduan suara dari SD Kanisius Kadirojo, Kalasan, Sleman. Dengan suara emasnya, mereka berdiri menyanyikan lagu Karena Aku Kau Cintayang menemani refleksi langkah Jalan Hati keempat, “Bapa Mengutus Putra-Nya untuk Menyelamatkan”.

“Kubahagia selalu bersama-Mu Yesus. Karena aku Kau cinta,” begitu sepenggal lirik yang dinyanyikan dalam refleksi keempat.

Catur Tulus Setyorini membawakan lagu ciptaannya berjudul Allah Segala Kuasa. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

“Dia Memanggil Kita sebagai Sahabat”menjadi langkah lanjutan dari refleksi doa Jalan Hati. Catur Tulus Setyorini menjadi penampil yang membawakan hasil karya ciptanya berjudul Allah Segala Kuasa.

Ia mengatakan, lagu ini merupakan kisah refleksi pribadinya dengan Tuhan Yesus. “Tuhan adalah sahabat saya, yang memakai saya menjadi alat untuk mengasihi dan melayani sesama,” ungkap Rini.

Dalam lagu ini tertulis kalimat, “Engkaulah Allah segala kuasa. Urapi aku dengan Roh Kudus-Mu, agar kuhidup seturut firman-Mu. Melayani sesama.”

Lima langkah telah usai, Rm. Cristóbal berdiri di depan panggung dan akan menjadi penampil terakhir di sisa langkah refleksi Jalan Hati selanjutnya.

“Kristus Tinggal dalam Diriku”adalah refleksi dari langkah keenam. Rm. Cristóbal mengatakan, “Tuhan telah mengajari kita cara mencintai sesama. Untuk membuatnya merasa seperti manusia, dan menyadari akan martabatnya sebagai anak Tuhan.”

Dari kiri: Rm. Rukiyanto, Rm. Marwan, Rm. Cristóbal, Rm. Sindhu, Rm. Andri, Pr KomKep Jogja Timur, Rm. John, dan Rm. Kuntoro Adi menyaksikan Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia”. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Tu Modomenjadi lagu yang dipilih untuk menemani refleksi Jalan Hati keenam. Lagu berbahasa Spanyol ini merupakan hasil karya cipta dari tangan piawai Rm. Cristóbal. Serupa dengan yang ia katakan, dalam baris chorus lagu tersebut terukir kata, “Yesus, ajarilah aku cara-Mu. Untuk membuat sesama merasa lebih manusiawi. Agar langkah-Mu menjadi langkahku.”

“Pada langkah ketujuh dari Jalan Hati ini, kita belajar membagikan diri kita sendiri seperti yang dilakukan Yesus membagikan diri-Nya kepada umat manusia,” tutur Rm. Cristóbal sebelum membuka prosesi Jalan Hati ketujuh, “Kami Persembahkan Hidup Bersama dengan-Nya”.

Penampilan Asriuni Pradipta dalam Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia”. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Pada prosesi ini, umat diundang dalam Perayaan Ekaristi dan menjadi bagian dari refleksi Perayaan Ekaristi itu sendiri. Lewat senandung berjudul Mi Cuerpo Es Comida,Rm. Cristóbal membawa pada perenungan Jalan Hati ketujuh.

Pada kesempatan selanjutnya, Rm. Cristóbal mengajak pada perenungan langkah kedelapan. Prakata ia sampaikan sebuah kisah singkat St. Fransiskus Xaverius, seorang pioner misionaris Katolik sekaligus sahabat karib St. Ignatius Loyola yang bersama-sama mendirikan Serikat Yesus.

Serupa dengan figur St. Fransiskus Xaverius yang menjalankan amanahnya untuk menyebarkan iman dan kasih Kristus, prosesi Jalan Hati kedelapan disebut “Sebuah Misi Belas Kasih”.Langkah ini disenandungkan dalam sebuah lagu yang berjudul Cancion de San Francisco Javier,sebuah penghormatan untuk karya keimanan St. Fransiskus Xaverius.

Langkah terakhir pun mulai ditapaki, “Kita adalah Jaringan dari Jaringan Doa”,sebuah perwujudan dari visi Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia, sebuah misi Gereja yang menciptakan kesatuan intensi guna menghadapi tantangan yang dihadapi umat manusia.

Rm. Cristóbal, Rm. Rukiyanto, dan Rm. Marwan berfoto bersama para penampil Parade Lagu “Senandung Doa untuk Dunia”. (UTUSAN/SLAMET RIYADI).

Rm. Cristóbal pun mengungkapkan rasa syukurnya berkesempatan menjadi bagian dari jaringan tersebut.

“Saya merasa sangat diberkati menjadi bagian dari komunitas besar ini, komunitas yang benar-benar mendunia. Saya ingin berbagi dengan Anda, yang memiliki rasa takut untuk bersedia bersama-sama menjalankan misi kasih sayang ini,” pungkas Rm. Cristóbal.

Akhir perenungan dari Jalan Hati disenandungkan sebuah lagu berjudul Sin Miedo karya Irene Valsangiacomo. Rm. Cristóbal mengajak umat menyanyikan bagian dari lagu tersebut yang tertulis, “Sin Miedo Abrazo y sigo tus pasos. Busco el Camino, voy peregrino” (Tanpa takut, aku merangkul dan mengikuti jejak-Mu. Kucari jalan, aku berziarah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *