Yogyakarta. Seluruh unit Sekolah-sekolah Marsudirini Perwakilan Yogyakarta berkumpul di SMA Santa Maria Yogyakarta dalam puncak acara ekspo dan lomba bertema “Ayo Bermain, Belajar, dan Bergembira bersama Marsudirini” pada Sabtu, 5 Oktober 2024.
Rangkaian acara untuk memeriahkan “Fransiskus Day” yang jatuh setiap 4 Oktober ini sudah dimulai sejak Senin, 30 September 2024 dengan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan lomba-lomba di masing-masing unit sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA.
Puncak acara yang dikemas dalam pentas seni ini menjadi bagian dari kegiatan Gelar Pelajar dan Pemuda yang merupakan hasil kerja sama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta dengan Yayasan Marsudirini Perwakilan Yogyakarta.

“Sinergi ini diharapkan membawa dampak positif. Kami, Pemerintah Kota Yogyakarta, khususnya Disdikpora, mendorong yayasan sekolah penyelenggara pendidikan untuk membuka ruang bagi potensi anak-anak dalam rangka mengembangkan bakat-bakatnya melalui seni musik, gerak, pantomim, lukis, dan sebagainya,” papar Budi Santosa Asrori, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini diharapkan menjadi sisi lain dari upaya menyeimbangkan kegiatan akademis. Sebab, menurut Budi, pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. “Ini memang program dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang terus kita kembangkan di seluruh sekolah yang ada di Kota Yogyakarta. Dari sisi kualitas sudah relatif bagus dibanding dari waktu ke waktu,” sebutnya.
Budi lantas menegaskan, “Bagaimanapun kita tetap harus mempertahankan budaya belajar atau akademik yang bagus untuk mencapai hasil yang baik di masa mendatang dengan dilandasi oleh karakter yang baik.”

Sementara itu Fransisca Indriyani selaku ketua panitia menjelaskan kegiatan ini dilaksanakan bersama antara para guru, karyawan, dan siswa satu kompleks dalam upaya membangun kebersamaan dan kekeluargaan.
“Kegiatan bersama ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa saling pengertian, menerima, memiliki hingga akan terbangun kekeluargaan atas dasar semangat kebersamaan dan semangat persaudaraan,” ucap Indri.
Tentang tema, Indri memaparkan artinya, yakni mengajak seluruh warga Yayasan Marsudirini dan warga sekitar untuk bermain bersama dan bergembira untuk mewujudkan pribadi yang cerdas dan berkarakter, sesuai dengan slogan Yayasan Marsudirini.
“Dengan kegiatan ini kami berharap bisa menjadi media untuk mendekatkan masyarakat sehingga mendorong minat masyarakat pengguna untuk menimbang pilihan kepada Marsudirini,” ungkap Indri.

Kemudian, Sr. M. Paulia OSF selaku Penanggung Jawab Yayasan Marsudirini Perwakilan Yogyakarta menambahkan bahwa kegiatan ini mendukung yayasan dalam mempromosikan sekolah-sekolah Marsudirini, khususnya yang ada di Kota Yogyakarta.
“Semoga melalui kegiatan ini, banyak orang tua dan masyarakat di Yogyakarta tertarik untuk menyekolahkan putra-putrinya di tempat kami,” harap Sr. Paulia.
Ia menyatakan sekolah-sekolah di bawah Yayasan Marsudirini terbuka bagi siapa saja, tidak memandang latar belakang, termasuk agama. Sebab, sekolah-sekolah ini mempunyai pembelajaran Kemarsudirinian dengan dua tokoh pendidikan, yakni St. Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen.
“St. Fransiskus mencintai semua ciptaan Tuhan. Walaupun ada anak yang tidak beragama Katolik yang bersekolah di tempat kami, tetap kami terima dan tidak menjadikan mereka Katolik,” tegas Sr. Paulia.
Nilai-nilai dari Kemarsudirinian bisa diterapkan untuk mereka, yaitu kemandirian, tanggung jawab, serta mencintai sesama ciptaan Tuhan dan alam ciptaan. “Itu menjadi nilai-nilai yang kami bekalkan untuk anak-anak. Jadi, mereka tidak mengikuti agama Katolik, tetapi cara belajarnya saja. Silakan, semua umat beragama apa pun boleh sekolah di Marsudirini, karena kami mencintai semua dan kami menghargai toleransi beragama,” undang Sr. Paulia terbuka.
Acara ekspo dan pentas seni dibuka secara simbolis dengan menerbangan 24 ekor burung emprit atau pipit yang dilakukan Sr. Paulia bersama para kepala sekolah, pejabat, wakil siswa, serta relasi. Jumlah burung-burung ini menandakan tahun penyelenggaraan ekspo ini.
“Burung emprit ini lambang kecintaan kami sebagai pengikut Bapa Fransiskus (Assisi) dengan program JPIC—Justice, Peace, and Integrity of Creation, mencintai ciptaan Tuhan, termasuk burung emprit yang kecil-kecil,” terang Sr. Paulia.








