Di tengah dunia yang kian kompleks dan penuh tantangan, manusia modern terus bergulat dalam membangun dan merawat relasi dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan dirinya sendiri.
Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, mengajak kita untuk kembali kepada inti hidup rohani bahwa segala bentuk relasi yang sehat dan bermakna hanya dapat diperbarui jika berakar pada Allah sendiri.
Dalam terang tema tersebut, SMA Kolese De Britto Yogyakarta menghidupi nilai “Tangguh dan Kolaboratif” untuk tahun ajaran 2025/2026. Tema ini tidak hanya menjadi slogan, melainkan panggilan hidup yang menantang seluruh komunitas untuk bertumbuh dalam karakter yang kuat dan terbuka untuk bekerja sama, sekalipun dalam perbedaan.
Namun, bagaimana relasi yang tangguh dan kolaboratif bisa terwujud tanpa terlebih dahulu diperbarui oleh Allah?
Pemahaman bahwa relasi yang kuat dan saling mendukung tidak mungkin lahir begitu saja. Relasi yang tangguh dan kolaboratif membutuhkan pembaruan hati, niat yang murni, dan keterbukaan untuk menerima serta memberi secara tulus.
Dalam konteks spiritual, pembaruan ini berasal dari Allah. Dialah yang mengubah hati manusia, memberikan kasih, pengertian, dan kerendahan hati agar seseorang bisa hidup dalam relasi yang sehat dengan sesama.
Pembaruan ini memampukan seseorang untuk menjadi pribadi yang hadir untuk sesama, yang bisa bekerja bersama dalam semangat kasih, pelayanan, dan solidaritas sejati. Dasar untuk mewujudkannya antara lain sebagai berikut.
Pertama, Allah sebagai sumber relasi yang autentik. Dalam Kitab Suci, Allah digambarkan bukan sebagai sosok yang jauh dan abstrak, tetapi sebagai Allah yang hadir dan berelasi, Ia berjalan bersama umat-Nya, mendengarkan jeritan hati umatnya, dan memanggil setiap pribadi untuk mengalami kasih sejati.
Relasi dengan Allah ini menjadi dasar dari segala relasi yang lain. Ketika kita menyadari bahwa kita dicintai secara utuh dan tanpa syarat oleh-Nya, kita dimampukan untuk mencintai dengan cara yang sama.
Kedua, tangguh (keteguhan yang berakar pada Allah). Ketangguhan yang sejati bukanlah tentang menjadi keras kepala atau tidak pernah jatuh. Dalam spiritualitas Ignatian, ketangguhan adalah kesediaan untuk terus bertumbuh, untuk bangkit kembali, dan untuk melakukan kehendak Allah bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Santo Ignatius sendiri adalah teladan orang yang tangguh dari seorang prajurit yang ambisius. Ia bertobat dan menjalani proses panjang untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ketangguhan ini lahir dari relasinya yang mendalam dengan Allah, dari doa yang kontemplatif dan refleksi yang jujur.
Di De Britto, menjadi tangguh berarti siap menghadapi tantangan zaman, tekanan akademik, dan dinamika sosial dengan hati yang teguh dan pikiran yang terbuka. Namun, ketangguhan itu tidak boleh egoistis, ia harus dibarengi dengan kesadaran akan kehadiran Allah yang menyertai setiap langkah.
Ketiga, kolaboratif (membangun relasi yang menghidupkan). Spiritualitas Ignatian selalu mendorong keterlibatan aktif dalam dunia. Kolaborasi bukan hanya soal bekerja sama secara teknis, tetapi juga menciptakan ruang tempat setiap orang dihargai, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Dalam relasi yang diperbarui oleh Allah, tidak ada ruang bagi dominasi atau egoisme. Kolaborasi sejati hanya mungkin terjadi jika kita melihat orang lain bukan sebagai alat, melainkan sebagai sesama citra Allah.
Bagi komunitas De Britto, menjadi kolaboratif berarti membangun sinergi antarsiswa, guru, staf, dan lingkungan sekitar. Hal ini adalah panggilan untuk saling menopang dan membangun budaya dialog, bukan hanya diskusi kosong. Dalam semangat Ignasian, kolaborasi ini juga merupakan bagian dari misi “menemukan Allah dalam segala”, termasuk dalam interaksi harian.
Keempat, nilai spiritualitas (pembaruan dimulai dari relasi dengan Allah). Allah bukan hanya sumber kekuatan, tetapi juga sumber pembaruan relasi. Dalam dunia yang sering memecah-belah dan menuntut kecepatan, SMA Kolese De Britto diundang untuk menjadi komunitas yang tangguh dan kolaboratif, bukan karena kehebatannya sendiri, tetapi karena akar spiritualitasnya yang dalam pada Allah yang memperbarui. Maka, relasi yang sehat, kuat, dan saling membangun menjadi buah nyata dari iman yang hidup dan bekerja dalam kasih.
Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, “Allah, Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup”, mengandung makna yang sangat mendalam, yaitu terkait “dalam segala mengasihi” dan “melayani dengan sepenuh hati”.
Hal ini sejalan dengan nilai (value) yang diperjuangkan di SMA Kolese De Britto, “Man for and with Others” (manusia untuk dan bersama orang lain), untuk lebih menekankan aspek kerja sama dan kolaborasi, bukan hanya sebagai individu yang melayani, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang bekerja untuk kebaikan bersama. Di sanalah relasi diperbarui, ketangguhan diuji, dan kolaborasi menjadi kesaksian nyata akan hadirnya Allah di tengah dunia.
Oleh karena itu, De Britto mendidik siswa yang 1L+5C; menjadi pemimpin. Tidak sekadar pemimpin biasa, tetapi pemimpin yang melayani (leadership). Pemimpin pelayanan yang cakap (competence), berbela rasa dan peduli sesama (compassion), berhati nurani benar (conscience), konsisten (consistency), dan berkomitmen (commitment), komitmen pada pejuang-pejuang keadilan demi kemulian Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam/AMDG).
Chr. Danang Wahyu Prasetio Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto








