Masa Nggak Boleh Eksis?

Jendela580 Views

Tahun 2024, kita masuk pada sebuah eradengan perkembangan yang begitu maju sehingga semua kegiatan dapat dilakukan secara digital atau online. Seiring berjalannya waktu dan tingkat kepintaran manusia yang sangat tinggi, pertumbuhan teknologi di dunia begitu pesat.

Akhir-akhir ini, kita sudah tidak asing lagi jika mendengar kata “Industry 4.0”. Industry 4.0 sendiri pertama-tama digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya dengan bantuan teknologi. Jadi, secara singkat, dalam industri 4.0, pelaku-pelaku pengguna komputer atau program saling terhubung dan berkomunikasi untuk akhirnya membuat keputusan tanpa adanya keterlibatan manusia.

Dewasa ini, era digitalisasi cukup menjadi sorotan di berbagai kalangan. Dari yang tua sampai yang muda. Tentu saja, semua hal yang penuh dengan kemajuan tersebut akan menimbulkan efek positif maupun negatif.

Era digitalisasi yang ditawarkan sekarang tentu saja sudah jauh berbeda dari apa yang sudah terjadi pada lima tahun yang lalu. Keinginan dan pengetahuan manusia sendiri cukup memengaruhi berkembangnya teknologi dengan pesat.

Banyak orang dimudahkan para era ini. Ada yang sudah sampai ke desa-desa. Dilansir dari laman Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII, pengguna internet di Indonesia menyentuh angka 79,5% dari yang sebelumnya 78,19%. Hal ini menandakan adanya kenaikan 1,4% dari tahun 2023. Tentu saja juga orang-orang di Indonesia lebih memilih membeli ponsel yang harga jauh lebih terjangkau dan praktis untuk digunakan. 

Hal ini juga berdampak bagi umat Katolik, khususnya calon imam dan para imam, di tengah kemajuan zaman yang sangat pesat dituntut untuk tidak tertinggal pada kemajuan ini. Pada zaman yang sangat dinamis ini, para calon imam maupun imam juga dituntut untuk tidak gagap akan teknologi.

Pengajaran iman Katolik sesungguhnya dapat dilakukan secara online tetapi memang belum adanya kesadaran yang tinggi dari para umat Katolik. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas pentingnya “Peran Calon Imam Katolik di Era Digital”.

Gereja Katolik tentu saja sudah melek dengan digital. Contohnya pada saat COVID-19 menyerang. Tatap muka dan Perayaan Ekaristi tidak dapat dilakukan karena keadaan yang tidak memungkinkan. Hal ini mendorong untuk melakukan Perayaan Ekaristi secara jarak jauh atau online.

Perayaan Ekaristi secara live streaming menggunakan media seperti YouTube masih dilanjutkan Katedral Jakarta.

Anak-anak muda Gereja, dewan paroki, dan pastor paroki tentu saja berpikir keras untuk memikirkannya. Mereka  yang tergabung ke dalam tim multimedia Gereja tergerak untuk mengadakan Perayaan Ekaristi secara live streaming menggunakan media seperti YouTube atau melalui siaran televisi lokal.

Tentu saja hal itu menimbulkan tanggapan yang positif maupun negatif. Tanggapan positif yang sering dilontarkan adalah dapat menekan laju pertumbuhan angka COVID-19, tidak perlu ribet untuk bersiap-siap seperti ke gereja pada biasanya, dan para umat tetap bersyukur karena Perayaan Ekaristi tetap dapat terselenggara. Dampak negatifnya, para umat hanya menerima “komuni batin”, tidak bisa menyantap Tubuh Kristus secara nyata dan kurang bisa memaknai Ekaristi dengan baik.

Tentu saja keterbukaan Gereja Katolik atas digitalisasi dan dalam menanggapi perkembangan zaman tidak berhenti pada hal itu saja. Peran yang diambil oleh para imam maupun para calon imam tentu saja berpengaruh. Dalam hal ini, Gereja Katolik merespons perkembangan teknologi dengan menerbitkan dekret Inter Mirifica.

Dekret yang diterbitkan dalam Konsili Vatikan II pada 4 Desember 1963 ini merefleksikan media komunikasi massa sebagai sebuah karya Allah dalam diri manusia untuk mencapai kebaikan bersama makhluk ciptaan-Nya. Dalam fenomena kemajuan ini, Gereja pun menyadari bahwa kehadiran teknologi menimbulkan dampak positif dan negatif.

Melalui arahan yang diberikan oleh Paus Fransiskus kepada para imamnya pada dokumen “Homili Melampaui Segala Katakese”, para imam maupun calon imam diajak untuk makin bisa mengerti kebutuhan umat dan mengikuti perkembangan zaman. Hal itu yang membuat makin jelas dan nyata bahwa peran para imam maupun calon imam itu penting.

Di tengah-tengah hidup yang serba-online ini, para imam maupun calon imam dituntut untuk memberikan pengajaran tentang iman kepada para umat yang mudah untuk dipahami, kekinian, sederhana, dan kontekstual. Jumlah umat Katolik yang didominasi oleh para orang muda menandakan bahwa mereka bergerak pada media sosial. Mereka lebih membutuhkan sesuatu hal yang dilakukan secara cepat dan mudah. Hal ini mulai direspons baik oleh Gereja. Terutama oleh para calon imam.

Banyak cara yang sudah memulai, kebanyakan melalui media-media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter). Seperti  para frater Diosesan Keuskupan Agung Semarang yang membuat video Reels di akun Instagram mereka.

Pada Prapaskah 2024, mereka membuat sebuah video berisi renungan pada Injil setiap hari minggu. Video tersebut dikemas dengan baik, dan isi konten yang ada juga menarik perhatian. Mereka memulai dengan bernyanyi yang dapat menambah daya tarik umat.

Salah satu tayangan Jesuit Semenit.

Para Jesuit juga melakukan hal yang sama. Mereka menamai video tersebut dengan Jesuit Semenit. Frater, diakon, maupun rama memberikan sebuah katekese atau pengajaran atau sebuah permenungan dengan cara yang singkat, mudah dipahami, dan pasti selalu menarik.

Hal itu menandakan hal yang positif, menunjukkan bahwa Gereja dapat menanggapi dengan baik apa yang harus dilakukan agar umat Katolik dapat tetap diberikan pengajaran yang mudah dipahami meskipun melalui media sosial.

Melalui media sosial juga bisa menyingkirkan stigma-stigma negatif terhadap pendidikan calon imam. Para umat dapat lebih mengenal dan mengerti bagaimana para calon imam berdinamika dan berjuang terhadap panggilan hidup imamatnya. Dengan menggunakan media sosial sebagai sarana untuk promosi, akan makin banyak yang tertarik untuk menjadi imam.

Makin banyak yang tertarik karena banyak contoh yang dapat mereka lihat di media sosial. Contohnya para frater Diosesan Keuskupan Agung Semarang membuat video bernyanyi. Contoh lainnya para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan membuat merchandise kaus yang dibuat oleh mereka sendiri. Hal ini membuat banyak umat tertarik untuk membeli dan mempromosikan Seminari Mertoyudan.

Para seminaris juga mengunggah video dan foto di akun Instagram OSIS Seminari. Hal itu membuat agar para umat di luar sana bisa mengetahui kegiatan apa saja yang sedang dan atau sudah dijalani. Namun, hal ini tidak berbanding lurus terhadap apa yang telah diberikan. Umat Katolik belum menganggap bahwa ini adalah hal yang baik. Di tengah zaman yang serba tidak pasti ini, umat belum menganggap bahwa mendengarkan pengajaran iman itu penting.  

Selain itu, para calon imam adalah orang-orang muda yang mempunyai kreativitas yang tinggi dan memiliki tampang yang menarik sehingga kaum muda tambah tertarik dengan hadirnya para calon imam di dunia digital. Hadirnya para calon imam penting karena berguna untuk memberikan kesaksian yang berisi akan kebenaran.

Promosi Panggilan Seminari Mertoyudan (Mendung Tanpa Udan) versi TikTok.

Namun, dalam penggunaan media sosial, para calon imam haruslah lebih cermat dan menerapkan pembatasan. Informasi-informasi yang didapat melalui media sosial harus bisa dijadikan sebagai pendukung dan tidak boleh dijadikan sebagai landasan berpikir, terlebih menggunakannya sebagai refleksi atas panggilan.

Usaha yang dilakukan Gereja terutama para calon imam sudah baik. Sudah mengusahakan yang terbaik, agar tetap bisa mengikuti perkembangan teknologi yang ada dan umat terhibur sekaligus juga tersadarkan bahwa mempunyai iman akan Katolik sungguh penting sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi para calon imam, era digital dapat menjadi pedang bermata dua. Para calon imam harus memiliki pagar yang dapat membatasi dan mengantisipasi dirinya sendiri dari dampak-dampak negatif perkembangan teknologi. Penting untuk menggunakan media sosial secara bijaksana dan cerdas dalam menempatkan diri saat ingin berkomunikasi dengan orang lain. Melalui pembatasan, bertindak secara selektif, serta memanfaatkan media sosial, para calon imam dapat membagikan warta keselamatan dengan baik pula.

Para calon imam maupun umat hendaknya berkolaborasi agar menunjukkan adanya keterkaitan dan tidak dipandang hanya para calon imamlah yang sok-sokan mengikuti tren yang ada. Namun, hal ini juga ditanggapi oleh para umat bahwa jika lewat online, untuk orang sudah berusia lanjut, kurang mengena di hati. Maka, umat hendaknya ikut berpartisipasi dengan aktif,  misalnya dengan menonton video. Dengan berpartisipasi yang aktif, para calon imam juga makin bersemangat dan berkobar-kobar untuk mewartakan Injil di tengah-tengah umat. 

Pengajaran yang dilakukan secara online memang memiliki tanggapan yang positif dan negatif. Akhir-akhir ini, para calon imam sedang gencar-gencarnya memberikan pengajaran melalui media massa, ada target umat yang harus mereka berikan pengajaran akan iman, di tengah-tengah zaman yang sudah berkembang, banyak ajaran atau doktrin-doktrin yang dapat menyesatkan para umat beriman. 

Memberikan kesaksian tetap memiliki porsi yang sama dan tidak mungkin untuk dilewatkan. Maka, sebagai umat beriman, kita diajak mendukung langkah baik yang dilakukan oleh para calon imam, karena mereka adalah masa depan Gereja yang akan kita dengarkan bersama.

Para calon imam yang sedang berdinamika di rumah formasi merasa sulit dan kadang jenuh dalam menanggapi panggilan yang penuh misteri  tersebut. Jika mereka jenuh dalam urusan rohani, maka kita diajak untuk terlibat aktif dalam proses formasi mereka dengan ikut mendoakan mereka agar tetap teguh dan kuat dalam meniti jalan panggilan suci. 

Kita diingatkan kembali untuk menggunakan media sosial atau alat elektronik dengan bijak. Kita dapat mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh Beato Carlo Acutis di tengah zaman yang serba tidak pasti ini, mau mengunggah dan mewartakan Kristus melalui situs online.

Kita juga diajak untuk mempergunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal kebaikan, terutama sebagai umat Katolik, menyebarkan kabar sukacita Injil. Bijaksana dan selektif dalam menerima berita dan meneruskan berita dari orang lain. Hal tersebut jika kita pikir-pikir akan terasa sulit untuk dijalani. Namun, sebagai umat beriman, kita diajak untuk bersama-sama sebagai seluruh umat Katolik percaya pada penyertaan dan penyelenggaraan Yesus (Mat. 28:20).

Seperti yang dikatakan pada Latihan Rohani Ignatius Loyola nomor 23, manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi kepada Tuhan semata. Maka, Latihan Rohani nomor 23 itu menantang kita, apakah kita mau untuk bersatu padu, bahu-membahu antara umat dengan para imam maupun calon imam untuk memuliakan nama Tuhan yang lebih besar.

Nicholaus Ozkory Damaraharja (Siswa Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *