Sleman. Persoalan identitas menjadi materi utama dalam acara Launching dan Bedah Buku “Kuasa di Balik Identitas” di Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat, 17 November 2023.
Bedah buku karya Rm. Dr. Martinus Joko Lelono, Pr, M.Hum ini menghadirkan Rm. Dr. C.B. Mulyatno, Pr (Dekan Fakultas Teologi Univrsitas Sanata Dharma Yogyakarta), Dr. G. Sri Nurhantanto, S.H., LL.M (Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta), dan Prof. Dr. Phil Al Makin, M.A. (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) sebagai pembedah buku.
Penulis buku yang akrab disapa Rm. Joko ini merupakan salah satu staf pengajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Pastor Paroki St. Mikael Pangkalan TNI-AU Adisutjipto, juga ketua Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan Kevikepan Yogyakarta Timur. Ia menyatakan, buku “Kuasa di Balik Identitas” lahir dari ide Amartya Sen dalam bukunya “Identity and Violence: the Illusion of Destiny”.
“Situasi ekstrem di India (kerusuhan Hindu-Islam pada 1940-an) tidak mustahil bisa terjadi juga di negara kita ketika orang tidak sadar bahwa ada kuasa di balik identitas,” tutur Rm. Joko sembari menambahkan bahwa cover bukunya menggambarkan manusia-manusia yang bertengkar tetapi ada tangan-tangan kuasa di baliknya. “Di Indonesia, kuasa itu bisa bermacam-macam, mulai dari pemimpin politik, sampai pada mereka yang di tingkat lebih rendah mengambil keuntungan dari segregasi identitas,” lanjutnya.
Rm. Joko berharap buku ini bisa menjadi sebuah sumbangan akademis bagi kesadaran bersama akan pentingnya nalar kritis di dalam menyikapi hidup masyarakat. “Semoga kita tidak hidup dalam pilihan-pilihan emosional ala masyarakat populis, melainkan mengambil pilihan kritis yang lahir dari para pemikir yang rasional. Orang berpikir bahwa kata-kata dari orang tertentu pasti terbukti benar. Faktanya, kebenaran hanya milik Tuhan,” tegasnya.
Buku yang merupakan penelusuran tentang kuasa di balik identitas ini diharap mampu membantu pembaca untuk melihat potensi-potensi memahami identitas sebagai jalan membangun persaudaraan sekaligus melihat potensi merusak dari permainan identitas.
“Dasar pemikiran di dalam buku ini diharap bisa menjembatani ruang kritis dari masyarakat di hadapan kekurangkritisan sebagian masyarakat negeri ini yang tak jarang disebut masyarakat sumbu pendek,” pungkas Rm. Joko.
Sebelum launching buku, Yuvensius Sasongko Iswandaru, General Manager PT Pohon Cahaya sebagai penerbit, mengatakan bahwa buku “Kuasa di Balik Identitas” menyoroti potensi identitas untuk membangun persaudaraan tetapi juga bisa merusak persaudaraan.
“Kalau identitas itu keterlaluan—bersikap berlebihan terhadap aspek tertentu, misalnya agama—bisa jadi egoistis, merusak hubungan komunikasi dengan teman kita. Buku ini menurut saya ingin menegaskan bahwa identitas bisa dipahami positif, bisa juga negatif. Kalau kita pahami secara positif, itu akan memberikan kekuatan untuk kita sekalian,” ucap Sasongko.
Setelah peluncuran, buku diberikan kepada tokoh masyarakat, Yani Sapto Hudoyo (seniman dan budayawan) dan RA. Yashinta Sekarwangi Mega (calon anggota Dewan Perwakilan Daerah/DPD RI Dapil DIY), serta ketiga pembedah buku.

Pada sesi bedah buku, kesempatan pertama diberikan kepada Rm. Mulyatno yang menggarisbawahi kata-kata yang diulang Rm. Joko dalam bukunya, yaitu tentang kesadaran atau sikap kritis (akal sehat).
“Seolah-olah dalam kehidupan kita, akal sehat bisa menyelesaikan masalah. Menyitir pemikiran Blaise Pascal, kita tidak hanya butuh kecerdasan akal sehat, tetapi kita ini membutuhkan kecerdasan hati. Kecerdasan hati itu lebih penting daripada akal sehat,” sebut Rm. Mulyatno.
Ia menambahkan, “Akal sehat itu luar biasa pengaruhnya. Kebusukan bangsa ini justru dibuat oleh orang yang akalnya sehat dan suka ngakal-ngakali. Para koruptor itu berapa yang profesor, doktor, rektor? Saya tidak meragukan mereka punya akal sehat, tetapi kalau mengikuti Blaise Pascal, mereka tidak memiliki kecerdasan hati.”
Bila yang berkuasa itu nalarnya tinggi, sambungnya, bisa memanipulasi banyak hal, termasuk data. Oleh karena itu, orang-orang yang menguasai data dengan nalarnya yang tinggi, bisa menjadi orang manipulatif kalau tidak memiliki kebeningan kalbu, kejernihan emosi, kelembutan afeksi, ketajaman empatik, dan relasi persahabatan yang autentik. “Itu yang nanti memberi perspektif lebih kaya dari buku ini yang akan ditulis Rm. Joko dalam edisi selanjutnya,” tandas Rm. Mulyatno.
Pada kesempatan berikutnya, Al Makin mengatakan, dalam tulisan lama Eropa, ilusi tentang identitas disebut utopia. “Mereka yang ingin menjadi presiden, lurah, atau ketua dengan menopangi identitas—mengingkari bahwa kita bermacam-macam identitas—pasti akan gagal. Sekarang ini identitas diaduk-aduk. Saat ini kita saksikan, yang asalnya musuh jadi teman, yang asalnya teman jadi musuh. Artinya, identitas dipermainkan,” terangnya.
Dalam situasi ini, semua orang pintar-pintaran untuk saling mengecoh, melangkah yang tidak bisa ditebak. Identitas yang dulu digunakan dan membawa kemenangan, kalau diulangi pasti kalah. Oleh karena itu Al Makin berpesan, “Jangan pernah menggunakan taktik yang sama untuk memenangkan pertarungan. Gantilah taktiknya.”
Ia menyebut penggunaan identitas yang terjadi di Eropa dengan adanya imigran yang diusir, serta mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Kesuksesan mereka, pandang Al Makin, tidak bisa diulang di Indonesia. “Yang ada kita orak-arik. Musuh dijadikan teman, teman dijadikan musuh, sehingga bingung identitasnya apa,” ujarnya.

Pada kesempatan terakhir, Nurhantanto mengingatkan bahwa manusia pasti memiliki identitas, termasuk agama. Baginya, identitas agama sebenarnya hal biasa, tetapi di Indonesia menjadi luar biasa.
“Sebelum Mahkamah Konstitusi memunculkan pengakuan hak-hak sipil warga negara yang mendasarkan pada identitas keyakinan dan agama-agama asli bangsa Indonesia, setiap orang yang datang ke kantor kecamatan minta kolom agama dikosongkan atau ditulis ‘penghayat kepercayaan’, pasti ditolak. Nggak bisa, harus pilih satu dari enam agama yang diakui atau difasilitasi negara. Ini ‘kan aneh sekali? Tapi, itu yang terjadi,” heran Nurhantanto.
Diakuinya, manusia akan selalu hidup dalam identitas yang plural, yang memungkinkannya untuk terlibat dalam kelompok masyarakat. Pada dasarnya sifat manusia itu ingin rukun, guyub, dan berkumpul dengan semuanya. Identitas pun sudah lama digunakan untuk mengatasi masalah yang terjadi dari waktu ke waktu berhubungan dengan perubahan yang terjadi secara terus-menerus dan adanya persatuan kelompok tertentu di tengah keragaman manusia.
“Misalnya kelompok ibu-ibu yang gemar mengenakan kebaya di mana-mana. Silakan saja. Tapi mereka sadar bahwa sesungguhnya kita hidup di tengah keberagaman,” jelas Nurhantanto.
Menurutnya, politik identitas itu sangat menarik, karena melibatkan orang dengan identitas ras, agama, etnis, sosial, atau kebudayaan tertentu, bahkan cenderung mempromosikan kepentingan atau perhatian khusus mereka sendiri tanpa memperhatikan kepentingan kelompok politik yang lebih besar.
“Hasilnya mengerikan sekali kalau sudah dibalut dengan identitas ras, agama, etnis, sosial, atau budaya tertentu. Itulah yang menyebabkan Uni Soviet, Cekoslowakia, dan Yugoslavia bubar karena tidak ada perekat. Mereka lebih menonjolkan identitasnya masing-masing. Apakah kita ingin seperti itu?” lempar Nurhantanto.
Rektor UAJY periode 2023-2027 ini menyebut Rm. Joko mengajak berefleksi tentang hal tersebut. “Jadi, buku ini antara realitas dan filosofi. Sebenarnya buku ini sangat berat kalau orang hanya sekadar membaca, untuk permenungan khusus dan mendalami. Tapi buku ini sangat menarik,” kesannya.













