Mahasiswa Arsitektur UAJY Tawarkan Desain Arsitektur Humanis untuk Masa Depan

Gelar Karya Tugas Akhir Mahasiswa UAJY

News699 Views

YOGYAKARTA – Lebih dari 100 karya mahasiswa dan dosen Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) tampilkan dalam Gelar Karya Tugas Akhir Mahasiswa Arsitektur. Pameran arsitektur bertema “Where Future Architects Meet Industry”  ini berlangsung 25–28 Juni 2026 di Auditorium Kampus II UAJY, Gedung St. Thomas Aquinas, Yogyakarta.

Gelaran karaya bersama mahasiswa dan dosen ini menjadi ruang perjumpaan antara dunia akademik dan industri arsitektur. Karya-karya yang dipamerkan pun tidak tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis mahasiswa. Kolaborasi Program Studi Arsitektur UAJY dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta ini menawarkan gagasan-gagasan segar tentang masa depan arsitektur yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan.

Andi Prasetiyo Wibowo, Ketua Panitia Gelar Karya Mahasiswa Arsitektur UAJY, menjelaskan bahwa pameran tersebut menampilkan sedikitnya 90 karya tugas akhir mahasiswa sarjana, 20 karya mahasiswa profesi, 15 karya mahasiswa berprestasi, serta karya dari 12 dosen.

“Pameran ini menunjukkan keberagaman pemikiran dan pendekatan desain. Ada yang modern, tradisional, religius, hingga karya yang berangkat dari persoalan sosial dan lingkungan yang nyata di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Andi, keberagaman karya tersebut lahir dari pendekatan pendidikan arsitektur yang dikembangkan UAJY. Kampus ini tidak mengarahkan mahasiswa pada satu gaya arsitektur tertentu, melainkan mendorong mereka mengembangkan desain yang berpijak pada nilai humanisme sesuai moto universitas: unggul, inklusif, humanis, dan berintegritas.

“Yang kami coba tanamkan adalah bagaimana arsitektur tidak hanya menghasilkan bangunan yang megah dan spektakuler, tetapi juga sehat, nyaman, aman, dan memberi manfaat bagi manusia yang menggunakannya,” katanya.

Pengunjung melihat detail karya arsitektur yang di pamerkan dalam Gelar Karya Tugas Akhir Mahasiswa UAJY. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Mengembangkan Neuroarsitektur

Salah satu pendekatan yang dikembangkan di Program Studi Arsitektur UAJY adalah neuroarsitektur. Pendekatan ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana sebuah bangunan memengaruhi pengalaman manusia secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi visual.

Andi menjelaskan bahwa selama ini banyak orang menilai bangunan hanya dari bentuk fisiknya. Padahal, sebuah ruang juga memiliki dimensi psikologis, sosial, dan budaya yang sangat penting.

“Neuroarsitektur mencoba mengintegrasikan seluruh pengalaman pancaindra manusia. Bangunan tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan. Ada aspek psikologis, budaya, dan kenyamanan yang harus diperhatikan,” katanya.

Karena itu, mahasiswa didorong untuk memahami konteks sosial dan budaya tempat bangunan akan dibangun. Banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia membawa pengalaman lokal dan persoalan khas daerah masing-masing ke dalam tugas akhirnya.

Ada yang mengangkat persoalan permukiman di daerah pesisir yang terdampak kenaikan muka air laut, ada yang menyoroti kawasan perkotaan yang mengalami penurunan tanah, hingga isu pelestarian budaya lokal.

“Ketika mahasiswa memahami kondisi nyata masyarakat, desain yang dihasilkan menjadi lebih relevan dan memiliki makna yang lebih dalam,” ujarnya.

Arsitektur yang Regeneratif

Selain humanisme, isu lingkungan menjadi perhatian penting dalam pendidikan arsitektur di UAJY. Menurut Andi, tantangan masa depan tidak cukup dijawab dengan konsep pembangunan berkelanjutan semata. Arsitektur harus bergerak lebih jauh menuju konsep regeneratif.

Ia menilai selama ini banyak bangunan dibangun dengan cara mengambil terlalu banyak sumber daya dari alam tanpa memberikan kontribusi balik kepada lingkungan.

“Kalau sekarang kita berbicara sustainability atau keberlanjutan, kami mencoba melangkah lebih jauh lagi, yaitu regeneratif. Bagaimana bangunan tidak hanya mengurangi dampak negatif, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan,” katanya.

Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti pemanenan air hujan, daur ulang air, penghematan energi, hingga penggunaan material yang lebih ramah lingkungan.

Mahasiswa didorong untuk memikirkan bagaimana bangunan dapat menjadi bagian dari solusi atas krisis lingkungan yang semakin nyata.

“Bangunan jangan sampai justru memperparah persoalan lingkungan. Sebaliknya, desain harus mampu membantu memulihkan kondisi alam,” ujarnya.

Pengunjung mengamati pameran Gelar Karya Tugas Akhir Mahasiswa UAJY. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Belajar dari Lokasi dan Masyarakat

Dalam proses pendidikan, mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka juga didorong untuk terjun langsung ke lapangan guna memahami karakter lokasi yang akan menjadi objek desain.

Andi menegaskan bahwa sebelum menggambar, mahasiswa harus memahami tapak, lingkungan sekitar, budaya masyarakat, hingga aktivitas yang berlangsung di lokasi tersebut.

“Kami selalu meminta mahasiswa datang langsung ke lokasi, duduk di sana, mendengarkan, mengamati, dan merasakan suasananya. Mereka harus memahami apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat,” katanya.

Melalui proses itu, mahasiswa belajar bahwa desain yang baik tidak lahir dari ego seorang arsitek, melainkan dari kemampuan memahami kebutuhan manusia dan lingkungan.

“Arsitektur masa depan tidak boleh mengedepankan ego. Arsitek harus kembali bertanya: apa yang dibutuhkan manusia dan apa yang dibutuhkan alam,” ujarnya.

Menjawab Persoalan Masyarakat

Koordinator tugas akhir, Agustinus Madiana Putra, menambahkan bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil proses panjang mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan nyata yang ada di masyarakat.

Augustinus Madyana Putra (kanan) tengah berbincang dengan seorang pengunjung pameran. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Menurutnya, tugas akhir menjadi puncak perjalanan akademik mahasiswa sebelum mereka terjun ke dunia profesional.

“Kami memiliki berbagai bidang peminatan, mulai dari permukiman, kecerdasan buatan dalam arsitektur, neuroarsitektur, hingga perencanaan perkotaan. Semua peminatan itu diarahkan untuk membantu mahasiswa menjawab persoalan lingkungan binaan yang dihadapi masyarakat,” katanya.

Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus disikapi secara positif. Namun teknologi tidak boleh menggantikan kemampuan dasar seorang arsitek dalam memahami manusia.

Karena itu, UAJY tetap menekankan pentingnya kemampuan berpikir dan merancang secara manual pada tahap awal pendidikan.

“Teknologi adalah alat bantu. Tetapi pendekatan humanis tidak bisa digantikan oleh teknologi. Mahasiswa tetap harus datang ke lokasi, melihat langsung kondisi masyarakat, dan memahami kebutuhan mereka,” ujarnya.

Inspirasi dari Pengalaman Pribadi

Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah rancangan yang dibuat oleh mahasiswa bernama Pritha Laureta. Ia mengangkat tema aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Perempuan asli Bali ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat melihat sang ayah mengalami kesulitan berjalan akibat sakit.

Menurut Pritha, rumah yang selama ini terlihat nyaman ternyata menyimpan banyak hambatan ketika penghuninya mengalami keterbatasan fisik.

“Ketika ayah saya sakit, saya melihat sendiri bagaimana rumah yang tampak biasa saja ternyata menyulitkan pengguna kursi roda. Ukuran pintu yang terlalu sempit, akses yang terbatas, dan banyak hal lain yang sebelumnya tidak kami sadari,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman itu, ia merancang hunian dan ruang publik yang ramah bagi berbagai jenis disabilitas, baik fisik maupun sensorik. Dalam desainnya tersedia berbagai pilihan akses, mulai dari ramp, lift, hingga fasilitas yang memudahkan mobilitas pengguna.

Baginya, arsitektur bukan sekadar menciptakan bangunan yang indah dipandang mata, tetapi juga memastikan setiap orang dapat menggunakannya dengan nyaman dan mandiri.

“Kita tidak pernah tahu kapan seseorang akan sakit atau mengalami keterbatasan. Karena itu, arsitektur harus memudahkan kehidupan semua orang,” kata Pritha.

Pritha Laureta bersama karya arsitekturnya. (UTUSAN/Slamet Riyadi).

Pritha juga melihat profesi arsitek sebagai panggilan untuk membantu sesama. Menurutnya, seorang arsitek harus mampu melihat kebutuhan terdalam manusia, bahkan ketika kebutuhan itu belum disadari oleh pengguna sendiri.

“Sebagai arsitek, tugas kita bukan hanya memenuhi keinginan klien, tetapi juga menghadirkan solusi terbaik bagi kehidupan mereka,” ujarnya.

Arsitektur sejatinya adalah tentang manusia, tentang lingkungan, dan tentang upaya menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi semua. Itulah yang hendak disuguhkan oleh UAJY bahwa arsitektur masa depan tidak hanya berbicara tentang bentuk, teknologi, atau kemegahan bangunan.

Sesuai visi UAJY yang berjiwa unggul, inklusif, humanis, dan berintegritas karya-karya mahasiswa Arsitektur UAJY menjadi tanda harapan bahwa generasi arsitek masa depan. Tak hanya itu, di tengah berbagai tantangan sosial dan ekologis dunia saat ini,  rancangan-rancangan arsitektur yang diajarkan dan diwujudnyatakan para mahasiwa pun sungguh manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *