Lilin Prapaskah untuk Demokrasi

Jendela812 Views

Pemilu telah berlalu. Apakah persahabatan dan kekeluargaan juga ikut berlalu? Hati-hati jika hal itu terjadi karena bagaimanapun kita tetap berada dalam negeri yang sama. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap menjadi harga mati sepanjang kita hidup di atas tanah yang berlimpah madu dan susunya ini.

Tak hanya itu, kita sebagai orang yang telah merdeka selama puluhan tahun juga menyandang ideologi pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusi kita. Kita juga terkenal sebagai negara demokrasi, kebebasan berpendapat menjadi hal yang harus diprioritaskan di negeri ini.

Namun, kita harus mengakui juga bahwa selama proses pemilihan yang telah berlalu, banyak peristiwa yang melahirkan kontroversi, baik itu terhadap konstitusi maupun terhadap demokrasi.

Platform media sosial telah melahirkan begitu banyak bentuk-bentuk ujaran kebencian, pembulian, dan bahkan juga dipertontonkan berbagai macam percekcokan fisik dikarenakan perbedaan pendapat atau berbeda pilihan.

Tuhan melukis garis sejarah

Sadar atau tidak, kita sebenarnya sedang digunakan Tuhan untuk menjadi penonton, pelukis, dan pemain terhadap sebuah sejarah yang dilukis-Nya. Maka, tidak mengherankan jika kita menemukan berbagai kerumitan dalam benang sejarah yang Ia gunakan.

Ia memilih orang-orang yang terbaik dari bangsa kita. Terbaik dalam hal intelektual, aksi nyata, dan pembawaan diri. Namun, hal fundamental yang perlu kita tanamkan dalam diri adalah bahwa setiap orang pasti memiliki kepentingan.

Tugas kita sebenarnya adalah menjadi peneliti untuk mencari tahu setiap bentuk kepentingan dari masing-masing pribadi dan kita telah menjadi pemain untuk hal itu. Artinya, Pemilu telah berlalu, maka kita telah berhasil menentukan tokoh mana yang membawa kepentingan publik.

Semuanya telah lewat. Tidak ada lagi yang namanya intimidasi, penganiayaan, dan alasan untuk memfitnah serta menjelekkan sesama. Saat ini hanyalah sebuah sejarah yang sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk generasi bangsa Indoneisa. Hanyalah sebuah novel yang telah kita simak isinya dari awal hingga akhirnya.

Kini, kita pun telah selesai membacanya, maka dengan mudah pula kita bisa mengetahui mana tokoh-tokoh yang protagonis (pembela kebenaran) dan tokoh-tokoh antagonis (pembela kejahatan).

Meskipun kita digunakan Tuhan untuk mengambil bagian dalam dua model tokoh itu, tetapi satu hal yang perlu kita ingat adalah Ia sedang melukis sejarah indah bagi kita semua, baik itu antagonis maupun protagonis. Bahkan, mereka pun yang tidak mengambil bagian dalam dua model tokoh itu juga mendapatkan lukisan sejarah yang sama.

Sejarah telah selesai dilukis. Mari kita siap menjadi agen dan sumber cerita sejarah demokrasi tahun 2024 bagi anak cucu kita. Mereka akan senang dan gembira ketika mendengar kisah menarik yang telah dilukiskan Tuhan untuk setiap generasi.

Alur ceritanya memang rumit, tetapi itulah cara Tuhan memberikan kisah sejarah yang unik untuk setiap generasi Indonesia. Kita menjadi saksi mata kisah sejarah ini dan tugas kita adalah berusaha untuk menimbah yang terbaik dari kisah itu kemudian membagikannya kepada anak cucu kita. Mari kita melepaskan yang buruk-buruk agar tidak membunuh mental generasi baru bangsa kita.

Menyalakan lilin Prapaskah untuk demokrasi

Pada momen Prapaskah, kita sebagai umat beriman berhak untuk mendoakan negeri kita agar kembali normal. Kita tidak boleh berlama-lama dalam situasi ini. Merangkul kembali sesama kita dengan kasih persaudaraan yang tulus adalah sikap terhormat yang harus kita kenakan dalam diri.

Mari kita ringankan tangan untuk saling berdamai dan menerima kisah sejarah demokrasi yang telah kita ukir bersama. Apa pun isinya, itulah lukisan kita bersama. Tuhan hanya menggunakan kita untuk melukiskan kisah menarik-Nya bagi setiap bangsa pilihan-Nya. Tuhan akan bangga jika Ia melihat kita kembali berdamai sebagai saudara yang sebangsa dan setanah air.

Melalui peristiwa Prapaskah pula, umat Katolik harus menjadi agen yang bisa bermati raga dan menyangkal diri. Bermati raga artinya jika dalam melukis sejarah demokrasi kita tahun ini ada yang membuat merasa kesal, benci, tidak nyaman, serta diintimidasi, maka melalui mati raga kita harus melepaskan itu semuanya.

Prinsip yang harus kita pegang adalah jangan pernah merencanakan misi untuk membalas kembali kejahatan yang pernah kita terima, balaslah semuanya dengan doa-doa yang tulus. Jika kita belum bisa saling memaafkan, maka kita sebenarnya sedang menginvestasi dosa dalam skala besar.

Selain bermati raga, penyangkalan diri pun bisa menjadi obat yang ampuh untuk membebaskan diri dari sakit dendam terhadap kejahatan yang telah kita terima. Sulit memang untuk kembali ke titik nol, tetapi tidak ada pilihan lain jika mau mendapatkan suasana batin yang aman dan damai.

Paus Fransiskus pernah membuat renungan dari bacaan Kitab Suci yang diambil dari Matius 17:1-13 tentang transfigurasi. Poin penting dari bapa Paus yang diperuntukkan kepada semua pendengarnya adalah pertobatan dan bersinodal.

Dari poin itu, kita bisa menjadikannya sebagai bahan renungan ketika hendak menyalakan lilin doa kita masing-masing. Bertobat untuk menaruh rasa benci kepada sesama, bertobat untuk mencani-maki sesama, bertobat untuk menjadi agen kejahantan, dan bertobat untuk merencanakan dendam kepada sesama.

Hanya dengan perasaan bersinodallah kita bisa keluar sebagai pemenang dari perasaan marah atau dendam kita kepada sesama akibat beda pilihan pada saat pesta demokrasi. Kita harus kembali bersinodal dalam segala hal agar kita bisa mewujudkan kembali suasana damai dalam negeri kita.

Melalui tulisan ini, kita diajak untuk menyalakan lilin Prapaskah bagi demokrasi kita yang telah berjalan melewati kelamnya dunia politik. Saatnya kita mendoakannya agar kembali segar dan bersinergi. Kita menyalakan lilin Prapaskah untuk demokrasi bukan sebagai lilin ratapan bahwa demokrasi kita telah mati, tetapi lilin kebanggaan dan lilin rasa syukur bahwa demokrasi kita telah berhasil menjadi kuas pelukis sejarah Tuhan untuk bangsa Indonesia.

Selain pesan dari Bapa Suci, senjata lain yang bisa kita gunakan adalah dengan mati raga, menyangkal diri, dan berdoa bagi kepentingan bersama. Semuanya akan kembali normal bila kita bersedia untuk bermati raga, bila kita mampu menyangkal diri, dan kemudian menerima kembali saudara-saudara kita yang berbeda pilihan dengan kita dalam pesta demokrasi.

Selain itu, kita harus saling mendoakan agar hati kita masing-masing kembali luluh dan mudah untuk memaafkan satu sama lain. Kita memang beda pendapat dan pilihan, tetapi itu bukan menjadi jurang bagi keluarga, sahabat, dan kenalan kita. Semuanya hanyalah gagasan yang digunakan untuk menentukan tokoh protagonis dan antagonis dalam hidup kita sebagai bangsa dan negara.

Mari, melalui pesan-pesan Prapaskah, kita kembali untuk saling merangkul sebagai satu rumah besar, yakni NKRI. Semoga lilin doa Prapaskah kita untuk demokrasi tidak pernah padam dalam hati kita masing-masing.

Fr. Martinus Dendo Ngara, CSsR

Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *