LEKAS: Benahi Sekolah Katolik lewat Pelatihan Ekselen

News1480 Views

Magelang. Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko menyadari penting dan kompleksnya penyelenggaraan pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Semarang (KAS). Salah satu upaya mengurai kompleksitas itu adalah dengan menyelenggarakan Sinode Pendidikan tahun 2023.

Sinode ini sungguh menjadi kesempatan yang sangat efektif untuk lungguh bareng (duduk bersama), rembugan bareng (berdiskusi bersama), mutuské bareng (memutuskan bersama), dan nandangi bareng (melaksanakan keputusan secara bersama).

Hal ini disampaikan Mgr. Rubi dalam acara Pendidikan dan Pelatihan Ekselensi dalam tajuk Transformasi Sekolah Katolik Keuskupan Agung Semarang, di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, Magelang pada Jumat 23 Mei 2025 yang diselenggarakan Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang (LEKAS). Pendidikan dan pelatihan akan berlangsung hingga 25 Januari 2026.

Dalam kesempatan ini, Mgr. Rubi meresmikan LEKAS sebagai sebuah lembaga baru di bidang pendidikan dengan SK No. 128/A/XI/c-1/2025 pada Januari 2025. Peluncuran LEKAS ditandai pemukulan gong sekaligus mengawali acara pendidikan dan pelatihan tersebut.

LEKAS yang dikelola dan digerakkan para akademisi dan praktisi pendidikan, kepemimpinan, dan manajemen ini diutus membenahi sekolah Katolik lewat pelatihan-pelatihan ekselen dan utuh untuk pengelola yayasan, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

“Kita menyadari sudah saatnya kita semua bergandengan tangan, saling menopang, dan bekerja sama mewujudkan impian Gereja katolik yang satu dan sama dalam membentuk pribadi-pribadi yang dewasa, utuh, melalui pendidikan,” ujar Mgr. Rubi.

Tujuan pendidikan Katolik tidak sekadar mencetak orang-orang pandai secara intelektual, tetapi terlebih membentuk pribadi-pribadi yang mampu terlibat secara aktif dalam kehidupan sosial demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Pendidikan Kristiani baru dapat dikatakan berhasil kalau mampu menghasilkan manusia-manusia yang utuh dan seimbang.

“Kalau kita mengacu pada dua tujuan utama tersebut, maka pendidikan Kristiani baru dapat dikatakan berhasil kalau mampu menghasilkan manusia-manusia yang utuh dan seimbang dalam kepribadian, serta mau dan mampu melibatkan diri dalam mengupayakan kehidupan bersama yang semakin baik. Pribadi yang mampu membawakan nilai-nilai iman demi transformasi atau perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidup bersama, tanpa hanyut dalam arus zaman. Ngèli tanpa kèli, itulah nasihat para sesepuh kita,” tegasnya.

Mgr. Rubi menyatakan, penyelenggara pendidikan Katolik sudah menyadari hanya separuh lebih umat Katolik yang bersekolah di sekolah Katolik. Namun, diingatkannya untuk tidak berkecil hati. “Memang, anak Katolik hanya sedikit, 50 persen, tetapi itu semua kita openi (rawat),” ajaknya.

Di hadapan pengurus LEKAS, pemerhati pendidikan, yayasan Katolik di bawah KAS, Mgr. Rubi mengggaris bawahi lagi bahwa melalui pendidikan yang menyeluruh (komprehensif), Gereja ingin membina orang-orang muda menjadi pribadi-pribadi yang dewasa-utuh autentik-seimbang, baik secara fisik, intelektual, moral, dan spiritual.

“Dengan pola pendidikan seperti ini kita mengharapkan hasil yang membanggakan, yakni pribadi-pribadi yang beriman cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis atau CTMD,” ingatnya.

 

Kolaborasi dan transformasi lembaga pendidikan KAS

Rm. Yuvensius Deny Sulistiawan, Pr selaku Kepala Unit Pengembangan Pastoral (UPP) Pendidikan KAS sekaligus Penanggung jawab LEKAS menjelaskan lembaga tersebut merupakan buah dari Sinode Pendidikan KAS pada tahun 2023.

“Sinode itu melahirkan rekomendasi-rekomendasi tentang kekatolikan, guru, mutu pendikan, dan lainnya yang muncul dari berbagai ekosistem. Lalu, hasil sinode diserahkan umat sebagai pekerjaan Bapa Uskup,” kata Rm. Deny.

UPP Pendidikan KAS yang mendapat tugas kemudian melakukan diskusi panjang bersama tiga perguruan tinggi Katolik. “Di sana muncul kesadaran kitra harus melangkahkan kaki bersama, bersinergi, berkolabirasi, serta bertransformasi dengan bersama lembaga-lembaga pendidikan di KAS,” ujarnya.

LEKAS merancang dan melaksanakan program pendidikan, pelatihan, dan pendampingan bagi yayasan penyelenggara pendidikan Katolik, guru, dan tendik sekolah-sekolah Katolik di KAS.

Dari situ muncul lembaga baru bernama LEKAS. “LEKAS berusaha memujudkan mimpi-mimpi bersama lembaga pendidikan bagaimana Gereja kita memiliki satu mekanisme untuk merefleksi, memproyeksikan, supaya karya-karya pendidikan lembaga pendidikan Katolik semakin berkembang” jelas Rm. Deny lebih lanjut.

Sementara Sekretaris Komisi Pendidikan KWI Rm. Antonius Vico Christiawan, SJ mengatakan pembentukan LEKAS sejalan dengan Renstra Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). “LEKAS inl sejalan dengan Renstra Komdik KWI 2024-2027 untuk manciptakan Sentra Belajar Guru di setiap Keuskupan sehingga meningkatkan kualitas pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru,” ujar Rm. Vico.

Harapannya, kualitas kependidikan dapat terus ditingkakan, diperbarui, dan berkelanjutan untuk kaderisasi para pendidik dan menciptakan kualitas lulusan dari lembaga pendidikan Katolik, mulai dari PAUD-SMA/SMK yang mampu memancarkan wajah Gereja yang gembira, unggul, setia pada ajaran Geraja, dan semangat.

Ketua LEKAS Dr. Ferdinand Hindiarto menjelaskan, dalam aksi perdana pendidikan dan pelatihan ini, LEKAS mengundang lima yayasan pendidikan Katolik yang bernaung di KAS.

LEKAS sendiri bertugas untuk merancang dan melaksanakan program pendidikan, pelatihan, dan pendampingan bagi yayasan penyelenggara pendidikan Katolik, guru, dan tendik (tenaga kependidikan) sekolah-sekolah Katolik di KAS. Selain itu berkolaborasi dengan pihak internal dan eksternal dalam meningkatkan efektivitas program. Diklat ini diikuti sekitar 150 orang.

Menurut Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ini, tujuan diklat nantinya peserta punya action project, misalnya renstra tentang keuangan bagi pengurus yayasan, karier guru, pengembangan yayasan, dan lainnya.

“Bagi kepala sekolah, apakah ada rencana aksi untuk mengubah wajah sekolah, dan para guru apakah akan mengubah metodologi pengajaran,” jelasnya.

Setelah diklat, penyelenggara pendidikan itu akan mendapat pendampingan selama 5-10 bulan oleh pendamping dari Universitas Soegijapranata, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Ado

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *