Ladang Subur di Laut yang Dalam

Perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Masyarakat Maritim dan Keluarga Besar Badan Musyawarah Musea DIY

News1751 Views

Bantul. Dengan penuh sukacita, Museum Bahari Yogyakarta bersama Dermaga Keluarga Hotel Grup menyelenggarakan Perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Masyarakat Maritim dan Keluarga Besar Badan Musyawarah Musea DIY  pada Sabtu, 28 Desember 2024 di Function Hall Hotel Dermaga Keluarga Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Perayaan yang mengangkat tema “Marilah Sekarang Kita Pergi Ke Betlehem” sesuai tema Natal Nasional 2024 ini membawa semangat Natal dan menghidupkan kembali kisah kelahiran Yesus Kristus. Tema tersebut mengajak seluruh umat untuk merenungkan makna sejati Natal dan bersama-sama merayakan kelahiran Sang Juru Selamat.

Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran Rm. Fransiskus Xaverius Sukendar Wignyosumarta, Pr dalam homili Misa Kudus yang dipimpinnya menyatakan setiap tahun perayaan Natal itu sama. Namun, perayaan ini menjadi bermakna bagi umat karena ambil bagian secara penuh, terutama dalam kepedulian, bertindak, dan mengambil sikap atas peristiwa iman ini.

“Kita diundang untuk mengalami transformasi di dalam kehidupan ini. Transformasinya ada pada kita ambil bagian, karena Allah sudah sedemikian besar mencintai kita,” tegas Rm. Kendar.  

Ia pun melanjutkan, orang Kristiani, terutama Katolik, berbuat baik bukan demi masuk surga atau supaya rezeki lancar. Sebab, Allah sudah menyelamatkan manusia bahkan sebelum mereka ada. “Itulah teologi Katolik atau Kristiani. Allah sudah hadir dan menyelamatkan. Maka, kita tidak hanya merasa berdosa dan tidak pantas, tetapi juga datang ke kamar pengakuan. Jangan malu dengan romo yang sudah dikenal, karena justru dapat ditemani dan didampingi,” tutur Rm. Kendar.

Usai Misa Kudus, Rm. Fransiskus Xaverius Sukendar Wignyosumarta, Pr berfoto bersama Pembina Museum Bahari Yogyakarta Laksdya TNI (Purn) Yosaphat Didik Heru Purnomo beserta istri, ketua panitia Hieronymus Budi Santoso beserta istri, anggota Lanal Yogyakarta, dan anggota Persatuan Purnawirawan TNI AL (PPAL).

Usai Misa Kudus, acara dilanjutkan dengan kegiatan ramah tamah yang menjadi momen spesial karena dihadiri anggota Badan Musyawarah Musea Daerah Istimewa Yogyakarta (Barahmus DIY), Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL), komandan dan anggota TNI AL Lanal Yogyakarta, Romo Paroki beserta Pengurus Dewan Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, Kapolsek dan Danramil Kasihan Bantul, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, umat Lingkungan Santo Andreas Sonosewu Baru, perwakilan alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta, perwakilan Alumni SMA Van Lith Muntilan, serta segenap karyawan beserta keluarga dari Museum Bahari Yogyakarta dan Dermaga Keluarga Hotel Grup.

Perayaan Natal ini juga membangun semangat kebangsaan dan kebanggaan umat Kristiani atas kekayaan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Melalui semangat ini pula, Museum Bahari Yogyakarta ingin menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan kekayaan maritim sebagai warisan bangsa.

Laksamana Madya TNI (Purn) Yosaphat Didik Heru Purnomo, pembina Museum Bahari Yogyakarta, berusaha mengakomodasi para karyawan museum dan hotel yang beriman Kristiani dalam kegiatan keagamaan melalui perayaan Natal ini.

Sebagai anggota PPAL, Didik juga melibatkan organisasi ini bersama dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal). “Jadi, kami mengundang masyarakat maritim plus komunitas museum di Yogyakarta,” terangnya.

Pada perayaan Natal tahun ini, Didik mempunyai dua harapan pribadi. Pertama, sukacita membangun empati dan silaturahmi. Kedua, perkembangan dunia maritim di Indonesia.

Sebagai purnawirawan TNI AL, Didik mengutip perkataan Yesus kepada Simon (Petrus) dalam Injil Lukas 5:4, “Bertolaklah ke tempat yang dalam ….” Namun, Didik menyesuaikannya dengan kalimat “Pergilah ke laut yang dalam.”

Mahasiswa-mahasiswi magang selaku Tim Pemapar Maritim Yogyakarta menyampaikan presentasi kemaritiman Indonesia.

“Artinya, jangan di pinggir, tetapi ke laut untuk mendapat hasil yang besar. Berkaryalah di tempat-tempat yang berupa ladang subur,” ujar Didik.

Dalam perayaan ini, ia ingin menunjukkan lautan Indonesia sangat luas. Jika dibandingkan dengan benua Eropa, bentang pulau-pulau Indonesia sepadan dengan jarak antara London sampai Turki. Namun, Indonesia telanjur menyebut diri sebagai bangsa agraris.

Dari segi pariwisata, misalnya, Didik membandingkannya dengan Karibia. Perjalanan laut dari Sabang sampai Merauke butuh waktu enam hari atau lebih. Selama itu, orang bisa singgah di Semarang, Belawan, dan tempat-tempat lainnya. Walau potensi ini bisa digarap, Didik mengakuinya sebagai cita-cita yang sangat berat.  

“Di Yogyakarta, zaman saya kecil, ditakut-takuti kalau di laut ada Nyi Rara Kidul. Jadi, dunia maritim kita tidak bisa berkembang. Padahal, SDM kita sebenarnya cocok hidup di laut. Sabar, tekun, dan kuat sehingga cocok menghadapi tantangan di sana,” pandang Didik yang selalu memotivasi anak-anak yang datang ke Museum Bahari untuk memandang laut sebagai ladang yang subur.

Museum Bahari Yogyakarta yang beralamat di Jl. R.E. Martadinata 69 Wirobrajan Yogyakarta ini berdiri pada 25 April 2009 dengan Didik selaku pembina. Bersama Dermaga Keluarga Hotel Grup, Museum Bahari Yogyakarta berupaya konsisten melestarikan warisan bangsa serta memiliki semangat tinggi dalam mengenalkan kekayaan maritim Indonesia kepada masyarakat luas.

Salah satu bentuk dedikasi Museum Bahari Yogyakarta untuk mendukung generasi penerus sebagai bagian dari perjalanan strategis kelautan Republik Indonesia adalah membina Paduan Suara “Bahari Kids Choir”. Paduan suara anak dan remaja ini juga tampil dalam perayaan Natal dengan menyuguhkan lagu-lagu Natal dan lagu-lagu daerah Nusantara.

Selain Bahari Kids Choir, acara juga dimeriahkan dengan penampilan Tari Lenggot Siwi, paduan suara dari Frater-frater CMF yang membawakan lagu Natal dan lagu daerah Flores, serta presentasi kemaritiman Indonesia oleh mahasiswa magang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *