Yogyakarta. RS Panti Rapih Yogyakarta kembali menyelenggarakan program tahunan Bidang Komite K3 berupa pelaksanaan dan prosedur yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit.
Tahun ini, RS Panti Rapih mengadakan Simulasi Bencana Gempa Bumi, Kebakaran dan Evakuasi Pasien pada Sabtu, Desember 2024. Kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi aktif antara pihak RS Panti Rapih dengan elemen eksternal dalam meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi potensi bencana.
Kegiatan ini melibatkan lebih dari 300 peserta, termasuk tenaga kesehatan RS Panti Rapih, vendor, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Panti Rapih, serta mitra strategis seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta.
Sebanyak 160 mahasiswa STIKes Panti Rapih berpartisipasi dalam simulasi tersebut dengan berperan sebagai korban serta keluarga korban gempa bumi dan kebakaran.
Simulasi yang dimulai dari pukul 07.00 hingga 12.00 tersebut mengambil tema besar “Kesiapsiagaan dan Koordinasi dalam Penanggulangan Bencana”. Simulasi dirancang dengan mengambil skenario gempa berkekuatan 5.8 Skala Richter di kawasan Yogyakarta, diikuti dengan kebakaran besar yang disebabkan oleh kebocoran gas di Auditorium Lantai 6 Gedung Rawat Jalan Terpadu Borromeus RS Panti Rapih.
Pada situasi tersebut, sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan parah, seperti retak pada plafon dan pecahan kaca yang melukai pasien serta pengunjung.

Simulasi tersebut menggunakan sistem triase dengan membagi korban ke dalam empat zona penyelamatan berbeda berdasarkan tingkat keparahan korban bencana. Keempat zona tersebut antara lain, zona hijau untuk korban luka ringan, zona kuning untuk korban dengan perawatan segera, zona merah untuk korban cedera serius, dan zona hitam untuk korban meninggal dunia.
Dalam menyortir korban bencana ke dalam zona berbeda, digunakan metode Simple Triage and Rapid Treatment (START) yang dapat menentukan prioritas penanganan korban bencana dalam waktu kurang dari 60 detik. Metode dilakukan dengan pemeriksaan individu secara cepat lewat respiratory (pernapasan), perfusion (sirkulasi), dan mental status (kesadaran). Korban bencana akan diprioritaskan pada korban yang memiliki potensi untuk selamat.
Sebagai bentuk kolaborasi aktif RS Panti Rapih dengan pihak eksternal, dalam simulasi tersebut turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Drs. Nur Hidayat, M.Si. bersama 10 orang tim BPBD Kota Yogyakarta. Sedangkan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta, turut hadir Kepala Seksi Operasional Penyelamatan dan Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun, Timur Dilianto, A.Md., beserta satu regu Damkarmat yang dilengkapi 1 unit mobil pemadam serta lima pendamping simulasi.
Dalam konteks simulasi bencana kebakaran, Timur mengungkapkan bahwa Kota Yogyakarta, dengan luas wilayah 32,8 km² dan tingkat kepadatan penduduk sebanyak 16.000 jiwa per km², telah mencatat 70-an kasus kebakaran sepanjang tahun 2024.
Menurutnya, 70% dari kejadian tersebut disebabkan oleh human error, khususnya dalam pemasangan aliran listrik yang tidak memenuhi standar keselamatan. Simulasi ini diharapkan menjadi wadah kolaboratif antarinstansi untuk meningkatkan kesadaran dan mitigasi risiko bencana di wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.
Dalam memahami simulasi ini, Nur Hidayat mengatakan perlu adanya tranformasi paradigma mitigasi bencana alam sebagai bentuk kesadaran masyarakat dan pihak rumah sakit terkait persoalan kebencanaan.

“Sekarang ini paradigma mulai bergeser ke manajemen pengurangan risiko bencana, salah satunya adalah melaksanakan kesiapsiagaan dan upaya pencegahan bagaimana semisal terjadi kebencanaan di lingkungan kita,” jelas Nur Hidayat.
Direktur Utama RS Panti Rapih, dr. Stephani Maria Nainggolan, M.Kes. bertindak sebagai Komandan Rumah Sakit selama simulasi berlangsung. Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rumah sakit untuk memastikan kesiapan menghadapi berbagai situasi darurat.
“Simulasi ini adalah langkah nyata dalam menilai dan menyempurnakan rencana penanggulangan bencana yang telah disusun. Kami berharap hasil evaluasi kegiatan ini dapat menjadi acuan untuk terus meningkatkan keamanan dan kualitas pelayanan RS Panti Rapih,” ujar dr. Stephani.
Simulasi ini bertujuan untuk menguji rencana penanggulangan bencana, menginternalisasi regulasi, melatih evakuasi pasien dan pengunjung, mengelola korban serta melatih komunikasi darurat secara efektif untuk para tenaga kesehatan. Selain itu simulasi ini menjadi bahan evaluasi dalam mengidentifikasi sarana dan sistem penanggulangan bencana di RS Panti Rapih.
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi lintas unit di RS Panti Rapih bekerja sama dengan instansi eksternal. “Kolaborasi antarunit dengan mitra eksternal adalah kunci keberhasilan simulasi ini. Kami sangat berterima kasih kepada BPBD Kota Yogyakarta dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta yang memberikan dukungan penuh selama pelaksanaan kegiatan ini,” terang dr. Hieronimus Indra Wira Kusuma, AIFO-K, Ketua Komite K3 RS Panti Rapih.
Ia pun mengatakan, keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergi lintas unit di RS Panti Rapih bekerja sama dengan instansi eksternal.

“Kolaborasi antarunit dengan mitra eksternal adalah kunci keberhasilan simulasi ini. Kami sangat berterima kasih kepada BPBD Kota Yogyakarta dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Yogyakarta yang memberikan dukungan penuh selama pelaksanaan kegiatan ini,” ungkap Hieronimus.
Hieronimus menambahkan, untuk program simulasi tahun mendatang, skenario yang digunakan perlu lebih variatif dan dirancang dengan persiapan yang minim. Hal ini bertujuan agar simulasi terasa lebih realistis sehingga respons cepat dan kesiapan seluruh unit rumah sakit benar-benar teruji dalam menghadapi bencana darurat.
Sebagai tindak lanjut dan bahan evaluasi, hasil diskusi dengan seluruh pihak yang terlibat akan dirangkum menjadi rekomendasi yang akan diterapkan dalam penyempurnaan Hospital Disaster Plan (HOSDIP) RS Panti Rapih, guna meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana di masa mendatang.
Dr. Stephanie mengatakan, pasien dan korban yang dilayani di RS Panti Rapih adalah tamu Ilahi yang perlu dirawat dengan sepenuh hati apa pun kondisinya. Melalui simulasi ini, RS Panti Rapih menunjukkan komitmennya dalam memastikan keamanan bagi tamu Ilahi-nya.
“Simulasi ini dapat memperhitungkan apakah tindakan-tindakan yang kami lakukan memiliki respons yang tanggap dan terkordinasi selama penanganan bencana darurat. Dan, yang utama adalah sebagai bentuk memastikan keamanan dan keselamatan tamu Ilahi kita,” pungkas dr. Stephanie.








