Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Desideria Cempaka Wijaya M., S.Sos., M.A., Ph.D. bersama tim multidisipliner berhasil meraih hibah Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 11 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hibah tersebut akan digunakan untuk mengembangkan konsep wisata inklusif bagi wisatawan dengan disabilitas di kawasan kampung wisata budaya Yogyakarta.
Tim peneliti tersebut terdiri dari I Nyoman Apraz Ramatryana, Ph.D. (Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta), Gilang Ahmad Fauzi S.S., MDS., M.Sc. (Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta), dan Mutiara Cininta S.T.M.Arch. (Fakultas Teknik UAJY).
Melalui hibah tersebut, tim mengembangkan penelitian berjudul “Rancang Bangun Multimedia dan Multisensory Guidebook Inklusif untuk Turis Disabilitas di Kampung Wisata Budaya Yogyakarta”. Penelitian ini akan berlangsung selama dua tahun dan direncanakan dimulai setelah penandatanganan kontrak pada bulan September 2026.
Penelitian akan berfokus pada tiga kampung wisata di kawasan Kotagede. Tim akan mengembangkan panduan wisata berbasis multimedia dan multisensori yang diharapkan dapat membantu wisatawan dengan disabilitas menikmati kawasan wisata secara lebih nyaman.
“Di sini, kami akan lebih banyak memperhatikan turis disabilitas netra, tuli, dan juga wheelchair,” ujar Desideria.
Menurut Desideria, pendekatan multidisipliner diperlukan karena pengembangan destinasi wisata inklusif perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kenyamanan pengunjung, arsitektur, hingga teknologi.
“Modeling gambarnya itu dibuat oleh orang-orang arsitek, tapi teknologinya dibuat oleh orang dari teknik elektro, dan ada dari aspek pariwisata juga,” tambahnya.
Desideria mengungkapkan bahwa ia ingin tempat wisata turut inklusif dalam memfasilitasi disabilitas dengan penerapan multisensori, karena menurutnya setiap orang memaknai suatu tempat dengan sensor yang berbeda. Ia memberi contoh teman-teman netra bisa menikmati wisata dengan meraba, teman tuli disediakan juru bahasa isyarat, hingga yang memakai kursi roda akan disediakan augmented reality atau virtual reality di depan bangunan, sehingga ia bisa tetap menikmati representasi bangunan yang disuguhkan.
“Karena sensory experience bagi disabilitas itu adalah survival, maka sensory mereka jauh lebih tajam,” ungkap Desideria.
Desideria berharap penelitian ini bisa menjadi model untuk nantinya diaplikasikan, sehingga bisa membuka akses yang lebih besar untuk destinasi wisata yang lebih inklusif khususnya bagi teman-teman disabilitas.














