Kelas Eksperimen Wujud Pendidikan Karakter yang Holistik

News1070 Views

Wates. Tim Peduli Pendidikan Paroki Wates berkerja sama dengan SMP Kanisius Wates belum lama ini menyelenggarakan Seminar Pendidikan di Aula Ibuning Pirembag Sae Paroki Wates.

Seminar Pendidikan ini mengangkat tema “Kelas Eksperimen Wujud Pendidikan Karakter yang Holistik” dan melibatkan 173 orang peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, wali murid, dan pemerhati pendidikan di wilayah Wates, Kulon Progo.

Tema seminar pendidikan ini diangkat sebagai alternatif metode yang dapat diimplementasikan dalam mengembangkan karakter anak yang holistik. Pengembangan karakter anak menjadi bagian penting dalam perwujudan pendidikan di sekolah.

Oleh karena itu, seminar ini menggundang tiga pembicara, yaitu Arif Prastowo, S.Sos., M.Si selaku Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr M.Hum. selaku Praktisi Pendidikan, dan Rian Antony, M.I.Kom., selaku mahasiswa Doktoral Universitas Negeri Yogyakarta.

Ketua Tim Peduli Pendidikan Paroki Wates sekaligus Kapolsek Wates, Kompol Stefanus Sudarsono, menyampaikan pentingnya sekolah dalam membentuk karakter siswa yang baik sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam mengembangkan kemajuan dan ketertiban dalam masyarakat.

“Sebagai seorang polisi, saya memiliki kewajiban untuk berperan aktif dalam mengembangkan kemajuan masyarakat, khususnya di wilayah Wates. Oleh karena itu, peran serta sekolah menjadi bagian penting untuk mewujudkan kemajuan ini melalui pengembangan karakter anak yang holistik,” ujarnya.

Kemudian, Pastor Paroki Wates Rm. Dr. Aloysius Budi Purnomo, Pr berpesan tentang pentingnya pengembangan karakter anak yang holistik integral sebagai perwujudan pendidikan yang mendukung semangat ekologis religious.

Menurutnya, pendidikan sudah seharusnya diarahkan pada pengembangan karakter holistik integral dan itu hanya dapat diwujudkan dengan keterlibatan semua pihak untuk mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik.

Pembicara pertama, Rian Antony membahas tentang pentingnya memahami karakter generasi Alfa dalam mengembangkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan kondisi mereka. Ia juga menambahkan pentingnya integrasi teknologi dalam proses pembelajaran sehingga mampu memberikan peluang besar bagi inovasi dan keberhasilan pembelajaran. Namun, ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab dan etika dalam pemanfaatan tekologi di dalam proses pembelajaran.

“Di era saat ini, integrasi teknologi dalam pembelajaran mengharuskan seorang guru untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju. Ini penting di tengah perkembangan artificial intelegent yang memudahkan setiap orang mengerjakan segala sesuatu dengan lebih praktis dan cepat. Oleh karena itu, peran guru menjadi penting untuk mengajak siswa dalam memanfaatkan teknologi dengan bertanggung jawab dan beretika,” tuturnya.

Selanjutnya, Arif Prastowo menyampaikan arah pendidikan di Kulon Progo yang lokal tetapi menglobal. Ia memberikan contoh-contoh metode pembelajaran menarik yang diterapkan oleh berbagai di sekolah di wilayah Kulon Progo. Ia pun menantang para peserta untuk berinovasi dalam mengembangkan sekolah yang unggul dan kreatif sehingga menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak.

“Di wilayah Kulon Progo, beberapa sekolah sudah menerapkan metode belajar yang menarik, dinamika pembelajarannya mengajak anak untuk bereksloprasi di alam. Proses ini semakin menarik dengan keterlibatan anak, orang tua, dan masyarakat dalam proses pembelajaran. Dinamika pembelajaran seperti ini penting untuk mengembangkan karakter anak yang positif. Oleh karena itu, mari berinovasi untuk mengembangkan sekolah yang menyenangkan bagi anak,” ajaknya.

Terakhir, Rm. Edy Wiyanto mengkritik praksis pendidikan yang masih berorientasi pada kecerdasan intelektual tetapi mengabaikan kemampuan untuk mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, atau menemukan makna hidup. Oleh karena itu, ia menawarkan kelas eksperimen sebagai jawaban dalam pembelajaran yang beroreintasi pada pemekaran diri anak melalui pengalaman perjumpaan dan ujicoba kreasi-ide sehingga anak mampu berkreasi dan berinovasi dalam kerangka aktivitas yang positif.

“Saya melihat praktik pendidikan masih banyak berfokus dalam mengembangkan kemampuan akademik anak tanpa banyak menyentuh aspek lain seperti kemampuan teknis dan kemampuan nonakademik, padahal kemampuan ini sangat penting bagi kehidupan sehari-hari anak. Kelas eksperimen yang menjadi tawaran dalam seminar ini memberikan alternatif baru dalam menjalankan pendidikan yang mengarah pada perkembangan karakter anak secara holistik sehingga mampu berkembang dan adaptif dengan perubahan zaman,” pandang Rm. Edy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *