Kancil dan Keong

Renungan Harian1636 Views

Puncta 21 Mei 2024
Selasa Biasa VII
Markus 9:30-37

SUATU pagi, kancil dengan sombongnya menantang keong untuk lomba lari. “Kalau kalian bisa mengalahkan saya, kalian hebat! Saya akan acungi jempol. Apakah kalian mau berlomba lari dengan saya?” kata kancil merasa jemawa.

Keong berembuk dengan teman-temannya dan mereka menyanggupi untuk lomba lari melawan kancil.

Pada hari yang sudah ditentukan dimulailah lomba lari jarak jauh kancil lawan keong.

Peluit berbunyi, kancil berlari dengan kencang. Setiap kali berhenti, kancil memanggil keong. Ternyata keong sudah ada di depan kancil. Kancil berlari lebih kencang lagi. Dia memanggil keong, suara keong terdengar di depan jauh. Begitu berulang-ulang dan akhirnya kancil mengaku kalah karena kelelahan.

Ternyata keong sudah mengorganisasi teman-temannya lebih dulu, agar mereka berjajar di tempat-tempat yang akan dilewati kancil. Ketika kancil berhenti di suatu tempat, keong sudah berada di depannya.

Dalam pepatah Jawa ada nasihat, “Aja tumindak adigang, adigung, lan adiguna.” Jangan menyombongkan kehebatan diri sendiri.

Adigang itu seperti kijang atau kancil tadi. Merasa bisa berlari secepat kilat lalu menyombongkan diri. Adigung itu seperti gajah. Merasa badannya besar lalu menyepelekan yang kecil. Adiguna itu seperti ular. Merasa bisanya beracun lalu bertindak sewenang-wenang terhadap yang lain.

Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya, “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya, dan menjadi pelayan semuanya.”

Kehebatan seseorang tidak dinilai hanya dari satu segi. Kehebatan seseorang justru terlihat dari bagaimana dia memperlakukan orang lain di sekitarnya. Menghargai dan menghormati yang kecil dan lemah adalah tanda kebesaran diri seseorang.

Yesus melambangkan mereka yang lemah seperti seorang anak kecil. “Barang siapa menerima seorang anak seperti ini demi nama-Ku, dia menerima Aku,” kata Yesus.

Apakah kita mau mendahulukan atau mengutamakan orang lain khususnya mereka yang kecil, lemah dan menderita?

Hati-hati kalau berolahraga,
Jantung dijaga agar sehat semua.
Yang terhebat menurut dunia,
Dipandang rendah di dalam sorga.

Cawas, belajar rendah hati….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *