Jelang Tahbisan, Mgr. Maksimus Regus Tanam Dua Pohon dan Bangun Kultur Antisampah

News1452 Views

Manggarai Barat. Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus menanam dua pohon di rumah Keuskupan Labuan Bajo pada Senin, 28 Oktober 2024. Dua pohon yang ditanam adalah pohon beringin dan pohon evergreen. Dalam penanaman pohon ini, Mgr. Maksi didampingi Vikep Labuan Bajo Rm. Richardus Manggu, Pr, Rm. Lorens Sopang, Pr, Rm. Frans Nala, Pr, dan Rm. Martinus Tolen, Pr.

Ketua panitia tahbisan uskup baru Labuan Bajo, Rm. Risno Maden, Pr, menyebutkan pohon beringin menjadi pohon kenangan keuskupan baru Labuan Bajo dan pohon evergreen menjadi pohon kenangan uskup perdana Keuskupan Labuan Bajo.

Ketua panitia seksi kebersihan tahbisan uskup baru Vinsensius Gande yang merupakan Kadis Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Barat menyampaikan, “Seksi kebersihan dan ekologis telah melaksanakan tiga jenis kegiatan, yakni kebersihan lingkungan, penanaman terumbu karang, dan penanaman pohon.”

Menurut Vinsensius, kegiatan kebersihan lingkungan ini dibagi dalam dua bagian. Pertama pada Jumat, 25 Oktober 2024 telah dilaksanakan kegiatan di Pantai Binongko dengan melibatkan semua instansi pemerintah maupun swasta dan seluruh Kota Labuan Bajo.

Kemudian, pada Senin, 28 Oktober 2024 dilakukan kebersihan lingkungan yang disatukan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan dilaksanakan siswa-siswi dari SMAK Seminari, SMAK St. Ignasius Loyola, dan SMP Arnoldus.

Lokasi kegiatan kebersihan SMAK Seminari berada di istana keuskupan, sedangkan SMAK St. Ignasius Loyola dan SMP Arnoldus melakukannya di depan Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, lantas menuju Gereja Santu Petrus tempat pelaksanaan upacara tahbisan uskup baru Labuan Bajo.

Selain itu, ada kegiatan kebersihan yang dilakuakn semua komunitas umat basis sekota Labuan Bajo. “Semua kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pentahbisan uskup baru Labuan Bajo yang disatukan dengan kegiatan dalam rangka hari sunpah pemuda. Kegiatan penanaman terumbu karang sudah kita lakukan di Binongko dan berjalan dengan baik sehingga diharapkan kegiatan sore ini akan berlangsung baik pula,” terang Vinsensius.

Pohon beringin menjadi pohon kenangan keuskupan baru Labuan Bajo.

Dua jenis pohon yang disiapkan oleh panitia mengandung filosofi yang sangat tinggi jika dimaknai dari aspek antropolgi, pendidikan, maupun religius. Pohon beringin ditanam di sudut kiri depan rumah keuskupan, sedangkan pohon evergreen ditanam di bagian belakang arah utara dari rumah keuskupan.

“Beberapa hari ke depan kita akan menerima banyak tamu istimewa. Mulai besok ada delapan uskup yang akan datang dan tiba Labuan Bajo sampai tanggal 31 Oktober 2024. Akan ada 44 uskup dan satu kardinal yang akan memimpin perayaan tahbisan tanggal 1 November 2024,” terang Mgr. Maksi sembari menambahkan, “Kita mendapatkan berkat atas kunjungan dari para gembala seluruh Indonesia yang datang ke Labuan Bajo. Hal ini baru pertama kali terjadi di Labuan Bajo.”

Mgr. Maksi pun menegaskan bahwa dalam rangka tahbisan ada beberapa kegiatan dalam kaitannya dengan ekologi. Beberapa hari sebelumnya ada kegiatan di Pantai Binongko, yaitu rehabilitasi terumbu karang.

Sementara itu, penanaman dua pohon menjadi simbol titik berangkat atau titik nol Keuskupan Labuan Bajo. Dua pohon ini adalah saksi hidup dari perjalanan Keuskupan Labuan Bajo. “Kita berterima kasih kepada adik-adik seminari dan semua yang menjadi bagian dari sejarah pembentukan Keuskupan baru ini,” ucap Mgr. Maksi.

Ia pun menyatakan, keuskupan tanpa seminari itu rasanya hambar, karena seminari sebenarnya adalah jantung dari keuskupan. Meski demikian, tidak semua keuskupan di Indonesia memiliki seminari.

“Anda semua adalah kekasih hati keuskupan. Apalagi seminari ini lokasinya dekat dengan keuskupan. Perjalanan Keuskupan ini menjadi sebuah perjalanan masa depan. Masa depan itu adalah adik-adik sekalian,” tutur Mgr. Maksi.

Karena itu, Mgr. Maksi menegaskan kepada semua anak seminari bahwa mereka bukan tamu, melainkan bagian dari keuskupan ini. “Oleh karena itu, kegiatan ini adalah kegiatan kita sendiri dan sebagai satu keluarga kita wajib menyambut tamu-tamu yang datang,” ajak Mgr. Maksi. “Tapi, lebih dari itu, tujuan jangka panjang dari kegiatan kebersihan dan penanaman pohon pada hari ini adalah agar kita bisa membangun kultur antisampah. Setiap hari Labuan Bajo memproduksi sampah tiga puluh tiga ton per hari.”

“Karena itu, budaya antisampah dan budaya kebersihan menjadi bagian dari kehidupan kita,” lanjut Mgr. Maksi. “Ada ungkapan menyatakan kebersihan adalah bagian dari iman. Kebersihan itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Dua pohon ini menjadi saksi perjalanan hidup kita bersama dalam menjalankan Keuskupan Labuan Bajo dan orang-orang yang percaya kepada Kristus.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *