Yogyakarta. Melihat asalnya, ternyata lagu-lagu dalam buku Madah Bakti berasal dari dan oleh masyarakat umum, antara lain nelayan, guru, petani, seniman, ibu rumah tangga, dan lainnya. Ini bukti bahwa Madah Bakti benar-benar berasal dari akar rumput. Artinya, lagu-lagunya berasal dari seluruh umat yang mengilhaminya. Bisa dilihat dari macam lagunya yang menceritakan tentang alam kehidupan manusia dan memikat untuk dipersembahkan kepada Tuhan Sang Pencipta.
Hal ini disampaikan dalam diskusi panel sesi pertama oleh Elisabeth Twitien Sezi Colasina, Pimpinan Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta dalam Kongres Nasional Musik Liturgi Inkulturasi 2025 di Auditorium Auditorium Puskat Jl. Ahmad Jazuli 2 Yogyakarta, Rabu, 9 Juli 2025.
“Inkulturasi seperti dalam Madah Bakti adalah karya bersama yang saling melengkapi. Maksudnya, dalam karyanya menampilkan keduanya, bisa bersinergi dengan hal yang berbau modern. Seperti contoh penggunaan organ Stagea, sebagai wakil teknologi modern di gereja, dengan memadukan alat musik tradisional namun tetap enak didengar. Itulah ciri dari inkulturasi yang sesungguhnya, berpadunya musik yang saling mengisi bentuk balutan kebersamaan,” papar Elis.
Penyaji kedua, Patrick J.D. Wijnhamer, B.Mus., M.Mus.Ed. sebagai praktisi dan akademisi mulai mencicipi lagu inkulturasi ketika ke PML dan melihat anak kecil dalam bermain musik. Dia lantas menyebut, sebenarnya anak kecil adalah Gereja sendiri sehingga harus tahu cara mendidik, apa yang akan diajarkan, dan menyajikan hal yang baik-baik kepada mereka.
“Dengan Inkulturasi kita dapat merasakan rumah kita sehingga serasa milik kita sendiri. Maka, inkulturasi patut dipakai dan dipertahankan. Sebagaimana musik yang berbeda-beda, umat juga berasal dari mana mana, namun saling melengkapi dan membutuhkan karena liturgi berasal dari Allah,” tutur Patrick.
Ia pun mengingatkan peserta kongres agar jangan menganggap tradisi itu ketinggalan zaman, tetapi perlu diubah maknanya. “Sebenarnya itu adalah akar kita, akar budaya. Maka, hendaklah kita rawat, kita siram, kita pupuk agar tetap berkembang,” tegas Patrick.
Gereja Indonesia bisa sebagai contoh regional dan dunia dengan lagu inkulturasi yang menyentuh hati dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan gamelan dan alat musik tradisional lainnya.
Menilik sejarah perjalanannya, PML sejak tahun 1971 mencari ranah bahan inkulturasi. Almarhum Rm. Karl Edmund Prier, SJ dan Paul Widyawan mencari mutiara yang terpendam di seluruh pelosok Nusantara.
Dengan tantangan pesawat rusak, perahu yang sempit, di beberapa tempat bahkan harus merelakan berpacu dengan penyakit malaria mengintai, mereka berdua menghasilkan Madah Bakti yang berakar dari hati, berasal dari tujuh belas ribu pulau, dengan banyak irama, bahasa, tetapi satu hati. Inilah wujud kebinekaan dalam balutan suara untuk kebutuhan Gereja dan tentu demi kemuliaan Tuhan.
Danan Murdyantoro













