Perkembangan pendidikan dari tahun ke tahun selalu meningkat pesat sejalan dengan perkembangan teknologi. Perkembangan ini menuntut peserta didik untuk menguasai kompetensi abad ke-21 sebagai generasi Z, yang tidak bisa lepas dari perkembangan dan kemajuan teknologi.
Beberapa keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan setiap peserta didik salah satunya adalah kemampuan akan kompetensi literasi dasar, yaitu kompetensi dalam memecahkan masalah kompleks dan kualitas karakter dasar yang dimiliki oleh seorang peserta didik.
Keterampilan literasi dasar meliputi literasi membaca, numerasi, sains, ICT, finansial, budaya, dan kewarganegaraan. Terkait dengan hal tersebut, untuk memecahkan masalah yang kompleks, peserta didik harus memiliki kompetensi berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan, kolaboratif. Kemampuan ini menuntut adanya karakter yang utuh serta seimbang.
Kualitas karakter tercermin dan bisa dilihat dari kemampuan peserta didik dalam beradaptasi pada lingkungan yang dinamis. Bisa dikatakan ada keutuhan dan keseimbangan antara “olah pikir, olah rasa, dan olahraga”.
Berdasarkan karakter tersebut, hal yang perlu diajarkan dan dibadankan kepada setiap peserta didik antara lain 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) berkebinekaan global; 3) bergotong royong; 4) mandiri; 5) bernalar kritis; dan 6) kreatif.
Terkait dengan tujuan dari pendidikan karakter tersebut tidak lain adalah tentang Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam kurikulum merdeka.
Arti penting pendidikan
Sekolah tidak hanya sekadar sebuah bangunan tempat peserta didik mendapatkan tempat yang layak saat menerima pendidikannya, tetapi juga merupakan lembaga pembelajaran yang dirancang untuk mendidik dan memberikan pengajaran kepada peserta didik di bawah pengawasan pendidik.
Akan tetapi, lebih dari itu sekolah harus bisa menanamkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi dasar dan fondasi peserta didik untuk menggapai masa depan. Maka, sekolah bisa dikatakan sebagai sebuah taman yang bisa membuat peserta didik menjadi gembira, nyaman, dan kerasan untuk berproses serta berdinamika sepanjang hari sebagai taman siswa.
Hal ini sejalan dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang sering disebut dengan Saka Guru, yaitu “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Sebetulnya, maksud dari ajaran Ki Hadjar Dewantara itu apa? Maksudnya, Ing Ngarsa Sung Tuladha adalah di depan harus memberikan contoh, Ing Madya Mangun Karsa di tengah harus membangun niat, dan Tut Wuri Handayani dibelakang harus mendorong.

Berdasarkan ajaran tersebut, bisa dikatakan bahwa setiap lembaga pendidikan formal pasti mengupayakan terciptanya peserta didik yang mengalami kemajuan setelah mengalami proses pembelajaran. Selain dalam hal akademik, sekolah juga memiliki peran dalam pengembangan kemampuan nonakademik para peserta didik.
Dalam proses pembelajaran, literasi menjadi hal yang sangat penting, karena segala hal yang dipelajari oleh peserta didik semuanya memerlukan kompetensi literasi untuk bisa diserap menjadi pengetahuan. Terlebih dalam Kurikulum Merdeka, meningkatkan literasi peserta didik sangat penting untuk memenuhi kompetensi pembelajaran 4C (Critical Thinking, Creative Thinking, Collaboration, and Communication).
Hal tersebut membuat proses pembelajaran menjadi semakin bermakna karena tidak hanya sekadar transfer knowlegde, tetapi juga ada pembadanan dalam pembentukan karakter. Salah satu bentuk pengembangannya adalah tentang kompetensi literasi dasar yang dilaksanakan sebagai gerakan literasi sekolah.
Gerakan literasi sekolah adalah sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti peserta didik yang bertujuan agar peserta didik memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat.
Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.
Pendampingan karakter
Sesuai dengan tagline SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), “Karakter Hebat Prestasi Dapat”, sejatinya terkait bagaimana suatu sekolah bisa mengarahkan setiap peserta didik untuk melatih dan mengembangkan kecakapan menjadi pribadi berkarakter.
SMP Kanisius Kalasan sebagai salah satu lembaga pendidikan formal berupaya meningkatkan kemampuan literasi dan membentuk karakter peserta didik melalui kegiatan GITAR KANSAS (Gerakan Literasi SMP Kanisius Kalasan).
Kegiatan ini mengasah bakat menulis setiap peserta didik melalui beberapa tahap. Tahap pertama Gitar Kansas yaitu workshop menulis untuk menyeleksi tingkat kelas literasi yang meliputi kelas lanjutan dan kelas dasar.
Tahap kedua peserta didik melakukan editing naskah karya tulis sendiri sehingga memiliki pengalaman nyata dalam mengolah kata dan merangkainya dalam kalimat yang bermakna.
Tahap ketiga mencetak karya peserta didik kelas literasi menjadi buku. Kegiatan Gitar Kansas tahun 2023 berhasil mencetak dua buku dengan judul Karenamu, Karena Dirimu dan Aku Bisa Karena Aku Mau.
Gitar Kansas membuat peserta didik mampu mengolah pikiran dan rasa dalam mendalami makna dari setiap perjumpaan, relasi, dan pengalaman nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini pada akhirnya dapat meningkatkan pencapaian prestasi akademik peserta didik.
Tentunya hal tersebut tidak bisa dilakukan sendiri oleh pendidik atau sekolah saja, melainkan harus menjadi tugas dan tanggung jawab semua stakeholder dalam dunia pendidikan, yaitu yayasan, dinas pendidikan, perguruan tinggi, serta kementerian pendidikan yang bisa merancang sebuah kurikulum yang kontekstual untuk generasi Z ini.
Oleh karena itu, untuk menjawab kualitas pendidikan, saat ini sudah dicanangkan dan diimplementasikan kurikulum merdeka (merdeka belajar). Artinya, kurikulum harus dibuat dan diimplementasikan sesuai dengan konteks zaman, dan zaman ini adalah era milenial untuk generasi Z dalam dunia pendidikan.
Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah pernyataan yang mengatakan, “Hasil itu adalah pengandaian, tetapi yang utama dan pertama itu adalah proses.” Artinya, proses yang dilakukan tidak akan membohongi dari hasil yang didapatkan. Kalau prosesnya baik, pasti hasilnya baik dan sebaliknya. Hal ini sama artinya dengan “seseorang akan bisa memberi, jika dirinya sendiri sudah memiliki”.

Sebagai jawaban atas perkembangan zaman dan teknologi, SMP Kanisius Kalasan menghidupkan kembali pendampingan peserta didik dengan mengobarkan semangat Kanisius lewat pendidikan karakter yang kontekstual saat ini.
Atas dasar itulah SMP Kanisius Kalasan membantu peserta didik dalam menyadari eksistensi dirinya di lingkungan sekitar yang kemudian diharapkan menjadi pengisi dunia yang mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia dalam kehidupan sehari-hari dengan dimulai dari pribadi yang memiliki, kesadaran dan tanggung jawab sebagai pribadi yang dewasa serta mandiri.
Artinya, bisa sebagai profil peserta didik SMP Kanisius yang benar-benar bisa melaksanakan dan mewujudkan nilai-nilai Kanisius, yaitu keunggulan, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan kemerdekaan yang disingkat dengan 5 K.
Terkait dengan kemampuan mewujudkan tersebut, tujuan utama pendidikan di sekolah ini bisa dikatakan berhasil dan semua itu adalah untuk kemulian Allah yang lebih besar. Identitas SMP Kanisius Kalasan dengan tegas dan jelas mewartakan Tuhan sebagai dasar bagi para peserta didik menjadi pewarta kasih Tuhan secara nyata dalam kehidupan disekitarnya.
Oleh karena itu, peserta didik perlu menyadari kehadiran-Nya dalam diri pribadi dengan memiliki pemahaman yang utuh tentang spiritualitas Kanisius (5 K) sebagai wujud diri sebagai pribadi berkarakter dalam kehidupan sehari-hari.
Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si
Guru SMP Kanisius Kalasan








