Di Tengah Perbedaan, Kasih Menyatukan

Pesan Toleransi dari Uskup Labuan Bajo untuk Komunitas Muslim di Masjid Al Munawwarah Terang

News724 Views

Terang,  Semangat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama kembali tampak indah di Labuan Bajo. Dalam suasana penuh kehangatan, Uskup Labuan Bajo menyerahkan hewan kurban kepada komunitas Muslim di Masjid Al Munawwarah Terang.

Suasana hangat, penuh persaudaraan, dan sarat nuansa kekeluargaan menyelimuti kunjungan pastoral Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, ke Masjid Besar Masjid Al Munawwarah Terang pada Sabtu (23/05/ 2026).

Dalam kesempatan tersebut, Uskup Labuan Bajo menyerahkan seekor sapi kurban kepada komunitas Muslim Terang sebagai tanda persaudaraan dan dukungan menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.

Kebersamaan Mgr Regus dengan tokoh-tokoh agama Islam

Mgr. Maksi hadir bersama jajaran pimpinan Keuskupan Labuan Bajo, yakni Vikaris Jenderal, Rm. Rikard; Sekretaris Jenderal, Rm. Frans Nala; Ekonom Keuskupan, Rm. Martin Wilian; Vikaris Episkopal Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi; Pastor Paroki Lando, Rm. Sony Selatan; serta perwakilan Pusat Pastoral, Rm. Lian Angkur.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh keluarga besar Muslim Terang. Prosesi penerimaan diawali dengan pengalungan selendang dan kepok adat Manggarai sebagai simbol penghormatan dan penerimaan persaudaraan. Suasana akrab dan penuh sukacita tampak mewarnai seluruh rangkaian perjumpaan tersebut.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Boleng, Bapak Hasanudin, S.Ag.; Imam Masjid Besar Al Munawwarah Terang, Bapak Ruslin; Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Besar Al Munawwarah Terang, Bapak Ir. Sulaimana; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Boleng, Bapak Tajuddin, S.Ag.; serta Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Boleng, Bapak Ismail Kanis, S.Pd., bersama para tokoh agama dan masyarakat Muslim setempat.

Dalam sambutannya, Imam Masjid Besar Al Munawwarah Terang, Bapak Ruslin, menyampaikan rasa syukur dan kegembiraan atas kunjungan perdana Uskup Labuan Bajo ke komunitas Muslim Terang.

Acara kebersamaan lintas iman

“Kami sangat senang menyambut kehadiran Bapa Uskup Labuan Bajo di tengah kami. Memang kami sudah mendengar bahwa sudah ada Uskup Labuan Bajo, tetapi baru kali ini kami dapat berjumpa langsung. Bapa Uskup tidak hanya datang mengunjungi kami, tetapi juga membawa oleh-oleh berupa hewan kurban. Ini sungguh luar biasa.

Kehadiran Bapa Uskup meneguhkan kami umat Muslim yang akan melaksanakan upacara kurban, sekaligus meneguhkan kebersamaan kami dengan keluarga-keluarga Katolik yang sudah lama hidup berdampingan secara harmonis di sini. Kami berharap akan ada perjumpaan-perjumpaan
berikutnya,” ungkapnya.

Dalam sapaan persaudaraannya, Mgr. Maksimus Regus menegaskan pentingnya membangun silaturahmi lintas iman sebagai fondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

“Perjumpaan ini sangat istimewa karena berlangsung di halaman Masjid Besar Al Munawwarah, simbol persekutuan umat Muslim di tempat ini. Hari ini persaudaraan itu diperluas, tidak hanya dengan sesama umat Muslim, tetapi juga dengan kami umat Katolik yang ada di Paroki ini dan Keuskupan Labuan Bajo.

Kita perlu terus menjalin silaturahmi dan persaudaraan, sebab sesungguhnya kita berasal dari sumber yang sama. Hanya cara kita memaknai dan menghayati hidup dari sumber yang sama itu yang berbeda,” tutur Mgr. Maksi.

Kegiatan Penanaman

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa penyerahan hewan kurban tersebut merupakan tanda kasih persaudaraan dan dukungan Gereja Katolik kepada umat Muslim yang akan merayakan Idul Adha 1447 Hijriah.

“Pada hari ini kami membawa kado berupa hewan kurban sebagai tanda persaudaraan dan dukungan bagi keluarga-keluarga Muslim di sini yang akan merayakan Idul Adha. Semoga perayaan ini membawa berkat berlimpah dan damai sejahtera bagi kita semua,” lanjutnya.

Sementara itu, Pastor Paroki Lando, Rm. Sony Selatan, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Uskup Labuan Bajo di tengah keluarga besar Muslim Terang. Menurutnya, kunjungan tersebut semakin meneguhkan relasi persaudaraan yang telah lama terbangun di
wilayah tersebut.

“Kehadiran Bapa Uskup sungguh meneguhkan kebersamaan dan persaudaraan kami yang sejak lama terbina di sini. Semoga kami terus memelihara dan merawat persaudaraan ini dalam kehidupan bersama selanjutnya,” ujarnya.

Kunjungan persaudaraan ini juga ditandai dengan penanaman beberapa jenis pohon secara simbolis sebagai tanda komitmen bersama untuk merawat alam dan melestarikan lingkungan hidup. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa menjaga ciptaan merupakan panggilan bersama
setiap agama dan seluruh umat manusia.

Aksi ini juga mengejawantahkan secara konkret harapan yang terkandung dalam moto kegembalaan Mgr. Maksi, “supaya semua diselamatkan oleh-Nya”. Bahwasannya, semua manusia bersama segenap ciptaan mesti bergandengan tangan untuk mewujudkan kehidupan
yang lebih baik dan keselamatan.

Dalam konteks ini, perjumpaan lintas agama ini memberi warna bagi tahun “Persekutuan Sinergis” yang menjadi fokus pastoral Keuskupan Labuan
Bajo 2026.

Selama ini, Keuskupan Labuan Bajo secara konsisten memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga Muslim yang merayakan upacara keagamaan, secara khusus Idul Adha, melalui penyerahan hewan kurban.

Tradisi ini menjadi wujud nyata toleransi, sikap saling menghormati, dan penghargaan antarumat beragama yang hidup berdampingan di wilayah
Keuskupan Labuan Bajo.

Komitmen tersebut akan terus diwujudkan melalui dialog lintas iman, karya sosial-karitatif, pelayanan kemanusiaan, serta gerakan ekologis bersama demi memperkuat kohesi sosial dan harmoni dalam kemajemukan masyarakat.

Masyarakat yang hadir pun menyambut momen ini dengan penuh haru. Di tengah berbagai tantangan sosial dan isu perpecahan yang kerap muncul, kebersamaan lintas agama di Labuan Bajo menjadi contoh bahwa perdamaian dapat tumbuh melalui tindakan nyata dan saling
menghormati.

Momentum penyerahan hewan kurban ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kesamaan, melainkan oleh kemampuan untuk saling menerima dalam perbedaan. Dari Labuan Bajo, pesan tentang persaudaraan dan toleransi kembali digaungkan untuk Indonesia.

Dengan semangat gotong royong dan kasih antarumat beragama, masyarakat berharap nilai-nilai kebhinekaan seperti ini terus diwariskan kepada generasi muda demi menjaga persatuan bangsa.

Vincentius Patno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *