Dari Bertanya, Lahir Sebuah Ilmu

Pelita696 Views

Pernahkah kita berpikir, dari mana lahirnya ilmu-ilmu yang ada saat ini? Entah ilmu yang ada di sekolah ataupun yang ada di luar sekolah? Pertanyaan lainnya, ilmu mana yang lebih dulu ada dari semua ilmu yang kita pelajari selama ini?

Dari pertanyaan, yang menggunakan simbol “tanda tanya” (?) inilah, induk dari semua ilmu lahir, yakni filsafat. Filsafat adalah ilmu berpikir sampai ke akar-akarnya. Disebut sebagai induk dari semua ilmu karena tanpa ada filsafat, manusia akan tetap terjebak dalam kehidupan tanpa adanya kemajuan.

Mengapa demikian? Karena secara tidak langsung manusia tidak sepenuhnya menggunakan akal budinya dengan baik. Antara akal budi dengan filsafat sangatlah berkaitan satu sama lain. Akal budi sebagai alat berpikir dan filsafat sebagai penuntun untuk berpikir.

Sebagai mahasiswa teologi, kami mendapat mata kuliah Logika yang merupakan bagian dari filsafat. Materi yang bagi saya menarik untuk diulas adalah sekilas tentang filsafat. Dalam buku Logika: Seni Berpikir Lurus, dijelaskan arti filsafat berasal dari kata “philein” (mencintai) dan “sofia” (kebijaksanaan).

Orang yang belajar segala sesuatu mengenai kebijaksanaan itu sendiri, memampukan dia berpikir dengan penuh pengertian akan pengetahuan dan penguasaan persoalan sampai ke akar-akarnya (Dewantara, 2019).

Contohnya, kita melihat suatu benda seperti kayu, dan akal budi pun berpikir tentang kayu, “apa itu kayu?”, “mengapa ada kayu?”, memunculkan rasa ingin tahu lebih dalam tentang kayu tersebut.

Contoh lain, seperti kita melihat dan mengamati sebuah bolpoin, memengaruhi akal budi kita untuk berpikir, “apa itu bolpoin?”, “mengapa ada bolpoin”, “bagaimana bisa ada bolpoin?”.

Ilmu ini juga adalah ilmu dasar terciptanya ilmu-ilmu lain, yaitu fisika, seni, sosiologi, kewarganegaraan, Pancasila, dan ilmu lainnya. Manusia diajak untuk berpikir secara lebih luas tentang apa yang ada di dunia ini dengan kebijaksanaan yang dimiliki.

Filsafat disini sebenarnya menekankan pada mencari penyebab dari segala sesuatu yang ada dengan radikal dan logis. Namun, tidak semua kegiatan berpikir dapat dianggap berfilsafat. Contoh paling sederhana adalah saat kita melamun, kegiatan tersebut tidak termasuk dalam kegiatan berpikir.

Semoga setiap kita, manusia, dapat memahami dan membuka cara berpikir yang tidak sempit akan segala sesuatu yang ada, menggunakan akal budi pemberian dari Tuhan dengan bijaksana tanpa terjerumus pada kesesatan.

Stevanie Hera (Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *