Childfree Talk, Ungkap Pentingnya Pemahaman Mendalam Fenomena Childfree

News1342 Views

Yogyakarta. Yayasan Basis menggelar acara Childfree Talk pada Jumat, 14 November 2025 dengan menghadirkan Fr. Ishak Jacues Cavin, SJ, Stella Vania Puspitasari, S.Psi., M.Psi., Psikolog,  serta Dion dan Agnes, dua mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta sebagai penanggap artikel.

Diskusi ini mengulas fenomena childfree dari beragam sudut pandang psikologi, sosial, Gereja, serta perkembangan manusia yang makin relevan dalam konteks masyarakat modern.

Dalam pemaparannya, Vania menjelaskan bahwa keputusan childfree tidak dapat dilihat sebagai pilihan tunggal. Pilihan ini dapat muncul dari berbagai kondisi, antara lain trauma psikis, pengalaman fatherless atau motherless, situasi sosial-ekonomi yang menantang, hingga lingkungan yang tidak memungkinkan seseorang memiliki anak.

Vania menekankan bahwa ada individu yang memilih childfree secara sadar, tetapi ada pula yang “tidak memilih” karena kondisi tertentu. “Karena itulah, pembahasan mengenai childfree perlu dilihat sebagai fenomena yang luas dan kompleks,” lontar Vania.

Salah satu penulis Rubrik Psikologi di Majalah UTUSAN ini juga menyoroti pentingnya pembekalan dan pendampingan bagi calon pasangan suami istri, baik yang berencana memiliki anak maupun tidak. Dalam katekese pranikah, aspek kesiapan menjadi orang tua perlu mendapat perhatian serius.

“Tidak menjadi orang tua kandung bukan berarti seseorang tidak dapat menjalankan peran merawat dengan kasih, baik kepada saudara, komunitas, maupun melalui pelayanan sosial,” tutur Vania.

Dalam kesempatan ini, Vania mengangkat teori perkembangan dari Erik Erikson, terutama tahap ketujuh, yaitu generativity vs stagnation. Pada fase usia sekitar 40 tahun ke atas, manusia memiliki kebutuhan alami untuk merawat, meneruskan kebaikan, dan memberi dampak dalam hidupnya.

Foto bersama narasumber dan peserta seusai sesi berlangsung. (Foto: Dok. Yayasan Basis)

“Generativity dapat terwujud melalui banyak bentuk membesarkan anak, kontribusi dalam karier dan pekerjaan, merawat hewan peliharaan, atau menjalankan karya sosial. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang berisiko mengalami stuck dan stres,” terang Vania.

Ia juga menghubungkan fenomena ini dengan artikel yang ditulis Rm. Giovanni Mahendra Christi, MSF atau Rm. Ivan dalam Majalah ROHANI edisi Oktober 2025 yang menekankan pentingnya konseling, proses healing, dan pendampingan keluarga berkelanjutan.

Ia menyampaikan banyak pasangan baru justru mulai menyadari trauma lama setelah menikah. Karena itu, katekese pranikah adalah langkah baik, tetapi belum cukup. Pendampingan keluarga secara terus-menerus tetap diperlukan, sejalan dengan penekanan Rm. Ivan mengenai pentingnya edukasi parenting.

Lebih lanjut, Vania menegaskan bahwa alasan memilih childfree bersifat multidimensional. Ada yang ingin mengaktualisasikan diri, sementara yang lain merasa belum siap memikul tanggung jawab sebagai orang tua.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak melihat fenomena ini secara hitam-putih, melainkan dengan pendekatan secara keseluruhan yang mencakup aspek biologis, psikologis, dan sosial. “Setiap orang memiliki kisah yang berbeda sehingga respons yang paling tepat adalah memahami, bukan menghakimi,” pesan Vania.

Selain pemaparan dari sudut pandang psikolog, acara ini menampilkan tanggapan atas artikel dalam Majalah ROHANI serta refleksi dari Fr. Cavin, selaku koordinator edisi Oktober 2025, yang memperluas pemahaman mengenai childfree dalam perspektif Gereja Katolik berdasarkan ilmu teologi.

Acara Childfree Talk ditutup dengan ajakan untuk terus menghadirkan ruang dialog, edukasi, dan pendampingan yang ramah serta penuh empati bagi siapa pun yang sedang menapaki proses menemukan panggilan hidupnya dalam keluarga maupun komunitas.

Agnes Rosemarie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *