Bullying pada Anak Berawal dari Rumah

News2126 Views

Yogyakarta. Maraknya kasus bullying atau perisakan di lingkungan sekolah telah menjadi keprihatinan banyak pihak. SD Marsudirini Yogyakarta turut memandang perlu pencegahan kasus bullying di lingkungannya dengan menyelenggarakan seminar bagi para orang tua siswa dan guru.

Seminar bertajuk “Guru dan Orang Tua sebagai Coach untuk Mencegah Bullying” pada Sabtu, 25 November 2023 di Gedung PT Penerbit Erlangga Yogyakarta ini menghadirkan Dr. Pramudianto, PCC sebagai pembicara.

Pria yang akrab disapa Pram ini merupakan professional coach yang memiliki credential dari International Coaching Federation yang juga dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Sr. M. Paulia, OSF, M.Pd. Guru dan orang tua mendapat bekal menangani bullying. (Foto. Dok. SD Marsudirini)

Tujuan kegiatan ini adalah menguatkan orang tua dan guru sebagai coach serta mengenalkan bullying melalui buku yang diterbitkan Penerbit Erlangga. “Supaya para guru dan orang tua juga mendapat bekal bagaimana cara menangani kalau anak-anak di-bully,” tambah Sr. M. Paulia, OSF, M.Pd. selaku Penanggung Jawab Yayasan Marsudirini Perwakilan Yogyakarta.

Hasil yang diharapkan adalah kesadaran guru dan orang tua sebagai pendamping dan coach untuk mencegah terjadinya bullying, mengenal bullying dan cara pencegahannya di lingkungan sekolah dan rumah, serta terjalin kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam mengantisipasi bullying.

Kepala SD Marsudirini 2, FX. Oktaf Laudensius, S.Si., menyebut tema bullying yang diangkat dalam seminar ini adalah tema “tepi jurang” atau sensitif. Sebab, kasus bullying tentu melibatkan antara sekolah dan orang tua siswa.

“Marsudirini sejak awal sudah punya nilai karakter. Kita membanggakan Kemarsudirinian karena bisa menjadi bumper. Kami para kepala sekolah, guru, dan yayasan tentu perlu kerja sama yang luar biasa untuk mendampingi anak-anak kita di sekolah,” tutur Oktaf.   

Apabila terjadi sesuatu di sekolah, lanjut Oktaf, diawali dengan laporan siswa kepada wali kelas. “Langsung kepada kepala sekolah pun boleh-boleh saja. Tapi saya akan konfirmasi kepada wali kelas yang akan menggali apa yang terjadi pada diri anak-anak,” ucapnya sembari mengajak para guru untuk menjadi coach.

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan SD Marsudirini 1 dan 2. (Foto: Dok. SD Marsudirini)

Oleh karena itu, SD Marsudirini Yogyakarta membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan SD Marsudirini. Koordinator Tim SD Marsudirini 1 dijabat Yohanes Linda K.H., S.Pd. dengan anggota Yohanes Bambang Sutejo (komite sekolah), Ika Dina Lisaputri (perwakilan orang tua), Ch. Sri Winarni, S.Pd.SD (guru) dan Elizabeth Astuti, S.Pd. (guru).

Sementara itu, Koordinator Tim SD Marsudirini 2 dijabat Maria Dwi Kurnia Asih, S.Pd dengan anggota Veronica Irma Parmawati (komite sekolah), Melyne Ruth Muhalling (perwakilan orang tua), Agnes Endah M., S.Pd. (guru), dan Kristina Retno W., S.Pd. (guru).

Seminar yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Guru ini dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, S.E., MSi. Ia mengatakan, “Pemerintah telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Tapi membentuk tim itu gampang. Maka, kita berupaya bersama-sama agar berbagai permasalahan di sekolah bisa diminimalkan.”

Budi menyebut masalah-masalah besar yang dapat terjadi di sekolah antara lain bullying, intoleransi, dan kekerasan seksual. “Masalah-masalah ini kelihatannya sangat sedikit, tapi di bawahnya itu sering terjadi,” ungkap Budi.

Budi Santosa Asrori, S.E., MSi. Masalah-masalah besar yang dapat terjadi di sekolah antara lain bullying, intoleransi, dan kekerasan seksual. (Foto: Willy Putranta)

Ia lalu mengajak para orang tua, siswa, guru, dan pihak sekolah untuk guyub rukun menuju pendidikan yang menyenangkan di sekolah. “Itu ‘kan yang paling penting,” tandasnya.

Selanjutnya, di hadapan para peserta seminar, Pramudianto memaparkan definisi bullying di sekolah ialah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Kategori bullying antara lain kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku nonverbal langsung, perilaku nonverbal tidak langsung, cyber bullying, dan pelecehan seksual.

“Bullying adalah penindasan. Apakah orang tua melakukan penindasan kepada anak-anaknya? Jangan bilang tidak pernah. Bullying bukan semata-mata ada di sekolah, tetapi di rumah pun sudah terjadi bullying terhadap anak-anak, baik sengaja maupun tidak, karena self control orang tua tidak terjaga dengan baik,” lontar Pramudianto.

Perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang itu lebih banyak terjadi di rumah ketimbang di sekolah. Sebab, kekuasaan lebih besar dimiliki oleh orang tua di rumah. “Karena ketidaktahuannya bahwa proses pendidikan yang dia lakukan salah, maka itu berulang-ulang dan merasa bukan bullying,” tunjuk Pramudianto.

Solusinya ialah pendidikan parenting, yakni pasangan suami istri belajar memutus rantai warisan yang buruk (dari orang tuanya sendiri) serta menciptakan model yang baru dan baik agar anak memiliki karakter yang diharapkan. Dengan demikian, pesan Pramudianto, bullying hendaknya dicegah sejak dini di rumah, bukan di sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *