BEM FISIP UAJY Nonton Bareng Film “Pesta Babi” untuk Menumbuhkan Budaya Empati dan Keberanian Berpikir Kritis

News634 Views

Suasana malam di halaman parkir Kampus IV Gedung Teresa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) terasa berbeda. Deretan mahasiswa duduk bersila. Mereka duduk menyaksikan film dokumenter “Pesta Babi” yang diputar BEM FISIP UAJY.

Malam itu bukan sekadar agenda nonton bareng. Ada ruang sunyi, refleksi, sekaligus keberanian untuk membicarakan isu kemanusiaan dan lingkungan di Papua yang jarang mendapat tempat di ruang publik.

Malam itu, BEM FISIP UAJY menginisiasi nonton bareng (Nobar) dan Diskusi film bertajuk “Pesta Babi”.

Nobar yang berlangsung pada 26 Mei 2026 malam itu menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Dr. Phil. Lukas Ispandriarno, M.A. (akademisi), Bambang MBK (anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta), serta Margen Enembe (anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Papua (FOKMAPA). Acara ini dipanduk secara apik oleh dosen FISIP UAJY, Olivia Lewi Pramesti, S.Sos., M.A.

Mahasiswa, dosen berfoto bersama seusai nonton bareng. (Dok. UAJY).

Melalui kegiatan Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, mahasiswa diajak melihat Papua bukan hanya dari layar berita, tetapi dari sudut pandang manusia-manusia yang hidup di dalamnya. BEM FISIP UAJY pun berkomitmen melahirkan ruang kebebasan berekspresi bagi mahasiswa di tengah situasi politik yang dinamis.

Pada kesempatan nobar ini, mereka juga membedah berbagai realitas dan fakta mendalam mengenai isu kemanusiaan serta lingkungan di Papua yang saat ini belum banyak diangkat oleh media mainstream.

Sebagai mahasiwa UAJY yang peduli dan kritis mereka ingin menjaga semangat perjuangan melalui cara-cara yang positif dan kritis. Hal ini seperti disampaikan oleh Fanuel, Presiden BEM FISIP UAJY. Ia mengajak mahasiswa untuk terus menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi dia Papua.

Sementara itu akademisi Lukas Ispandriarno mengatakan mahasiswa memiliki modal besar melalui kedekatannya dengan teknologi digital. Ia mengajak mahasiwa untuk berani bersuara.

“Mahasiswa sangat dekat dengan media sosial, maka manfaatkanlah itu untuk berani bersuara. Di samping itu, bertemanlah dengan orang-orang kecil agar kita dapat belajar dan memahami susahnya realitas kehidupan,” ujar Lukas.

Bambang MBK dari AJI Yogyakarta pada kesempatan ini mengajak peserta dalam melihat film ini sebagai medium yang mampu membangun kesadaran publik. Ia menegaskan untuk menyaksikan dan merefleksikan sebagaimana karya-karya sastra dan jurnalistik yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah.

Olivia Lewi Pramesti, Dosen FISIP UAJY menambahkan bahwa film Pesta Babi membuktikan bahwa fakta yang tidak pernah mendapatkan tempat di media mainstream, berhasil menyita perhatian publik terlebih Gen Z. Film ini, lanjutnya, bersinggungan banyak dengan jurnalistik.

“Penggunaan data yang akurat, cover both sides dari banyak aktor, dan penyampaian storrytelling yang apik menjadi ciri khas film ini. Film ini juga mengangkat sisi masyarakat terpinggirkan yang justru menjadi tujuan jurnalisme itu sendiri,” jelas Olivia.

Lewi, panggilan dosen ini berharap, setelah menonton film ini, mahasiswa lebih aktif menyuarakan kekritisannya melalui media sosial yang dimilikinya. Media sosial tidak hanya sekedar untuk posting hal keseharian, namun untuk berani membahas isu-isu masyarakat yang berguna.

Bagi banyak mahasiswa, kegiatan ini bukan hanya tentang menonton film, melainkan belajar merasakan, mendengar, dan memahami. Dari ruang sederhana itu, tumbuh harapan agar budaya dialog, empati sosial, dan keberanian berpikir kritis terus hidup di lingkungan kampus. Sebuah apresiasi positif pun datang dari mahasiswa atas terselenggaranya kegiatan yang diinisiasi BEM FISIP UAJY dalam nobar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *