Romo Bernhard Kieser, S.J. yang lahir pada 28 September 1938 dan menghadap Tuhan pada 6 Juni 2026) Dia seorang yang peduli, dia sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya, pada kolega Jesuit, pada para karyawan di bawah asuhannya. Secara Istimewa juga sangat peduli pada mereka yang memerlukan kepedulian, memerlukan perhatian khusus karena situasi hidup mereka.
Orang lain akan lebih mampu bercerita mengenai kepeduliannya pada warga miskin di Jogja, pada mereka yang datang ke Kolsani untuk meminta bantuan, juga kepedulian pada orang-orang muda yang perlu menyonsong masa depan. Pada kesempatan ini saya hendak berbagi pengalaman kerja sama kami dalam satu pendampingan khusus di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan di Yogyakarta.

Pendampingan Rm. Kieser penuh komitmen pada Mary Jane Veloso, pekerja migran asal Filipina yang menjadi terpidana mati kasus narkoba, sungguh luar biasa. Saya bersyukur dapat ikut serta (bekerja sama) dalam pendampingan khusus ini selama tiga tahun. Hal ini saya alami antara 2018 hingga 2021 saat saya tinggal di Kolsani dan studi teologi.
Rm. Kieser merasa perlu bantuan seorang Jesuit muda untuk menjenguk dan bercakap-cakap sekitar satu jam dengan Mary Jane setiap pekan, tentu hal ini bertujuan agar komunikasi bisa lebih nyambung. Waktu itu, saya adalah frater ketiga yang menjadi asisten beliau, setelah Fr. Suryadi dan Fr. Angga. Sesudah saya, ada Fr. Siwi dan terakhir Fr. Adit yang menemani Rm. Kieser dalam pendampingan di lapas yang khusus ini. Dan kini kami saat ini, kami semua sudah meninggalkan Kolsani dan menjadi imam.
Saya dan Rm. Kieser berbagi jadwal. Ia berkunjung setiap Senin dan saya setiap Rabu. Waktu itu, lapas perempuan ada di Wirogunan. Rm. Kieser meminta saya mengajari Mary Jane Bahasa Indonesia, namun baik saya maupun Mary merasa Bahasa Indonesia Mary sudah sangat baik. Menurut saya, caranya berbicara sudah sangat natural, dengan selingan Bahasa Jawa di sana sini. Untuk beberapa waktu, saya justru mengajarinya Bahasa Inggris.
Saat itu, lapas Wirogunan masih longgar. Saya biasa membawa koleksi majalah National Geographic dari Perpustakaan Kolsani, kadang juga majalah Hidup serta Majalah UTUSAN. Terkadang, saya dapat membawa makanan (buah, roti, termasuk juga burger). Mary lebih suka melihat gambar, bukan membaca. Dia mengarang puisi, tapi tidak menuliskannya. Syukurlah dia sangat aktif untuk hal-hal lain: belajar batik, kerajinan tangan, menari, memainkan organ.

Ketika wabah Covid 19 melanda, kunjungan terkendala. Juga, bahwa lapas perempuan dipindahkan ke Wonosari, lokasi yang lebih jauh dari Kolsani. Intensitas kunjungan menjadi sebulan dua kali. Saya masih punya kesempatan beberapa kali mengunjungi Mary Jane di sana. Rm. Kieser, tentu saja, lebih rajin. Syukurlah ada Ibu Asih, pendamping Mary Jane di lapas, yang setia menjadi jembatan komunikasi kami.
Terakhir kali saya bersama Rm. Kieser dan Fr. Adit mengunjungi Mary Jane, dan memimpin misa secara konselebrasi di kapel Lapas Perempuan Wonosari, adalah di penghujung 2024. Mary Jane akan direpatriasi ke Filipina, hasil kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Filipina. Ini semacam blessing, karena di Indonesia Mary Jane cukup tergantung pada bantuan Rm. Kieser, sementara Rm. Kieser sudah mulai menurun (secara fisik dan juga pikiran). Mary pernah menyampaikan kecemasan ini: bahwa ia sangat tergantung pada Rm. Kieser, sementara Romo sudah semakin menua.
Sebenarnya kondisi lapas di Indonesia jauh lebih baik. Saya mendengar Mary Jane sekarang mengeluhkan situasinya di lapas di Filipina. Rumah keluarganya berjarak lebih dari 4 jam dari lapas. Dan, karena persoalan ekonomi, mereka tidak dapat membantu keuangan Mary Jane. Mereka yang tinggal di lapas, yakni para narapidana, masih memerlukan sejumlah uang untuk memberi kebutuhan pribadi. Kabar baiknya adalah tidak ada hukuman mati di sana. Dan, bila terbukti Mary Jane lebih sebagai korban daripada pelaku kejahatan, kiranya ia dapat memperoleh kebebasan.
Untuk misa di lapas itu, Rm. Kieser sudah menyiapkan teks Ekaristi yang, tentu saja, sangat kreatif. Seingat saya, ada beberapa teks Mazmur dan doa yang menjadikannya sangat panjang (dan membingungkan).
Fr. Adit saat itu berbisik, “Silakan diperpendek saja.” Dan, saya men-skip beberapa teks. Rm. Kieser sama sekali tidak keberatan. Dia menyerahkannya pada saya, bagaimana Ekaristi akan berjalan. Tampaknya ia tahu, sudah bukan waktunya lagi untuk memimpin pelayanan.
Pekan lalu, Rm. Kieser (kembali) kritis. Ia sempat masuk ICU, namun kemudian segera ke ruang biasa dan bahkan boleh pulang ke Kolsani. Sabtu siang lalu, saya mendapatkan pesan WA dari Fr. Cavin: “Tadi diajak berjemur pagi naik kursi roda, jatuh lemas tidak bisa naik. Aku ikut membopong dengan karyawan, nafasnya tersengal-sengal.” Rm. Kieser dinyatakan meninggal pukul 12.09 WIB oleh pihak rumah sakit (Panti Rapih).
Saya sebenarnya punya kisah perhatian Rm. Kieser yang personal pada saya, terkait teologi (saat itu ia memberi komentar setelah saya menjadi pembicara seminar dengan topik teologi migrasi) dan terkait masa depan perutusan Jesuit saya. Saya sangat terkesan dengan perhatian ini, walaupun harapannya pada saya kelihatannya tidak kesampaian.
Rm. Kieser adalah pengajar dan pendidik teologi yang, meminjam istilah yang sering dipakainya, sungguh “nyambung” dengan realitas kehidupan dalam arti literal. Ia connect secara personal dengan orang lain, manusia nyata dalam problem dan harapan yang dimilikinya. Ia tidak banyak menulis buku atau artikel (setahu saya) tapi meninggalkan kepada kita “cara berteologi” yang seharusnya: teologi yang nyambung dengan kehidupan dan suka duka konkret manusia dan makhluk ciptaan.
Itulah kegiatan berteologi yang sesungguhnya, bukan sekadar intellectual gymnastics seperti dituduhkan Yuval Noah Harrari, melainkan refleksi iman mendalam akan Allah yang peduli pada hidup manusia di bumi ciptaan-Nya. Ia tidak berhenti pada refleksi canggih hasil olah intelektual belaka. Sebagai buah pandangan kontemplatif yang mewujud pada tindakan nyata. Rm. Kieser senantiasa memelihara pandangan kontemplatif ini. Pandangannya yang penuh kepedulian pada karut marut dunia manusia dan memanggil kita pada keterlibatan. Maka, betul kalau dikatakan bahwa Rm. Kieser sering bertanya: “Apa yang bisa kamu lakukan (untuk mereka)?”
Martinus Dam Febrianto, SJ Imam Jesuit sedang menjalani tersiat di Girisonta








