Memutus Rantai Kebencian di Tengah Dunia yang Berperang

Pelita428 Views

Hari-hari ini dunia kembali diguncang oleh berbagai konflik yang semakin memanas. Ketegangan yang terjadi di antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan betapa rapuhnya perdamaian dunia yang selama ini tampak stabil.

Berita tentang serangan militer, korban jiwa, dan penderitaan silih berganti memenuhi layar TV dan media sosial. Setiap hari, kita menyaksikan bagaimana kekerasan kembali menjadi bahasa yang digunakan untuk menyelesaikan konflik.

Dalam situasi seperti ini, mudah bagi kita untuk larut dalam rasa takut, kemarahan, bahkan kebencian terhadap pihak yang dianggap sebagai “musuh”. Perang hampir selalu memaksa manusia melihat dunia secara hitam-putih: siapa kawan dan siapa lawan. Mereka yang berada di pihak seberang tidak lagi dilihat sebagai pribadi, melainkan sebagai ancaman yang harus dikalahkan.

Seruan Gereja untuk Memilih Jalan Perdamaian: Kasihilah Musuhmu!

Di tengah situasi yang penuh ketegangan ini, Paus Leo XIV kembali menyerukan sebuah pesan yang sederhana namun mendalam: “Berdoalah untuk perdamaian, bekerjalah demi perdamaian, dan kurangi kebencian.”

Ia menegaskan bahwa stabilitas dunia tidak pernah lahir dari ancaman/ penggunaan senjata yang menaburkan kehancuran, penderitaan, dan
kematian. Perdamaian, menurutnya, hanya dapat dibangun melalui dialog yang tulus, masuk akal, dan bertanggung jawab.

Seruan ini menggemakan kembali pesan radikal yang pernah disampaikan oleh Yesus: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (bdk. Mat 5:44).

Namun, di tengah realitas perang, perintah ini terasa sangat sulit untuk dipahami, apalagi dijalankan. Ketika kekerasan terjadi dan penderitaan menimpa begitu banyak orang, naluri manusia biasanya mendorong untuk membalas/ setidaknya menyimpan kebencian terhadap pihak yang dianggap bersalah.

Pertanyaan pun muncul: bagaimana mungkin seorang Kristiani mengasihi musuh? Bukankah kasih, terlebih lagi persahabatan, biasanya menuntut adanya kasih yang bersifat timbal balik? Jika seseorang justru membenci dan menyakiti kita, bagaimana mungkin relasi itu masih dapat disebut sebagai bentuk kasih?

Kasih Persahabatan yang Melampaui Permusuhan

Pertanyaan semacam ini sebenarnya telah muncul sejak lama dalam refleksi Gereja. Thomas Aquinas menanggapi keberatan tersebut dengan membedakan dua cara memahami persahabatan.

Pertama, persahabatan dalam arti langsung, yaitu relasi kasih timbal balik antara dua pribadi yang saling menghendaki kebaikan satu sama lain. Kedua, persahabatan dalam arti tidak langsung, yakni ketika seseorang mengasihi orang lain karena keterkaitannya dengan pribadi yang terlebih dahulu dicintai.

Dalam Summa Theologiae (II-II, q. 23, a. 1), Aquinas memberikan contoh demikian,

[…] misalnya, seseorang yang mencintai sahabatnya juga akan mengasihi keluarga/ orang-orang yang berkaitan dengan sahabatnya, bahkan jika mereka menyakiti/membencinya. Dengan cara ini, kasih sebagai persahabatan juga mencakup kasih kepada musuh. Kita mengasihi mereka bukan demi diri mereka sendiri, melainkan demi Tuhan, yang adalah sahabat utama dalam kasih.

Melalui pemikiran ini, Aquinas membantu kita memahami kedalaman perintah Yesus untuk mengasihi musuh. Kasih kepada musuh tidak pertama-tama diberikan karena mereka mereka membalas kasih yang kita berikan.

Sebaliknya, kasih itu lahir dari relasi yang lebih dalam, yakni kasih kepada Allah. Karena Allah adalah sahabat utama dalam kasih, maka orang- orang yang juga berada dalam relasi dengan-Nya tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari lingkup kasih tersebut.

Dengan kata lain, orang Kristiani mengasihi musuh bukan karena mereka layak untuk dikasihi menurut ukuran manusia, melainkan karena mereka juga diciptakan oleh kasih Allah yang sama. Mereka yang memusuhi kita tetap memiliki martabat sebagai pribadi yang diciptakan menurut gambar-Nya.

Dalam terang ini, mengasihi musuh bukanlah sikap naif yang menutup mata terhadap kejahatan/ penderitaan yang ditimbulkan oleh perang. Mengasihi musuh juga tidak berarti membenarkan kekerasan/ mengabaikan ketidakadilan. Sebaliknya, sikap ini merupakan keputusan rohani untuk tidak membiarkan hati manusia dikuasai oleh kebencian.

sumber gambar: chatgpt
Memutus Rantai Kebencian di Tengah Dunia yang Berperang

Perang sering kali dimulai bukan dari senjata, tetapi dari hati manusia yang perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat sesamanya sebagai sahabat. Ketika kebencian dibiarkan tumbuh, manusia menjadi semakin mudah membenarkan kekerasan.

Sejarah menunjukkan bahwa kebencian semacam ini dapat berlangsung tanpa akhir. Ketika setiap pihak merasa memiliki alasan yang sah untuk membalas luka yang diterimanya.

Di sinilah Injil menawarkan jalan yang berbeda. Dengan mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang memusuhi kita, orang beriman berusaha memutus rantai kebencian yang terus berulang dalam sejarah.

Kasih yang diajarkan Yesus bukanlah kasih yang lahir dari kenyamanan, melainkan kasih yang bersumber dari keputusan iman untuk tetap melihat
martabat manusia di tengah luka dan permusuhan.

Bagi umat Katolik yang menyaksikan berbagai berita perang hari-hari ini, panggilan Injil tersebut dapat dimulai dari sikap yang tampak sederhana namun sangat mendasar: menjaga hati agar tidak ikut dipenuhi kebencian, mendoakan para korban di semua pihak, serta memohon kebijaksanaan bagi para pemimpin dunia agar berani memilih jalan dialog daripada kekerasan.

Doa sebagai Ungkapan Kasih

Pada akhirnya, teladan paling mendalam tentang kasih kepada musuh justru terlihat pada saat paling gelap dalam hidup Yesus. Ketika Ia disalibkan dan mengalami penderitaan, Ia tidak mengutuk mereka yang menyalibkan-Nya.

Sebaliknya, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (bdk. Lukas 23:34). Doa ini menunjukkan bahwa bahkan di tengah kekerasan yang paling brutal sekalipun, hati manusia masih dapat memilih jalan belas kasih.

Yesus tidak membalas kejahatan dengan kebencian, melainkan dengan pengampunan yang membuka kemungkinan pertobatan. Di tengah dunia yang kembali dilukai oleh perang, doa Yesus ini menjadi undangan bagi setiap orang beriman untuk menjaga kemanusiaannya.

Ketika dunia meyakini bahwa kekerasan hanya dapat dihentikan dengan kekerasan yang lebih besar, Injil justru menunjukkan alternatif lain: bahwa bahkan di tengah dunia yang terluka oleh perang, hati manusia masih dapat memilih jalan kasih. Dan dari pilihan kasih yang tampak kecil itu, harapan akan perdamaian perlahan dapat tumbuh kembali.

Christian Aldo Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *