Tujuh bulan kembali ke Surakarta setelah tujuh belas tahun—sebuah jeda panjang yang kini terasa seperti satu helaan napas Tuhan yang ditunda. Kota ini bukan sekadar alamat lama, melainkan rahim sejarah panggilan; di sinilah langkah-langkah awal sebagai religius Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP) ditempa oleh doa, air mata, dan keberanian kecil yang setia.
Rumah formasi menyambut seperti ibu yang tak pernah lupa wajah anaknya. Jalanan, pohon-pohon tua, dan sudut-sudut kota menyimpan gema janji yang dahulu diucapkan lirih—janji untuk setia, bahkan ketika musim berubah dan waktu memisahkan.
Minggu, 15 Februari 2026. Bersama sahabat baru dari Yogyakarta—sepasang suami istri yang hangat, serta seorang saudari SDP—kami melangkah menuju Pasar Gede Hardjonagoro. Perut lapar mencari penghiburan sederhana. Beberapa jalan ditutup karena CFD; manusia menyemut, bergerak seperti arus yang tak ingin berhenti.
Di tengah riuh itu, kami melepas dahaga dengan dawet Ngangenin—manisnya menetes pelan, seakan berkata bahwa kebahagiaan kadang hanya segelas tradisi yang setia pada rasa.
Nuansa Imlek meruah di udara. Di depan pasar, lautan manusia berdesakan, sementara suara gendang menabuh semangat atraksi barongsai dan liong yang meliuk penuh daya hidup.
Wangi kuliner menyeruak dari segala penjuru—dari pedagang kaki lima hingga mereka yang menjunjung dagangan demi rezeki keluarga. Pasar terasa seperti perayaan besar kehidupan: panas siang menyatu dengan uap masakan, bahkan aroma babi yang pekat menjadikan kawasan itu bagai sauna rasa.
Namun, di tengah keramaian dan keberagaman itu, saya tetap nyaman dalam pakaian biarawati—mengunyah jajanan tradisional dengan syukur yang hening. Panggilan tidak pernah mengurung; ia justru memerdekakan hati untuk hadir sepenuhnya.
Yang membuat saya tertegun adalah kesadaran bahwa Imlek bukan lagi milik satu etnis. Pertunjukan barongsai dan liong menjelma hiburan rakyat; anak-anak bersorak, orang tua tersenyum, kamera-kamera merekam kegembiraan bersama. Di sini, batas-batas seakan mencair.
Seperti pernah diungkapkan Rm. Franz Magnis-Suseno SJ, toleransi bukan sekadar membiarkan yang lain hidup, melainkan menghargai keberadaannya sebagai kekayaan bersama. Di Pasar Gede, saya menyaksikan toleransi itu bukan sebagai teori, tetapi sebagai tarian yang berpeluh dan tertawa.
Kami mencari buah tangan untuk cucu Bapak Ibu Daryono—sebuah tanda kasih kecil yang akan dibawa pulang. Di antara langkah yang berimpitan, saya merasakan bahwa kota ini telah bertumbuh: seni semakin hidup, UMKM berdenyut, ruang-ruang publik terasa ramah dan humanis.
Kemajuan bukan hanya soal bangunan atau ekonomi, melainkan tentang kemampuan sebuah kota merayakan perbedaan tanpa kehilangan jiwanya. Surakarta hari itu seperti kitab terbuka tentang persaudaraan.
Imlek di kota ini menjadi cermin batin saya sendiri. Tujuh belas tahun lalu, saya pergi dengan hati yang masih belajar percaya. Kini, saya kembali dengan kesadaran bahwa panggilan adalah perjalanan pulang yang tak pernah selesai.
Di tengah gendang dan aroma pasar, saya mendengar bisikan lembut Penyelenggaraan Ilahi bahwa Tuhan bekerja juga melalui keramaian, melalui tawa yang berbaur, melalui keberanian sebuah kota untuk merangkul semua.
Saya pun bersyukur—karena di bawah langit Imlek yang merah dan riang, panggilan itu terasa semakin utuh, semakin manusiawi, dan semakin hidup.
Luisa Anin, SDP








