Gereja Ramah Difabel, Beri Ruang bagi Semua Tanpa Membedakan

News1452 Views

Bantul. Semangat inklusivitas berakar dari pandangan Gereja bahwa setiap orang diciptakan seturut citra Allah. “Semua umat, termasuk difabel, memiliki martabat dan panggilan yang sama untuk bergotong royong membangun Gereja,” demikian disampaikan Rm. Antonius Koko Kristanto, Pr dalam sarasehan di aula Pastoran Gereja Santa Theresia Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bertajuk “Dari Kehadiran Menuju Keterlibatan Penuh: Mendorong Difabel Menjadi Subyek dan Pelayan dalam Gereja dan Lingkungan” pada Minggu, 26 Oktober 2025

Gereja dipanggil untuk menunjukkan kasih Allah dengan merangkul, bukan menyingkirkan. Perbedaan kemampuan atau kebiasaan (different ability) menjadi sudut pandang dalam melihat keberadaan seluruh umat, yaitu sebagai subjek yang berharga, bukan sebagai objek, sehingga karya Tuhan dapat dinyatakan. Gereja menjadi tempat yang penuh sukacita, menerima semua untuk dicintai dan menjadi bagian dari Tubuh Kristus.

Beberapa hal yang bisa dlakukan untuk mewujudkan komunitas yang inklusif yakni (1) penerimaan: mengakui bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda; (2) kesetaraan martabat: memberikan kepercayaan penuh kepada difabel; (3) aksesibilitas: mengakomodasi kebutuhan difabel; (4) partisipasi aktif: keterlibatan difabel dalam kegiatan pelayanan di Gereja; (5) apresiasi keberagaman: menghargai keberagaman sebagai suatu keindahan untuk karya Tuhan yang lebih besar.

Dalam kesempatan yang sama, panitia kegiatan Maria Tri Suhartini mengutarakan sarasehan ini lahir dari kerinduan para difabel dan keluarga mereka untuk saling bertemu dan berbagi pengalaman iman. “Difabel bisa mengakses tempat ibadah, itu hak semua. Gereja berupaya memberikan aksesibilitas dan advokasi agar setiap umat dapat beribadat dengan damai,” tuturnya.

Tahun ini, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari peringatan Hari Paroki (HARPA) 2025, memperingati 98 tahun Gereja St. Theresia Sedayu.

Rm. Koko menutup dengan pesan pastoral, “Kita semua adalah satu tubuh Kristus. Masing-masing memiliki keunikan dan kemampuan berbeda. Mari membuka hati dan memberi ruang bagi semua memiliki kesetaraan tanpa membeda-bedakan—untuk berkarya, beriman, dan bersaksi bersama.”

Dalam materi paparan sarasehan, pemerhati disabilitas Angga Yanuar, menekankan pentingnya menghapus stigma dan sikap diskriminasi dan prasangka yang tidak disadari dalam lingkungan iman sehingga timbul penilaian yang mengakar.

Ia mengingatkan bahwa memisahkan manusia dari pengambilan keputusannya sendiri berarti menjadikannya objek, bukan subjek. Gereja yang inklusif adalah Gereja yang berani memberi ruang bagi setiap umat untuk menentukan arah hidup dan imannya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *