Paus Leo: 60 Tahun Deklarasi Nostra Aetate, Tentang Dialog Antaragama

News1363 Views

Vatican-Paus Leo XIV memimpin perayaan 60 tahun “Nostra aetate”, Deklarasi Konsili Vatikan Kedua tentang Dialog Antaragama, Selasa, 28 Oktober 2025 malam di  “Berjalan Bersama dalam Harapan,” sebuah perayaan 60 tahun “Nostra aetate”, Deklarasi Konsili Vatikan Kedua tentang Dialog Antaragama. Hubungan Gereja dengan agama-agama non Kristen Nonstra Aetate ini dinyatakan oleh Bapa Suci Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965.

“Enam puluh tahun yang lalu”, dengan diterbitkannya Nostra aetate , Deklarasi Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama non-Kristen, “sebuah benih harapan untuk dialog antaragama telah ditanam,” kata Paus Leo XIV pada Selasa malam di Aula Paulus VI.

Dalam perhelatan itu, Bapa Suci menyampaikan pernyataannya kepada para perwakilan agama-agama dunia, anggota korps diplomatik yang diakreditasi di Tahta Suci, serta pejabat Vatikan dan Gereja yang berkomitmen pada dialog antaragama, yang berkumpul di Aula Paulus VI untuk merayakan ulang tahun Deklarasi bersejarah Konsili.

“Hari ini, kehadiran Anda menjadi saksi bahwa benih ini telah tumbuh menjadi pohon yang perkasa. Cabang-cabangnya telah menjulang tinggi, memberikan naungan dan menghasilkan buah-buah yang kaya berupa pengertian, persahabatan, kerja sama, dan perdamaian,” kata Paus Leo.

Paus Leo XIV pada pertemuan internasional untuk perdamaian di Roma. (Vatican Media).

Dialog sebagai cara hidup

Kata Paus Leo, Nostra aetate telah membuka mata dunia terhadap prinsip yang sederhana namun mendalam. Menurutnya, dialog bukanlah taktik atau alat, tetapi merupakan cara hidup – sebuah perjalanan hati yang mengubah setiap orang yang terlibat, mereka yang mendengarkan dan mereka yang berbicara.

“Nostra aetate membuka mata kita terhadap prinsip yang sederhana namun mendalam: dialog bukanlah taktik atau alat, tetapi merupakan cara hidup – sebuah perjalanan hati yang mengubah setiap orang yang terlibat, mereka yang mendengarkan dan mereka yang berbicara, Lanjut Paus Leo.

Merujuk pada tema perayaan peringatan Nostra aetate yakni Berjalan Bersama dalam Harapan”, Paus Leo mengatakan perjalanan ini bukan dengan mengkompromikan keyakinan masing-masing, melainkan dengan tetap setia pada keyakinannya

“Berjalan Bersama dalam Harapan ini, kita kita jalani bukan dengan mengkompromikan keyakinan kita, melainkan dengan tetap setia pada keyakinan kita. Dimulai bukan dari kompromi, melainkan dari keyakinan – dari akar terdalam keyakinan kita yang memberi kita kekuatan untuk menjangkau sesama dalam kasih,” urai Paus Leo.

Kata Paus Leo, mengenang Yubileum Harapan dan mencatat bahwa harapan dan ziarah merupakan realitas yang sama bagi semua tradisi keagamaan. Paus Leo menegaskan inilah perjalanan yang diundang oleh Nostra Aetate untuk dilanjutkan dan untuk berjalan bersama dalam harapan.

“Hal ini, bukanlah pekerjaan satu agama, bangsa, atau generasi saja, melainkan tugas suci bagi seluruh umat manusia, untuk menjaga harapan tetap hidup. Menjaga dialog tetap hidup, dan menjaga cinta tetap hidup di hati dunia,” tegas Paus Leo.

 

 

Paus Leo XIV bergabung dengan para pemimpin agama lain dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus pada 29 Oktober 2025. (MEDIA VATIKAN).

Martir untuk dialog

Pada kesempatan ini Bapa Suci Paus Leo, dalam pidatonya, ia mengenang berkat banyak orang dari berbagai keyakinan yang telah bekerja selama enam puluh tahun terakhir untuk menghidupkan Nostra aetate. Bah sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri.

“Mereka adalah para martir untuk dialog yang menentang kekerasan dan kebencian. Kita berada di posisi kita saat ini, berkat keberanian, keringat, dan pengorbanan mereka,” kenang Paus Leo.

Nostra aetate : masih sangat relevan

Lebih lanjut Paus Leo juga menegaskan akan masih sangat relevannya Konsili Vatikan terkait Nostra Aestate ini. Ia pun mengingat akan pelajaran Konsili ini bahwa umat manusia semakin dekat satu sama lain dan semua manusia adalah bagian dari satu keluarga manusia dengan satu asal usul dan satu tujuan serta agama mencoba menanggapi kegelisahan.

“Pesan Nostra aetate tetap sangat relevan saat ini. Mengingat pelajaran Konsili, umat manusia semakin dekat satu sama lain. Bahwa semua manusia adalah bagian dari satu keluarga manusia dengan satu asal usul dan satu tujuan. Bahwa semua agama mencoba untuk menanggapi kegelisahan hati manusia dan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini,” urai Paus Leo.

Lebih lanjut Paus juga berbicara tentang asal-usul deklarasi tersebut.Menurutnya bermula dari keinginan akan sebuah dokumen yang menggambarkan hubungan baru antara Gereja dan Yudaisme.

“Keinginan ini terwujud dalam bab keempat Nostra aetate, yang merupakan inti dan inti yang melahirkan seluruh deklarasi. Bab tersebut, mengarah pada bab terakhir, yang mengajarkan bahwa kita tidak dapat sungguh-sungguh berseru kepada Tuhan, Bapa semua orang, jika kita menolak memperlakukan pria atau wanita mana pun yang diciptakan menurut gambar Tuhan sebagai saudara,” tegas Paus asal Amerika ini.

Sebuah Tanggung Jawab Suci

Pada pertemuan perayaan Nostra aetate ini pemimpin Gereja Katolik sedunia ini mengingatkan para pemimpin agama.  Paus mengajak mereka untuk berbagi tanggung jawab suci ini yakni membantu umat untuk melepaskan diri dari belenggu prasangka, kemarahan, dan kebencian. Tak hanya itu saja, mereka juga diajak untuk membantu umat bangkit dari egoisme dan keegoisan serta membantu mengatasi keserakahan yang menghancurkan jiwa manusia dan bumi.

 

“Dengan cara ini kita dapat memimpin umat kita untuk menjadi nabi di zaman kita — suara yang mengecam kekerasan dan ketidakadilan, menyembuhkan perpecahan, dan menyerukan perdamaian bagi semua saudara dan saudari kita,” harap Paus Leo dan mengingatkan mereka misi besar yang telah dipercayakan para pemimpin untuk membangkitkan kembali rasa kemanusiaan dan kesakralan dalam diri semua pria dan wanita.

Membawa harapan bagi umat manusia

Paus Leo pun berharap dan meminta kepada semua yang  hadir untuk senantiasa membawa harapan bagi umat manusia.

“Sahabat-sahabatku, inilah tepatnya alasan kita berkumpul di tempat ini. Dengan mengemban tanggung jawab besar, sebagai pemimpin agama, untuk membawa harapan bagi umat manusia yang sering kali tergoda oleh keputusasaan,” kata Paus Leo.

Menguti kata-kata Paus Santo Yohanes Paulus II, yang di Assisi pada tahun 1986.

“Jika dunia akan terus berlanjut, dan pria dan wanita harus bertahan hidup di dalamnya, dunia tidak dapat hidup tanpa doa. Maka saya Anda semua untuk berhenti sejenak dan berdoa dalam hati, dengan seruan: Semoga kedamaian turun atas kita dan memenuhi hati kita,” pungkas Paus Leo penuh hormat.”

Anda dapat membaca teks lengkap Nostra aetate di situs web Vatikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *