Setiap tahun, seminaris tingkat II Seminari Menengah Stella Maris Bogor diberi kesempatan untuk mengadakan kor penggalangan dana. Kegiatan ini bertujuan untuk mendanai kegiatan live-in, sebuah program tahunan sekolah yang kelak kami jalani di tingkat III.
Sewaktu saya naik ke tingkat II, rasa antusias yang membara memacu saya untuk mempersiapkan diri demi mencari dana, mulai dari pemilihan lagu hingga berbagai latihan pun kami tekuni.
Mulanya, saya percaya akan kapasitas kor angkatan kami. Saya juga membayangkan berapa banyak dana yang akan terkumpul dari hasil penggalangan dana ini. Rasa percaya diri ini terus memompa semangat kami untuk berlatih di setiap waktu senggang.
Setiap ada pasang, pasti akan ada surut. Setelah hampir sebulan persiapan, banyak dari seminaris tingkat II mulai jenuh untuk berlatih, termasuk saya. Pelarian yang kami lakukan adalah bolos latihan dan mengabaikan pengumuman latihan kor. Hingga akhirnya menjadi lumrah jika ada yang sengaja tidak menghadiri latihan kor ini.
Masalah tersebut semakin diperkeruh dengan adanya konflik internal yang merongrong angkatan kami. Berbagai perselisihan dan penolakan dalam kor terjadi karena adanya silang pendapat di antara kami.
Tak terasa, tinggal satu bulan lagi kami menuju pertengahan September. Aksi penggalangan dana pun mulai dekat. Walau begitu, konflik di antara kami tak kunjung surut. Saya pun selalu berusaha menyemangati dan mengingatkan motivasi kami tentang pencarian dana ini.
Di tengah situasi yang pelik ini, dirigen membagikan lembaran doa Memorare untuk didoakan secara rutin. Devosi kepada St. Perawan Maria yang dikenalkan oleh St. Bernardus pada abad XV ini berbunyi, “Ingatlah, ya Perawan Maria yang sangat rahim, bahwa belum pernah terdengar engkau meninggalkan orang yang mencari perlindunganmu, yang memohon pertolonganmu, yang meminta perantaraanmu. Terdorong oleh kepercayaan itu kami datang berlindung kepadamu, ya Perawan segala perawan dan Bunda. Aku datang kepadamu, aku orang berdosa meniarap di hadapanmu sambil mengeluh. Bunda Sang Sabda, janganlah kau tolak permohonanku, tetapi dengarkanlah dengan rela hati dan kabulkanlah. Amin.”
Setiap mengakhiri devosi ini, kami mengucapkan, “O Bunda yang baik, terima kasih atas bimbinganmu. Di hadapanmu kami memohon kelancaran dalam kelangsungan penggalangan dana nanti. Kiranya engkau sudi menolong kami dan meneguhkan kami demi suksesnya impian kami ini. Kami percaya kepadamu, ya Bunda.”
Seperti ada suatu kekuatan magis, teman-teman saya pun kembali bersemangat untuk berlatih dan nuansa kekeluargaan kembali menyelimuti kami. Intensi doa Memorare ini juga ditujukan untuk keberhasilan penggalangan dana di Paroki St. Matias Cinere, Keuskupan Bogor.
Bagi saya, suara-suara merdu yang mengalun selama kami bernyanyi hingga terkumpulnya dana yang bahkan melebihi target adalah suatu keajaiban. Kami sangat bahagia akan hasil kerja keras dan berkat pertolongan Bunda Maria sehingga hal ini dapat terjadi. Sejak pengalaman tersebut, doa Memorare menjadi bagian dari devosi hidup saya. Ketika ada problem, saya percaya akan pertolongan Bunda Maria melalui doa tersebut. Tak pelak, doa ini semakin mendekatkan saya dengan Bunda Maria, Bunda Allah.
Leonardus Bima Laiyanan, Seminari Menengah Stella Maris Bogor





