Berbagi Beban, Wujudkan Kerajaan Allah di Tengah Dunia

Pelita509 Views

Gotong royong adalah warisan luhur bangsa Indonesia. Bukan sekadar kerja bakti atau bantu-membantu dalam kegiatan kampung, melainkan nilai hidup yang menjiwai cara kita berelasi satu sama lain—sebagai sesama manusia, warga bangsa, dan ciptaan Tuhan. Nilai ini diangkat dalam perbincangan budaya bersama Titus Tri Wibowo, Dr. Agustinus Wisnu Dewantara, dan Dr. Andes Yusuf dalam sebuah siniar yang diunggah channel YouTube DW Philosophy.

Dr. Wisnu mengisahkan bagaimana Presiden Soekarno meringkas Pancasila menjadi Trisila, lalu akhirnya menyederhanakannya menjadi Ekasila, yaitu gotong royong. Bagi Soekarno, gotong royong bukanlah sembarang konsep—tetapi inti dari Pancasila, dan dengan itu inti dari bangsa Indonesia.

Lebih dalam lagi, Dr. Andes menyebut gotong royong sebagai kekuatan spiritual bangsa. Ia menyoroti bagaimana kerja sama, kebersamaan, dan saling tolong-menolong telah lama menjadi napas masyarakat Indonesia. Inilah kekhasan kita sebagai bangsa yang tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga berjalan bersama dalam suka dan duka.

Namun, pada era globalisasi dan teknologi yang kian canggih, nilai ini menghadapi tantangan besar. Individualisme tumbuh. Orang-orang makin sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan dalam satu rumah, setiap anggota keluarga bisa tenggelam dalam layar ponselnya masing-masing. Aktivitas bersama perlahan memudar, termasuk di lingkungan sosial.

Meski demikian, harapan tetap ada. Justru teknologi yang sering dianggap menjauhkan, bisa pula menjadi jembatan. Media sosial, grup percakapan, dan platform digital lainnya dapat menjadi alat untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong—asal digunakan dengan niat yang benar.

Dalam terang iman Kristiani, gotong royong sejalan dengan ajaran Yesus. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (bdk. Mrk. 10:45). Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, memberi makan orang banyak, dan merangkul mereka yang terpinggirkan.

Yesus tidak hanya mengajarkan kasih dalam kata, tetapi dalam perbuatan nyata—itulah bentuk tertinggi gotong royong: saling menanggung beban (Gal. 6:2). Ketika kita bekerja sama, berbagi beban, dan membangun komunitas yang penuh kasih, kita sedang mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Dalam keluarga, semangat gotong royong bisa diwujudkan lewat perhatian kecil: saling mendengar, bekerja sama dalam tanggung jawab rumah tangga, dan menyempatkan waktu untuk berdoa bersama. Dalam lingkungan sosial, hal ini bisa menjadi aksi nyata pelayanan, baik dalam Gereja maupun masyarakat luas.

Nilai gotong royong tidak akan hilang jika kita terus merawatnya—dalam keluarga, lingkungan, dan pelayanan. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai kekeluargaan, persaudaraan, dan kepedulian tidak boleh padam.

Sebagai orang muda Katolik, ini adalah panggilan. Bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi mewujudkan iman. Iman yang hidup, yang bekerja lewat kasih (Gal. 5:6), dan mewujud lewat gotong royong yang nyata.

Grefa Evandisa (Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *